Fisiologi Kedokteran Lengkap

DRRIFAN.ID · INTERACTIVE MEDICAL LEARNING

Fisiologi Kedokteran Lengkap

Pahami mekanisme, bukan sekadar menghafal. Jelajahi fisiologi manusia dari membran sel hingga integrasi antarsistem.

Progress belajar0 dari 17 modul selesai
⌕
⚖️
FondasiDasar Fisiologi & Homeostasis
→
🧫
SelulerMembran Sel, Transport & Potensial Membran
→
🧠
SarafNeurofisiologi
→
🔁
SarafSistem Saraf Otonom
→
💪
MuskuloskeletalFisiologi Otot
→
❤️
KardiovaskularFisiologi Kardiovaskular
→
🩸
HematologiDarah, Hemostasis & Transport Oksigen
→
🫁
RespirasiFisiologi Respirasi
→
🫘
RenalFisiologi Ginjal
→
💧
HomeostasisCairan Tubuh, Elektrolit & Asam-Basa
→
🍽️
GastrointestinalFisiologi Gastrointestinal
→
🧪
EndokrinFisiologi Endokrin
→
🧬
ReproduksiFisiologi Reproduksi
→
👁️
IndraFisiologi Sensorik
→
🌡️
IntegratifTermoregulasi & Fisiologi Latihan
→
🌙
NeuroendokrinTidur & Ritme Sirkadian
→
🧩
IntegratifIntegrasi Sistem: Respons terhadap Syok, Olahraga & Puasa
→
Fondasi

⚖️ Dasar Fisiologi & Homeostasis

Fisiologi mempelajari bagaimana sel, jaringan, organ, dan sistem tubuh bekerja serta berkoordinasi untuk mempertahankan lingkungan internal yang stabil secara dinamis.

  • Homeostasis adalah kestabilan dinamis, bukan kondisi yang benar-benar statis.
  • Loop kontrol umumnya terdiri dari sensor, pusat integrasi, dan efektor.
  • Umpan balik negatif mengurangi deviasi dari set point; umpan balik positif memperkuat proses sampai titik terminasi.
  • Variabel penting: suhu, tekanan darah, pH, glukosa, osmolalitas, O₂, CO₂, dan volume cairan.

Alur kontrol: perubahan variabel → reseptor mendeteksi → sinyal aferen → pusat integrasi membandingkan dengan rentang fisiologis → sinyal eferen → efektor menghasilkan respons. Contoh klasik adalah refleks baroreseptor yang menstabilkan tekanan arteri dari detik ke detik.

Gain sistem kontrol ≈ koreksi / sisa error
Set point ≠ angka absolut; banyak variabel mengikuti ritme sirkadian dan konteks fisiologis.
Clinical correlation

Demam bukan sekadar hipertermia. Pada demam, set point termoregulasi hipotalamus bergeser ke atas; pada hipertermia, set point tidak berubah tetapi produksi/paparan panas melebihi kemampuan pelepasan panas.

Seluler

🧫 Membran Sel, Transport & Potensial Membran

Perbedaan konsentrasi ion dan permeabilitas membran menciptakan gradien elektrokimia yang menjadi dasar eksitabilitas sel.

  • Difusi sederhana mengikuti gradien konsentrasi; difusi terfasilitasi membutuhkan protein pembawa atau kanal.
  • Transport aktif primer memakai ATP secara langsung, misalnya Na⁺/K⁺-ATPase.
  • Transport aktif sekunder memanfaatkan energi gradien ion lain, misalnya kotranspor Na⁺-glukosa.
  • Potensial istirahat terutama dipengaruhi gradien K⁺ dan permeabilitas membran terhadap K⁺.

Potensial aksi neuron: ambang tercapai → kanal Na⁺ berpintu tegangan membuka → depolarisasi cepat → kanal Na⁺ inaktivasi dan kanal K⁺ membuka → repolarisasi → hiperpolarisasi relatif → kembali ke keadaan istirahat. Periode refrakter membatasi frekuensi impuls dan membantu propagasi satu arah.

