Suatu kehormatan bagi saya dapat berbagi kelelahan dan pengalaman yang tidak dapat dilupakan dengan kalian selama 6 tahun. Izikanlah saya menulis sebuah renungan untuk kita semua. “Hidup adalah sebuah pilihan”. Memilih merupakan kekuatan terbesar manusia yang diberikan oleh sang pencipta. Kita semua telah memilih suatu kesempatan untuk berbagi berbagai halangan dan rintangan dalam beberapa tahun terakhir serta berharap dapat menggapai cita, harapan dan asa sebagaimana kita pada hari ini yang telah bersiap menyosong petualangan baru di hadapan kita semua.
Kita memulai pendidikan kedokteran ini dengan semangat. Semangat menggapai mimpi masa kecil atau realisasi ambisi orang tua. Kita berhasil diterima pada Fakultas Kedokteran. Siapa yang tidak senang? Tapi, Kita menyadari bahwa diperlukan tekat baja dan kerja keras untuk menjadi seorang dokter terbaik. Tetapi terkadang kita juga takut. Takut jika, “Bagaimana jika “mereka” mengetahui saya tidak terlalu pintar?” atau “wow, “Bonar” telah menyelesaikan membahas setengah silabus anatomi hanya dalam waktu setengah hari!”, kita takut orang lain lebih baik dari pada kita. Akan tetapi, apakah kita menyadari bahwa setiap dari kita adalah individu yang unik. Individu yang diapresiasi atas bakat yang berbeda dari masing-masing kita, dan kemudian kita mulai bangga dan nyaman dengan pemberian Allah SWT yang unik tersebut.
Izinkan saya kembali menuliskan tahun pertama pendidikan kita. Saya pribadi menyebutnya sebagai SMA kelas 4 atau kelas XIII ditambah dengan beberapa kuliah pengantar ilmu hukum dan etika. Kita mencoba untuk memahami kata-kata yang sulit misalnya “sulcus tendinis fleksoris halucis longus os calcaneus” (percayalah ini adalah istilah terpanjang di atlas Sobotta) untuk sebuah lekukan tempat melekatnya sebuah otot pada sebuah tulang atau saat masa preklinik dimana kita selalu dibayang-bayangi oleh sinyal-sinyal yang menyatakan kepada kita bahwa kita harus pulang ke rumah. Pertanyaan “Kapan bisa pulang ke rumah?” selalu terpirikirkan. Terkadang kita membesarkan diri kita sendiri dengan berkata dalam hati “Sabar, tinggal 4-5 jam lagi kita pasti pulang”. Di rumah, bantal dan kasur yang bahkan pasti akan menjadi teman terindah itupun kalau tidak ada referat atau laporan kasus yang harus diselesaikan.
Profesional, kita telah dapat berpikir mulai dari diabetes adalah suatu kondisi yang terjadi pada orang yang mengkonsumsi terlalu banyak gula hingga kita memperlajari bahwa diabetes merupakan suatu penyakit yang mempengaruhi seluruh sistem organ dalam tubuh dan kemudian bertemu dengan penderita diabetes. Kita kemudian mengembangkan sebuah prilaku rela menolong dan melayani seluruh mahkluk hidup untuk memberikan perawatan aktual yang terbaik dan rasa empati bahkan pada pasien dengan “ulkus diabetikum”. Bangun pagi buta membawa perban, plaster, kasa, cairan fisiologis, gunting dan mengoleskan madu adalah salah satu pengalaman yang tidak terlupakan tapi tidak ingin diulang. Mungkin, tidak akan lekang dari ingatan kita seorang pasien yang harus kehilangan mata, kaki, atau tangannya. Serta, pasien yang mungkin tiba-tiba sudah tidak bernyawa di hadapan kita dan harus menyampaikan kabar tersebut kepada keluarganya dengan penuh tanggung jawab.
Dalam kehidupan personal, kita melewati berbagai cobaan: kematian teman yang kita sayang, kematian anggota keluarga, pernikahan, kelahiran anggota keluarga baru, berawal dan berakhirnya sebuah hubungan, depresi, bahkan kita sendiri yang harus menerima perawatan di rumah sakit serta kegagalan akademik. Akan tetapi pencapaian personal kita yang paling sukses adalah kita dapat bertahan hingga hari ini. Kita melewati kesulitan, kesukaran dan bahkan pendidikan yang “tidak humanis” dan selalu menolong setiap kehidupan dengan kasih dan sayang kita. Kita tetap bertahan, kita masih menjadi diri kita sendiri. Kita juga selalu berusaha untuk meluangkan waktu yang kita miliki untuk menelusuri lebih dalam banyak sisi dalam kehidupan kita dan merenungkan siapa diri kita pada masa lalu, kini dan masa depan. Kita juga masih dapat meluangkan waktu untuk liburan walaupun sekedar menikmati hembusan angin dan deburan ombak dimana sebagian kecil dari kita juga merindukan sebuah ruang dengan penerangan yang redup menampilkan gambar bergerak dihadapan atau bahkan pergi ke tempat yang belum pernah kita kunjungi untuk memberikan pengabdian (bakti sosial). Bahkan, kita masih sempat meluangkan waktu kita bertemu setiap tahun di bulan Ramadhan menghilangkan sejenak seluruh kerumitan rumah sakit yang akan sulit kembali kita lakukan pada tahun-tahun ke depan.
