Beberapa hari lalu, saya sedang membeli vitamin di apotek ketika seorang bapak masuk dan langsung meminta obat asam urat kepada petugas apotek. Kemudian saya bertanya dan mendapat jawaban yang sedikit menggelitik. “Buat stok obat asam urat lebaran, Pak,” jawab pembeli obat sambil tersenyum.

Saya juga tidak bisa menahan senyum. Bukan karena lucu, melainkan karena saya paham betul apa yang dia rasakan. Lebaran memang identik dengan makan besar, hidangan melimpah, dan silaturahmi yang hangat. Tapi bagi penderita asam urat, momen yang paling ditunggu-tunggu itu bisa berubah menjadi mimpi buruk jika tidak waspada.
Dan ternyata, banyak orang yang mengalami hal yang sama. Setiap kali Lebaran tiba, kunjungan ke klinik dan IGD karena serangan asam urat selalu meningkat.
Lalu apa sebenarnya yang membuat asam urat begitu mudah kambuh di hari raya? Dan apa yang bisa kita lakukan agar Lebaran tetap bisa dinikmati sepenuhnya?
Asam urat (uric acid) adalah produk akhir dari metabolisme purin, yaitu senyawa yang ditemukan secara alami dalam sel tubuh dan juga dalam berbagai jenis makanan. Normalnya, asam urat larut dalam darah, difiltrasi oleh ginjal, dan dikeluarkan melalui urine.

Masalah muncul ketika kadar asam urat dalam darah terlalu tinggi, kondisi yang disebut hiperurisemia (kadar asam urat darah lebih dari 7 mg/dL pada pria dan lebih dari 6 mg/dL pada wanita). Ketika asam urat berlebih, kristal berbentuk jarum (kristal monosodium urat/MSU) mulai mengendap di sendi dan jaringan sekitarnya.
Saat sistem imun tubuh mendeteksi kristal ini sebagai benda asing, ia melancarkan serangan peradangan. Inilah yang menyebabkan sendi tiba-tiba menjadi merah, bengkak, panas, dan nyeri luar biasa, bahkan hanya sentuhan selimut pun sudah terasa menyiksa.
Ini bukan kebetulan. Ada alasan ilmiah yang sangat jelas mengapa serangan asam urat melonjak saat Lebaran.
1. Pesta makanan tinggi purin
Sajian khas Lebaran hampir semuanya adalah pantangan utama penderita asam urat. Rendang sapi, gulai kambing, opor ayam, sate jeroan, empal, paru goreng, hingga hidangan seafood seperti udang dan cumi, semuanya mengandung purin dalam kadar tinggi. Ketika semua makanan ini dikonsumsi sekaligus dalam jumlah besar selama beberapa hari berturut-turut, kadar asam urat darah melonjak drastis dan memicu serangan.
2. Konsumsi minuman manis dan beralkohol
Minuman bersoda dan minuman manis mengandung fruktosa tinggi yang terbukti meningkatkan produksi asam urat secara signifikan. Begitu pula alkohol, terutama bir, yang mengandung purin tinggi sekaligus menghambat pembuangan asam urat melalui ginjal.
3. Kurang minum air putih
Di tengah kesibukan bersilaturahmi, orang sering lupa minum air putih yang cukup. Dehidrasi menyebabkan konsentrasi asam urat dalam darah meningkat dan mempermudah pembentukan kristal di sendi.
4. Kelelahan dan kurang tidur
Rangkaian kegiatan Lebaran yang padat, mudik, silaturahmi, dan begadang menyebabkan tubuh kelelahan. Stres fisik ini memicu peningkatan kadar asam urat dan melemahkan kemampuan tubuh mengelola peradangan.
5. Lupa minum obat rutin
Bagi yang sudah mendapat terapi jangka panjang seperti allopurinol, kesibukan Lebaran sering membuat jadwal minum obat terlupakan. Akibatnya, kadar asam urat yang selama ini terkontrol tiba-tiba melonjak kembali.
Serangan asam urat akut memiliki gambaran klinis yang cukup khas dan berbeda dari nyeri sendi biasa. Kenali tanda-tandanya:
Gejala khas serangan asam urat akut:
Jika Anda mengalami gejala seperti ini, terutama setelah pesta makan besar, kemungkinan besar itu adalah serangan asam urat.
Banyak orang tidak tahu bahwa kadar asam urat normal pada pria dan wanita berbeda:
| Kelompok | Kadar Normal | Disebut Hiperurisemia jika |
|---|---|---|
| Pria dewasa | 3,4 hingga 7,0 mg/dL | Lebih dari 7,0 mg/dL |
| Wanita dewasa | 2,4 hingga 6,0 mg/dL | Lebih dari 6,0 mg/dL |
| Wanita pascamenopause | Mendekati kadar pria | Lebih dari 7,0 mg/dL |
Penting dipahami: hiperurisemia tidak selalu langsung menyebabkan serangan. Banyak orang dengan kadar asam urat tinggi tidak pernah merasakan nyeri sendi. Namun risiko serangan, batu ginjal, dan kerusakan sendi jangka panjang tetap ada.