Nernst: Eion = (RT/zF) ln([ion]o/[ion]i)
Pada 37°C untuk ion monovalen: E ≈ 61/z × log10(Co/Ci) mV
Osmosis ditentukan oleh jumlah partikel osmotik efektif, bukan ukuran partikel.
Clinical correlation

Hiperkalemia mengurangi gradien K⁺ dan membuat potensial membran istirahat kurang negatif. Pada kadar tinggi, depolarisasi menetap dapat menginaktivasi kanal Na⁺ dan mengganggu konduksi.

Saraf

🧠 Neurofisiologi

Sistem saraf mengkode informasi melalui perubahan potensial membran, frekuensi potensial aksi, transmisi sinaptik, dan integrasi jaringan neuron.

  • Potensial aksi bersifat all-or-none, tetapi intensitas stimulus dapat dikodekan melalui frekuensi tembakan.
  • Mielin meningkatkan kecepatan konduksi melalui konduksi saltatori di nodus Ranvier.
  • Sinaps kimia menggunakan neurotransmiter; sinaps listrik memakai gap junction.
  • EPSP dan IPSP dijumlahkan secara temporal dan spasial pada neuron postsinaptik.

Sinaps kimia: potensial aksi terminal presinaptik → kanal Ca²⁺ membuka → Ca²⁺ masuk → vesikel berfusi → neurotransmiter dilepas → reseptor postsinaptik aktif → perubahan konduktansi ion → eksitasi atau inhibisi.

Kecepatan konduksi meningkat dengan diameter akson dan mielinisasi.
Refrakter absolut: tidak dapat membangkitkan potensial aksi baru; refrakter relatif: membutuhkan stimulus lebih kuat.
Clinical correlation

Demyelinisasi memperlambat atau memblok transmisi saltatori. Manifestasi klinis bergantung pada traktus dan sistem saraf yang terdampak.

Saraf

🔁 Sistem Saraf Otonom

Sistem saraf otonom mengatur fungsi viseral melalui cabang simpatis, parasimpatis, dan sistem enterik.

  • Semua neuron preganglionik simpatis dan parasimpatis menggunakan asetilkolin pada reseptor nikotinik.
  • Kebanyakan neuron postganglionik simpatis menggunakan norepinefrin; pengecualian penting adalah kelenjar keringat yang menggunakan asetilkolin.
  • Parasimpatis postganglionik menggunakan asetilkolin pada reseptor muskarinik.
  • Respons organ ditentukan subtipe reseptor, bukan sekadar jenis neurotransmiter.

Simpatis: meningkatkan kesiapan sirkulasi dan metabolik melalui peningkatan denyut jantung, kontraktilitas, redistribusi aliran darah, dan mobilisasi substrat energi. Parasimpatis: dominan pada fungsi restoratif seperti pencernaan, sekresi, dan penurunan denyut jantung.

α1: umumnya kontraksi otot polos vaskular
β1: peningkatan kronotropi dan inotropi jantung
β2: relaksasi otot polos bronkus dan beberapa vaskular
M2: efek utama parasimpatis pada jantung
M3: sekresi kelenjar dan kontraksi/relaksasi organ bergantung jaringan.
Clinical correlation

Respons terhadap agonis/antagonis otonom harus diprediksi berdasarkan reseptor dan organ target. Contoh: aktivasi β2 pada bronkus menyebabkan bronkodilatasi.

Muskuloskeletal

💪 Fisiologi Otot

Kontraksi otot mengubah energi kimia ATP menjadi gaya mekanik melalui interaksi aktin-miosin.

  • Sarkomer terbentang dari garis Z ke garis Z dan merupakan unit kontraktil otot rangka.
  • Ca²⁺ berikatan dengan troponin C sehingga tropomiosin bergeser dan situs aktin terbuka.
  • ATP diperlukan untuk melepaskan kepala miosin dari aktin dan mengokang kembali kepala miosin.
  • Pada kontraksi konsentris otot memendek; eksentris menghasilkan gaya saat otot memanjang.

Excitation-contraction coupling: potensial aksi → tubulus T → reseptor dihidropiridin → pelepasan Ca²⁺ dari retikulum sarkoplasma melalui reseptor rianodin → cross-bridge cycling → Ca²⁺ dipompa kembali oleh SERCA → relaksasi.