Pernahkah kita merenungkan? Keberhasilan kita saat ini lebih bermakna dan lebih mudah karena kita memiliki keluarga, teman-teman, dan orang-orang di sekitar kita yang dipertemukan oleh Allah kepada kita untuk mendukung kita bahkan hingga memberikan pengorbanan kepada kita. Untuk orang-orang ini, Kita patutnya berterimakasih dan memberikan penghormatan kepada mereka. Begitu pula dengan guru-guru kita, yang selalu membimbing dan mengayomi kita hingga akhirnya kini menjadi sejawat kita. Jangan pernah lupa sebuah janji yang akan kita ikrarkan, “Saya akan memberikan kepada guru-guru saya penghormatan dan pernyataan terima kasih yang selayaknya”. Kita seharusnya sangat bangga bisa menjadi murid dan akhirnya teman sejawat guru-guru kita.
Sebagian besar dari kita akan menjalani program yang menurut saya pribadi adalah model modern untuk outsourcing atau bahkan yang lebih kasar lagi “perbudakan” dengan dalih pemerataan pelayanan kesehatan. Program Dokter Internship Indonesia sesungguhnya menahan surat izin praktik yang seharusnya sudah resmi kita dapatkan setelah mencapai kompetensi yang diharapkan (lulus UKMPPD) dan bahkan “tidak digaji”. Pemerintah hanya memberikan Bantuan Hidup Dasar yang hingga saat ini besarannya masih di bawah upah minimum regional dan tidak dapat mencukupi kebutuhan sandang, pangan dan papan setiap yang notabenya merupakan kebutuhan hidup dasar. Lalu, Apakah hal ini memudarkan empati kita ? Apakah hal ini merubah hati kita menjadi hati batu? Beranggapan bahwa setelah menyandang gelar profesi ini kita akan menjadi lebih banyak “uang” karena seharusnya profesi ini adalah “kerja hati” dan bukan “investasi”. Jangan biarkan diri kita menjadi orang yang takut bekerja keras untuk melayani pasien dengan sepenuh hati hanya karena tidak mendapatkan tunjangan. Jangan biarkan diri kita mengatakan bahwa “itulah kenyataanya” dan menghilangkan semangat keberanian kita ketika tidak mampu menolong seorang pasien tanpa usaha maksimal. Dalam program ini kita masih dapat menjadi agen perubahan, meninggalkan sesuatu yang tampak pada komunitas di mana kita Internship dan “Leaving a legacy”.
Kita juga tidak sepantasnya takut karena tidak memiliki kebijaksanaan untuk menyatukan teknik pengobatan modern dari barat dengan teknik pengobatan alternatif dari timur, sebuah keterampilan yang memang dibutuhkan di era keterbukaan informasi seperti saat ini. Kita juga tak sepantasnya takut tidak dapat memenuhi peran kita sebagai dokter bintang lima di komunitas. Karena setiap dari kita memiliki kebijaksanaan untuk mengikuti kata hati kita bahkan ketika mengalami ketakutan. Hadapi, biarkan semua ketakutan itu berubah menjadi senyuman karena kita sudah melangkah jauh. Kita sudah berani mengambil tanggung jawab yang sakral dan sulit untuk menjadi seorang dokter.
Tanpa hati, kita tidak dapat merasakan penderitaan atau sukacita pasien kita. Tanpa hati, percayalah kita akan tergantikan. Dalam perjalan kita, kemungkinan kita akan menemukan kembali suatu “hutan” yang lebih gelap dari pada sebelumnya dimana di dalamnya terdapat binatang-binatang birokrasi atau korporasi yang siap menerkam kita kapan saja. Jangan biarkan mereka melemahkan keberanian kita. Keberanian untuk berdiri dan berjuang terhadap apa yang kita percaya. Keberanian untuk berpikir di luar kotak, keberanian untuk mempertimbangkan pertanyaan-pertanyaan terkait ide dan keyakinan. Keberanian untuk hidup dengan penuh semangat. Keberanian untuk menentukan pilihan dan menghadapi apapun konsekuensi dari pilihan kita meskipun itu pahit.
Dalam perjalanan kita, kita harus memupuk kebijaksanaan. Bijaksana dalam menentukan kapan harus mengambil tindakan konvensional atau modern. Bijaksana dalam menentukan kapan harus menggunakan logika, intusi atau menggabungkan keduanya. Bijaksana dalam mempercayai hasil pemeriksaan pasien (hasil lab atau radiologi), perasaan pasien, atau keduanya. Semoga kita dapat menjadi orang yang lebih baik lagi di masa yang akan datang. Ingat kita belum benar-benar lulus. Mungkin banyak diantara kita akan menjalani upacara-upacara kelulusan selanjutnya tapi kelulusan sejati adalah dimana kita lulus ujian di dunia dan mendapatkan kehidupan kekal di surganya kelak. Aamiin ya robbal allamiin.
Aamiin
Aamiin