Infeksi Cacing – Apa Saja yang Harus Kita Tahu

Masih terbayang di benak saya, betapa sedihnya seorang Bibi dari Sukabumi, Jawa Barat, meneteskan air mata di pojok kamar rumahnya yang sederhana. “Andai saja saya tahu lebih awal… andai Raya tak harus bermain tanah tanpa alas kaki, tidak mengalami infeksi cacing. Mungkin anak saya masih ada.” Kata-kata itu terekam jelas, ditingkahi suara isak yang pelan, tapi memilukan. Benarkah seorang anak meningggal karena kecacingan?

Ilustrasi cacing di dalam usus
Ilustrasi cacing di dalam usus

Hari-hari Raya berlalu dengan keluhan perut buncit dan rasa lemah. Bibinya sempat berpikir, “hanya masuk angin biasa.” Raya juga sering tampak pucat, batuk, kerap mengeluh sulit bernafas, dan semakin hari semakin kurus. Hingga suatu malam, kondisi tubuh Raya memburuk. Ia tak sadarkan diri, lalu dilarikan ke rumah sakit dengan bantuan relawan sosial. Air mata sang Bibi tak terbendung ketika dokter mengeluarkan lebih dari 1 kilogram cacing hidup dari tubuh kecil Raya, bahkan sebagian keluar dari hidung, mulut, hingga anus—pemandangan yang sulit dipercaya.

 

Sayangnya, upaya tim medis tak mampu menyelamatkan nyawa Raya. Ia menghembuskan napas terakhirnya setelah dirawat intensif selama beberapa hari.

 

Benarkah Infeksi Cacing Menyebabkan Kematian?

Sebagai seorang dokter, setelah kejadian ini, sering saya ditanya: “Dok, benarkah cacingan bisa membunuh?” Kisah Raya menjadi jawaban pahitnya—ya, kecacingan bisa berakibat fatal, terutama pada anak-anak dengan gizi kurang dan lingkungan yang buruk.

Ilustrasi infeksi cacing bisa berbahaya
Ilustrasi infeksi cacing bisa berbahaya

Cacing gelang (Ascaris lumbricoides) masuk ke tubuh melalui makanan/minuman yang terkontaminasi telur cacing, atau saat anak bermain di tanah lalu memasukkan jari ke mulut sebelum mencuci tangan. Cacing-cacing ini tumbuh dan berkembang biak di usus, menyerap semua nutrisi yang mestinya untuk pertumbuhan anak. Dalam kasus ekstrem, jumlahnya bisa mencapai ratusan hingga ribuan ekor sehingga menyebabkan penyumbatan usus, pendarahan, bahkan gagal napas atau infeksi organ vital.’

 

Lebih menyedihkan, infeksi cacing sering kali tidak langsung terasa. Anak tampak lesu, berat badan tak naik, sering sakit perut, rentan diare, atau bahkan terlihat stunting (pertumbuhan terhambat). Banyak orang tua, apalagi di pedesaan, sering menganggap ini “wajar” atau sekedar “masuk angin”—padahal itulah alarm kesehatan yang seharusnya tidak diabaikan.

 

Pentingnya Edukasi Kesehatan terkait Penyakit

Saya mengingat tatap putus asa Bibi Raya yang berkata, “Kami hanya buruh tani. Kami pikir cukup memberi makan dan kasih sayang.” Namun kenyataannya, keterbatasan ekonomi, kurangnya akses pada layanan kesehatan, serta minimnya edukasi kesehatan dasar menjadi jurang pemisah antara harapan dan kenyataan.

 

Sebagai dokter dan penulis, saya ingin menekankan: penyakit yang ‘terlihat sepele’ seperti infeksi cacing bisa mengambil nyawa buah hati jika lingkungan tidak mendukung pola hidup bersih dan sehat. Kejadian ini bukan sekadar cerita duka; inilah pelajaran bahwa edukasi kesehatan adalah hak semua anak bangsa, bukan hanya mereka yang tinggal di kota besar atau keluarga berkecukupan.

Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua dan Masyarakat?

Pembelajaran dari tragedi ini harus kita bawa sebagai perubahan nyata. Berikut langkah sederhana yang dapat dilakukan keluarga dan masyarakat:

  • Biasakan anak mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan setelah bermain.

  • Pastikan anak memakai alas kaki, terutama jika bermain di luar rumah.

  • Cuci bersih bahan makanan, terutama sayuran dan buah, hingga matang sebelum dikonsumsi.

  • Rutin memberikan obat cacing pada anak setiap 6 bulan, terutama bagi mereka yang tinggal di daerah dengan sanitasi rendah.

  • Perhatikan gejala anemia, nafsu makan buruk, berat badan sulit naik, serta perut buncit pada anak. Jika muncul gejala, segera konsultasikan ke fasilitas kesehatan terdekat.

 

Pesan dr. Rifan

Selalu katakan bahwa mencegah jauh lebih murah dibanding mengobati. Jadilah alarm hidup bagi keluarga: jangan abaikan keluhan kecil pada anak.

 

Tragedi seperti yang dialami keluarga Raya seharusnya tidak terulang. Bersama, kita bisa menjaga masa depan generasi bangsa dari bahaya infeksi cacing hanya dengan langkah sederhana namun konsisten.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terkait

Lahir di Aek Kanopan, Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara, 29 Oktober 1992. Menyelesaikan pendidikan dasar dan menengahnya di kota kelahiran lalu menyelesaikan pendidikan tingginya pada Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. dr. Rifan mendapatkan medali Emas pada Olimpiade Kedokteran Regional Sumatera Pertama untuk cabang Kardiovaskular-Respirologi dan menghantarkan dirinya menjadi Peringkat 1 Mahasiswa Berprestasi Universitas Syiah Kuala pada tahun 2013. Pada tahun 2014, ia mendapatkan penghargaan Peringkat 1 Mahasiswa Kedokteran Berprestasi Se-Sumatera dari ISMKI Wilayah I. Di tahun 2019, dr. Rifan mendapatkan penghargaan peserta terbaik 1 dalam Latihan Dasar CPNS Angkatan 3 Tahun 2019 di LPMP Sumatera Utara. dr. Rifan juga mendapat penghargaan peserta terbaik 1 dalam Pelatihan Kepemimpinan Administrator (PKA) Angkatan 4 tahun 2024 di PPSDM Kemendagri Regional Bukittinggi. Proyek Aksi Perubahan Kinerja Organisasi dr. Rifan pada PKA tersebut yang berjudul Departemen Pengalaman Pasien RSUD Aek Kanopan (DEPAN RS) juga mendapat peringkat 1 Lomba Inovasi OPD Tingkat Kabupaten Labuhanbatu Utara Tahun 2025. dr. Rifan terpilih untuk mengikuti pelatihan Reformers Academy Batch 2 dari Lembaga Administrasi Negara dan KTM Solusions. Selain itu, dr. Rifan juga aktif menulis artikel kedokteran dan kesehatan baik pada situs pribadi drrifan.id dan beberapa situs lainnya. Di samping itu beliau juga sedang mengembangkan beberapa pelatihan yaitu Pelatihan Teknik Belajar dan Public Speaking untuk Pelayanan Kesehatan Prima (Public Speaking for Healthcare Service Excellent).