Gaya otot dipengaruhi panjang awal sarkomer, frekuensi stimulasi, dan jumlah unit motorik aktif.
Otot polos terutama menggunakan Ca²⁺-kalmodulin → MLCK, bukan troponin.
Clinical correlation

Rigor mortis terjadi ketika ATP tidak lagi tersedia untuk melepaskan ikatan aktin-miosin. Relaksasi normal membutuhkan ATP, bukan hanya kontraksi.

Kardiovaskular

❤️ Fisiologi Kardiovaskular

Sistem kardiovaskular mempertahankan perfusi jaringan melalui interaksi denyut jantung, volume sekuncup, tonus vaskular, volume darah, dan kontrol neurohumoral.

  • Cardiac output (CO) adalah hasil kali heart rate (HR) dan stroke volume (SV).
  • Stroke volume dipengaruhi preload, afterload, dan kontraktilitas.
  • Hukum Frank-Starling: dalam rentang fisiologis, peningkatan pengisian ventrikel meningkatkan gaya kontraksi dan SV.
  • Mean arterial pressure terutama dipengaruhi CO dan systemic vascular resistance.

Siklus jantung: pengisian ventrikel → kontraksi atrium → kontraksi isovolumetrik → ejeksi → relaksasi isovolumetrik → pengisian kembali. Katup membuka atau menutup akibat gradien tekanan, bukan karena kontraksi aktif katup.

CO = HR × SV
SV = EDV − ESV
EF = SV / EDV × 100%
MAP ≈ DBP + 1/3(SBP−DBP) pada HR normal
Flow (Q) = ΔP/R
Poiseuille: R ∝ 1/r⁴
Clinical correlation

Perubahan kecil radius arteriol dapat menghasilkan perubahan resistensi yang besar karena radius berpangkat empat pada hubungan Poiseuille.

Hematologi

🩸 Darah, Hemostasis & Transport Oksigen

Darah berfungsi sebagai medium transport gas, nutrien, hormon, panas, serta komponen hemostasis dan pertahanan tubuh.

  • Hemoglobin mengangkut sebagian besar O₂; hanya sebagian kecil O₂ terlarut dalam plasma.
  • Kurva disosiasi Hb-O₂ bergeser ke kanan saat H⁺, CO₂, suhu, atau 2,3-BPG meningkat.
  • Hemostasis primer membentuk platelet plug; hemostasis sekunder menstabilkannya dengan fibrin.
  • Eritropoietin dari ginjal meningkat saat sensing oksigen jaringan rendah.

Bohr effect: peningkatan CO₂/H⁺ menurunkan afinitas hemoglobin terhadap O₂ sehingga memudahkan pelepasan O₂ di jaringan yang aktif secara metabolik.

CaO₂ ≈ (1.34 × Hb × SaO₂) + (0.003 × PaO₂)
DO₂ = CO × CaO₂ × 10
Hematokrit memengaruhi viskositas darah dan kapasitas membawa O₂.
Clinical correlation

PaO₂ yang normal tidak menjamin kandungan O₂ darah normal bila hemoglobin sangat rendah. Kandungan O₂ terutama ditentukan Hb dan saturasi.

Respirasi

🫁 Fisiologi Respirasi

Respirasi mencakup ventilasi, difusi alveolar-kapiler, perfusi, transport gas, serta kontrol neural dan kimia terhadap pernapasan.

Pertukaran gas pada alveolus

Ilustrasi: Wikimedia Commons · Gas exchange in the aveolus.svg · Domdomegg · CC BY 4.0.

  • Ventilasi alveolar ditentukan volume tidal efektif setelah dikurangi dead space.
  • Difusi gas mengikuti gradien tekanan parsial dan dipengaruhi luas permukaan serta ketebalan membran.
  • Kesesuaian ventilasi-perfusi (V/Q) penting untuk pertukaran gas efisien.
  • CO₂ merupakan penggerak penting ventilasi melalui efek terhadap pH cairan serebrospinal.

Inspirasi tenang: kontraksi diafragma meningkatkan volume toraks → tekanan pleura menjadi lebih negatif → tekanan alveolar turun → udara masuk. Ekspirasi tenang terutama pasif akibat elastic recoil.