Berikut panduan praktis yang bisa Anda jadikan pegangan selama hari raya:
Hindari atau batasi ketat (purin sangat tinggi):
Batasi porsinya (purin sedang):
Aman dikonsumsi (purin rendah):
Saya tidak akan menyuruh Anda berpuasa dari semua makanan enak saat Lebaran. Itu tidak realistis dan tidak perlu. Yang diperlukan adalah strategi yang cerdas:
1. Terapkan prinsip “sedikit tapi pasti”
Anda tetap boleh mencicipi rendang atau sate. Kuncinya pada porsi. Ambil sepotong kecil, nikmati dengan sadar, lalu perbanyak nasi, sayur, dan lauk rendah purin.
2. Minum air putih sebelum makan
Minum 2 gelas air putih sebelum duduk di meja makan membantu menurunkan konsentrasi asam urat dalam darah dan menjaga hidrasi sepanjang hari.
3. Tetap minum obat rutin
Jika Anda sudah mendapat allopurinol atau obat pengontrol asam urat lainnya dari dokter, jangan pernah berhenti minum hanya karena hari raya. Justru inilah saat Anda paling membutuhkannya.
4. Jauhi minuman manis dan bersoda
Ganti dengan air putih, air kelapa muda, atau teh tanpa gula. Kandungan fruktosa dalam minuman manis adalah salah satu pemicu kenaikan asam urat yang paling sering diabaikan.
5. Sisipkan waktu istirahat yang cukup
Di sela-sela silaturahmi yang padat, pastikan Anda tidur cukup. Kelelahan fisik adalah faktor pencetus serangan yang sering diremehkan.
Jika serangan sudah terlanjur datang meski sudah berusaha mencegah, berikut yang bisa dilakukan:
Yang perlu diingat: Obat asam urat seperti allopurinol tidak boleh dimulai saat serangan akut sedang berlangsung karena bisa memperparah serangan. Allopurinol adalah obat untuk mencegah serangan berikutnya, bukan mengobati serangan yang sedang terjadi.
Karena banyak informasi keliru yang beredar tentang asam urat, izinkan saya meluruskan beberapa yang paling sering saya dengar:
Mitos 1: “Asam urat hanya menyerang orang tua”
Tidak benar. Asam urat bisa menyerang dewasa muda, bahkan usia 20-an, terutama pada pria dengan pola makan tinggi purin dan kurang minum air.
Mitos 2: “Penderita asam urat tidak boleh makan tahu dan tempe sama sekali”
Tidak sepenuhnya benar. Tahu dan tempe mengandung purin sedang, masih bisa dikonsumsi dalam porsi wajar. Yang benar-benar harus dihindari adalah jeroan dan seafood.
Mitos 3: “Kalau asam urat sudah tidak nyeri, obat boleh dihentikan”
Ini berbahaya. Allopurinol bekerja dengan menjaga kadar asam urat tetap rendah secara konsisten. Menghentikannya saat sudah tidak nyeri justru membuat kadar asam urat naik lagi dan memicu serangan baru.
Mitos 4: “Pegal-pegal di seluruh tubuh itu asam urat”
Tidak benar. Asam urat menyebabkan nyeri pada sendi tertentu yang khas dan spesifik, bukan pegal merata di seluruh tubuh. Pegal umum lebih sering disebabkan oleh kelelahan, fibromialgia, atau kondisi lain.
Saya memahami betapa nikmatnya hidangan Lebaran setelah sebulan berpuasa. Dan saya tidak bermaksud menghalangi Anda menikmatinya.
Yang ingin saya sampaikan adalah: Anda tidak harus memilih antara menikmati Lebaran atau kesehatan Anda. Dengan pengetahuan yang tepat, keduanya bisa berjalan berdampingan.
Bapak di apotek tadi mungkin sudah sangat paham risiko yang akan dia hadapi. Dia mempersiapkan diri dengan menyetok obat. Itu boleh. Tapi akan jauh lebih baik jika persiapan itu dilengkapi dengan pengetahuan tentang makanan apa yang harus dibatasi, cara menjaga hidrasi, dan strategi menikmati hidangan Lebaran tanpa harus membayar harganya dengan nyeri sendi yang menyiksa.
Selamat menyambut Hari Raya. Semoga sehat selalu, sendi tetap nyaman, dan silaturahmi tetap hangat.
Semoga bermanfaat. Jika Anda memiliki pertanyaan seputar asam urat atau kesehatan lainnya, jangan ragu berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan terdekat.
dr. Rifan Eka Putra Nasution
drrifan.id
Yao TK, Lee RP, Wu WT, Chen IH, Yu TC, Yeh KT. Advances in Gouty Arthritis Management: Integration of Established Therapies, Emerging Treatments, and Lifestyle Interventions. Int J Mol Sci. 2024 Oct 9;25(19):10853. doi: 10.3390/ijms251910853. PMID: 39409183. PMC11477016.
Dalbeth N, Gosling AL, Gaffo A, Abhishek A. Gout and its management. Intern Med J. 2024;54(3):365-376. doi: 10.1111/imj.16382. PMID: 38414095.
Afinogenova Y, Doghramji K, Seehaus A. Update on Gout Management: What’s Old and What’s New. Curr Rheumatol Rep. 2022 Feb 28;24(3):54-64. doi: 10.1007/s11926-022-01059-5. PMID: 35220585. PMC8799507.
Yokose C, McCormick N, Choi HK. The Role of Diet in Hyperuricemia and Gout. Curr Opin Rheumatol. 2021 Mar;33(2):135-144. doi: 10.1097/BOR.0000000000000779. PMID: 33394787. PMC7886025.