Minute ventilation = VT × RR
Alveolar ventilation = (VT − VD) × RR
Compliance = ΔV/ΔP
PAO₂ ≈ FiO₂(Patm−PH₂O) − PaCO₂/R
Clinical correlation

Hipoventilasi alveolar menaikkan PaCO₂. Pada kondisi steady state, PaCO₂ berbanding terbalik dengan ventilasi alveolar.

Renal

🫘 Fisiologi Ginjal

Ginjal mengontrol volume cairan, osmolalitas, elektrolit, asam-basa, tekanan darah, ekskresi metabolit, serta fungsi endokrin.

  • Ekskresi = filtrasi − reabsorpsi + sekresi.
  • GFR ditentukan oleh koefisien filtrasi dan tekanan filtrasi bersih glomerulus.
  • Tubulus proksimal mereabsorpsi fraksi besar Na⁺, air, bikarbonat, glukosa, dan asam amino.
  • ADH meningkatkan permeabilitas air duktus kolektivus; aldosteron meningkatkan reabsorpsi Na⁺ dan sekresi K⁺ pada segmen distal tertentu.

Konsentrasi urin: countercurrent multiplication membentuk gradien osmotik medula; urea ikut mendukung hiperosmolalitas medula; ADH memungkinkan air mengikuti gradien melalui aquaporin pada duktus kolektivus.

Clearance x = (Ux × V) / Px
Filtered load = GFR × Px
Excretion rate = Ux × V
FeNa (%) = (UNa × PCr)/(PNa × UCr) × 100
Clinical correlation

Kreatinin digunakan sebagai pendekatan GFR tetapi dipengaruhi produksi kreatinin, massa otot, dan sekresi tubular. eGFR adalah estimasi, bukan pengukuran langsung GFR.

Homeostasis

💧 Cairan Tubuh, Elektrolit & Asam-Basa

Distribusi air dan elektrolit antara kompartemen tubuh dikendalikan oleh osmosis, tonisitas, ginjal, sistem hormonal, serta buffer asam-basa.

  • Cairan intrasel merupakan kompartemen air terbesar; cairan ekstrasel terdiri terutama dari interstisial dan plasma.
  • Na⁺ adalah kation utama ECF; K⁺ adalah kation utama ICF.
  • Tonisitas menggambarkan efek osmolit efektif terhadap volume sel.
  • Sistem buffer bikarbonat, paru, dan ginjal bekerja pada skala waktu berbeda untuk mempertahankan pH.

Asam-basa: buffer bekerja dalam detik, paru mengubah eliminasi CO₂ dalam menit, sedangkan ginjal mereabsorpsi/menambah HCO₃⁻ dan mengekskresikan asam dalam jam hingga hari.

Henderson-Hasselbalch: pH = 6.1 + log(HCO₃⁻/(0.03×PaCO₂))
Calculated serum osmolarity ≈ 2Na + glucose/18 + BUN/2.8
Anion gap = Na − (Cl + HCO₃)
Clinical correlation

Koreksi gangguan asam-basa memerlukan identifikasi gangguan primer, kompensasi yang diharapkan, dan kemungkinan gangguan campuran. Kalkulator edukasi tidak menggantikan interpretasi klinis.

Gastrointestinal

🍽️ Fisiologi Gastrointestinal

Sistem gastrointestinal mengintegrasikan motilitas, sekresi, pencernaan, absorpsi, sirkulasi splanknik, dan kontrol neuroendokrin.

  • Sistem saraf enterik memiliki sirkuit lokal yang dapat bekerja relatif independen namun dimodulasi sistem otonom.
  • Sel parietal lambung menghasilkan HCl melalui H⁺/K⁺-ATPase dan juga intrinsic factor.
  • Sekretin terutama merangsang sekresi bikarbonat pankreas; CCK merangsang sekresi enzim pankreas dan kontraksi kandung empedu.
  • Absorpsi nutrien berlangsung melalui mekanisme transporter spesifik dan gradien elektrokimia.

Fase sekresi lambung: sefalik, gastrik, dan intestinal. Gastrin, histamin, dan asetilkolin bersinergi meningkatkan sekresi asam; somatostatin berperan sebagai rem penting.

SGLT1 mengangkut glukosa/galaktosa bersama Na⁺ di brush border enterosit.
Fruktosa terutama masuk melalui GLUT5; monosakarida keluar basolateral melalui transporter fasilitatif.
Clinical correlation

Diare sekretorik dan osmotik memiliki mekanisme berbeda. Pada diare osmotik, zat yang tidak terserap mempertahankan air di lumen; pada sekretorik terjadi sekresi elektrolit/air yang berlebihan.

Endokrin

🧪 Fisiologi Endokrin

Sistem endokrin memakai hormon untuk komunikasi jarak jauh dan mempertahankan metabolisme, pertumbuhan, reproduksi, stres, serta keseimbangan cairan dan mineral.

  • Hormon peptida umumnya bekerja melalui reseptor membran dan second messenger; hormon steroid/tiroid terutama melalui reseptor intraseluler/nuklir.
  • Sumbu hipotalamus-hipofisis menggunakan pola stimulasi dan negative feedback bertingkat.
  • Insulin mendorong penyimpanan dan penggunaan glukosa; glukagon membantu mempertahankan glukosa saat puasa.
  • Kortisol mendukung respons stres, metabolisme substrat, dan efek permisif pada sistem kardiovaskular.

Contoh sumbu HPA: CRH hipotalamus → ACTH hipofisis anterior → kortisol adrenal → negative feedback pada hipofisis dan hipotalamus. Ritme sirkadian memodulasi sekresi.

Hormon bebas umumnya merupakan fraksi biologis yang dapat berinteraksi dengan jaringan target.
Respons target bergantung konsentrasi hormon, reseptor, afinitas, dan signaling pascareseptor.
Clinical correlation

Pengukuran hormon harus mempertimbangkan waktu sampling, ritme biologis, protein pengikat, obat, dan hubungan antarhormon dalam satu sumbu.

Reproduksi

🧬 Fisiologi Reproduksi

Fungsi reproduksi dikendalikan oleh sumbu hipotalamus-hipofisis-gonad dan perubahan hormonal siklik atau perkembangan.

  • GnRH pulsatif mempertahankan sekresi LH/FSH; pola pulsa memengaruhi respons gonadotropin.
  • Pada ovarium, FSH mendukung perkembangan folikel dan aromatisasi; LH berperan pada sel teka, ovulasi, dan korpus luteum.
  • Lonjakan LH dipicu oleh positive feedback estrogen pada fase praeovulasi.
  • Pada testis, LH menstimulasi sel Leydig; FSH bekerja terutama pada sel Sertoli.

Siklus ovarium: fase folikular → ovulasi → fase luteal. Siklus endometrium: menstruasi → proliferatif → sekretorik. Perubahan steroid ovarium menghubungkan kedua siklus.

Durasi fase folikular lebih bervariasi; fase luteal cenderung lebih konsisten namun tidak identik pada semua individu.
Spermatogenesis memerlukan fungsi Sertoli, testosteron intratestikular, dan suhu testis yang sesuai.
Clinical correlation

Interpretasi LH, FSH, estradiol, progesteron, atau testosteron harus disesuaikan jenis kelamin biologis, usia, fase siklus, waktu sampling, serta konteks klinis.

Indra

👁️ Fisiologi Sensorik

Sistem sensorik mengubah energi fisik atau kimia menjadi sinyal saraf melalui transduksi reseptor dan memprosesnya dalam jalur khusus.

  • Reseptor sensorik memiliki modality, receptive field, threshold, dan karakter adaptasi.
  • Fotoreseptor retina mengalami hiperpolarisasi saat terkena cahaya.
  • Sel rambut koklea mengubah defleksi mekanik stereosilia menjadi sinyal listrik.
  • Lateral inhibition meningkatkan kontras spasial pada beberapa sistem sensorik.

Fototransduksi: cahaya mengaktifkan rhodopsin → transducin → phosphodiesterase → cGMP turun → kanal kation tertutup → fotoreseptor hiperpolarisasi → pelepasan glutamat berubah.

Akomodasi mata mengubah daya refraksi lensa untuk memfokuskan objek dekat.
Frekuensi suara berkaitan dengan pitch; amplitudo/tekanan suara berkaitan dengan intensitas yang dipersepsikan.
Clinical correlation

Defisit lapang pandang dapat membantu melokalisasi lesi sepanjang jalur visual, tetapi interpretasi klinis memerlukan pemeriksaan terstandar.

Integratif

🌡️ Termoregulasi & Fisiologi Latihan

Saat aktivitas atau paparan suhu berubah, sistem kardiovaskular, respirasi, metabolik, dan termoregulasi beradaptasi secara terintegrasi.

  • Hipotalamus mengintegrasikan informasi termal pusat dan perifer.
  • Pelepasan panas terjadi melalui radiasi, konduksi, konveksi, dan evaporasi.
  • Saat latihan, CO meningkat melalui kenaikan HR dan SV; ekstraksi O₂ jaringan juga meningkat.
  • Keringat efektif menurunkan suhu hanya jika dapat menguap; kelembapan tinggi mengurangi efektivitas evaporasi.

Panas: vasodilatasi kulit + keringat. Dingin: vasokonstriksi kulit + shivering + respons perilaku dan endokrin. Saat latihan, redistribusi aliran darah harus menyeimbangkan kebutuhan otot dan pembuangan panas.

Fick: VO₂ = CO × (CaO₂ − CvO₂)
Metabolic equivalent (MET) sering dipakai sebagai pendekatan biaya energi relatif aktivitas.
Clinical correlation

Heat stroke adalah kegawatdaruratan dengan hipertermia dan disfungsi sistem saraf pusat. Ini berbeda dari demam yang melibatkan perubahan set point termoregulasi.

Neuroendokrin

🌙 Tidur & Ritme Sirkadian

Tidur adalah keadaan fisiologis terorganisir dengan tahap NREM dan REM yang diatur oleh interaksi tekanan tidur homeostatik dan ritme sirkadian.

  • NREM dan REM berulang dalam siklus sepanjang malam.
  • N3 ditandai aktivitas gelombang lambat dan dominan pada bagian awal malam.
  • REM berhubungan dengan atonia otot rangka relatif, aktivitas otak tinggi, dan mimpi yang sering lebih vivid.
  • Nukleus suprachiasmatic berperan sebagai pacemaker sirkadian utama dan menerima input cahaya retina.

Model dua proses: proses homeostatik meningkat selama terjaga dan menurun saat tidur; proses sirkadian mengatur kecenderungan tidur-bangun berdasarkan waktu biologis dan sinkronisasi cahaya.

Melatonin merupakan sinyal biologis malam, bukan “obat tidur alami” sederhana.
Cahaya, jadwal aktivitas, makan, dan rutinitas dapat bertindak sebagai zeitgeber dengan kekuatan berbeda.
Clinical correlation

Kurang tidur dapat mengganggu kewaspadaan, memori, regulasi metabolik, dan performa. Penilaian gangguan tidur membutuhkan konteks durasi, kualitas, jadwal, gejala siang, dan faktor penyerta.

Integratif

🧩 Integrasi Sistem: Respons terhadap Syok, Olahraga & Puasa

Fisiologi klinis menjadi lebih mudah dipahami ketika beberapa sistem dianalisis sebagai satu jaringan kontrol yang saling memengaruhi.

  • Pada penurunan perfusi, barorefleks dan simpatis bekerja cepat; RAAS dan ADH memberi respons lebih lambat namun bertahan.
  • Saat olahraga dinamis, kebutuhan O₂ otot meningkat, ventilasi dan CO naik, dan aliran darah direstribusikan.
  • Saat puasa, insulin menurun relatif terhadap hormon kontra-regulator sehingga lipolisis dan produksi glukosa endogen meningkat.
  • Kompensasi fisiologis dapat mempertahankan variabel vital sementara penyebab primer tetap berlangsung.

Pendekatan integratif: tentukan gangguan primer → identifikasi sensor → jalur kontrol cepat → respons hormonal → efek organ target → tanda kompensasi → titik ketika kompensasi mulai gagal.

Perfusi organ ≈ gradien tekanan / resistensi vaskular organ.
Oxygen delivery = CO × arterial O₂ content.
Keseimbangan massa: input + produksi = output + akumulasi.
Clinical correlation

Tanda vital dapat tampak “masih normal” pada fase kompensasi awal. Memahami mekanisme kompensasi membantu menjelaskan mengapa perubahan klinis dapat muncul terlambat.

NEW IN VERSION 1.1

Interactive Physiology Lab

Ubah variabel, amati kurva, lalu hubungkan perubahan grafik dengan mekanisme fisiologinya. Semua simulasi bersifat edukatif dan disederhanakan.

01
Membran sel

Action Potential Simulator

Uji konsep threshold dan sifat all-or-none potensial aksi neuron.

mVwaktu
Model konseptual neuron. Amplitudo potensial aksi tidak meningkat sebanding dengan kekuatan stimulus setelah ambang tercapai.
02
Kardiovaskular

Wiggers Cardiac Cycle Explorer

Geser satu siklus jantung untuk melihat hubungan tekanan ventrikel, aorta, atrium, status katup, serta fase sistol-diastol.

AortaVentrikel kiriAtrium kiri
Fase
Katup mitral
Katup aorta
Peristiwa
03
Kardiovaskular

Pressure–Volume Loop

Eksplorasi efek preload, afterload, dan kontraktilitas terhadap EDV, ESV, stroke volume, dan ejection fraction.

Volume (mL)Pressure
ESV SV EF
04
Respirasi

Spirometry Pattern Lab

Bandingkan bentuk kurva volume-waktu edukatif untuk pola normal, obstruktif, dan restriktif.

1 swaktu
FVC FEV₁ FEV₁/FVC
Pola simulasi untuk memahami konsep. Interpretasi spirometri klinis memerlukan kualitas manuver, nilai prediksi/LLN, usia, tinggi, jenis kelamin, dan konteks pasien.
05
Respirasi & darah

Oxyhemoglobin Curve

Ubah P50 untuk memvisualisasikan perubahan afinitas hemoglobin terhadap oksigen.

PO₂SaO₂ %
← P50 turun: afinitas ↑, kurva ke kiriP50 naik: afinitas ↓, kurva ke kanan →
06
Ginjal

Renal Clearance Lab

Hitung clearance zat menggunakan hubungan C = U × V / P.

100 mL/min
Satuan U dan P harus sama. Clearance adalah volume plasma virtual yang dibersihkan dari zat per satuan waktu.
07
Asam-basa

Acid–Base Reasoning Trainer

Masukkan pH, PaCO₂, dan HCO₃⁻ untuk latihan mengenali arah gangguan primer serta kompensasi yang diharapkan.

Bukan alat diagnosis. Ini adalah trainer fisiologi sederhana. Gangguan campuran, status kronis/akut, albumin, anion gap, laktat, penyakit penyerta, dan konteks klinis tidak dapat disimpulkan hanya dari tiga angka ini.
KALKULATOR EDUKASI

Physiology Quick Calculators

Untuk memahami hubungan antarvariabel fisiologis. Bukan alat diagnosis atau keputusan terapi.

Mean Arterial Pressure

≈ 93.3 mmHgMAP ≈ DBP + ⅓(SBP−DBP), pendekatan pada denyut normal.

Cardiac Output

≈ 4.90 L/minCO = HR × SV.

Alveolar Ventilation

≈ 4.20 L/minV̇A = (VT−VD) × RR.

Calculated Osmolarity

≈ 290 mOsm/L≈ 2Na + glucose/18 + BUN/2.8.
ACTIVE RECALL

Uji Pemahaman Fisiologi

20 soal acak dari seluruh sistem. Jawaban dibahas langsung setelah dipilih.

REFERENSI

Sumber belajar & atribusi

Materi pada plugin ini merupakan ringkasan edukatif yang ditulis ulang berdasarkan konsep fisiologi standar. Untuk pembelajaran lebih mendalam, gunakan buku ajar dan sumber primer.

Disclaimer edukasi: Materi ini ditujukan untuk pembelajaran mahasiswa kedokteran dan tenaga kesehatan. Bukan pedoman diagnosis, terapi, dosis obat, atau pengganti penilaian klinis profesional.