Kasus campak meningkat di Indonesia secara signifikan dalam dua tahun terakhir. Penyakit yang seharusnya sudah bisa kita cegah sepenuhnya ini justru kembali bangkit dan memicu puluhan Kejadian Luar Biasa (KLB) di berbagai wilayah.

Sebagai dokter, saya merasa perlu menjelaskan situasi ini secara jujur dan lugas kepada masyarakat. Bukan untuk menakut-nakuti, melainkan agar kita semua bisa mengambil langkah yang tepat sebelum terlambat.
Sepanjang tahun 2025, Kementerian Kesehatan RI mencatat 63.769 kasus suspek campak di seluruh Indonesia, dengan 11.094 kasus terkonfirmasi laboratorium dan 69 kematian. Ini bukan angka kecil.
Memasuki 2026, situasinya belum membaik. Hanya dalam tujuh minggu pertama tahun ini, sudah tercatat 8.224 kasus suspek, 572 kasus terkonfirmasi, dan 4 kematian. Kasus suspek di Januari 2026 bahkan meningkat tiga kali lipat dibanding Januari tahun-tahun sebelumnya.
Sepanjang 2025 tercatat 116 KLB campak di 89 kabupaten/kota pada 16 provinsi. Lima provinsi dengan kasus terbanyak di awal 2026 adalah Sumatera Barat, Sumatera Selatan, DI Yogyakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.
Kalau saya ditanya satu penyebab utama mengapa campak meningkat di Indonesia, jawabannya singkat: cakupan imunisasi yang turun drastis.
Cakupan imunisasi campak-rubela dosis pertama (MR1) turun dari 92% pada 2024 menjadi hanya 82% pada 2025. Dosis kedua (MR2) pun ikut turun dari 82,3% menjadi 77,6%. Padahal standar WHO untuk membentuk herd immunity yang efektif adalah minimal 95%.
Secara nasional, cakupan vaksin campak kita hanya 72,45%. Daerah seperti Aceh dan Papua Tengah bahkan tidak mampu menjangkau lebih dari separuh balita yang seharusnya divaksin. Ini adalah celah besar yang dimanfaatkan virus untuk menyebar kembali.
Dari pengalaman di lapangan dan berbagai data, setidaknya ada lima faktor utama yang memperparah mengapa campak meningkat di Indonesia:
1. Efek pandemi COVID-19 yang belum tuntas diperbaiki
Selama pandemi, banyak anak melewatkan jadwal imunisasi. Terbentuk backlog (tunggakan) imunisasi/vaksinasi yang besar dan belum sepenuhnya terkejar hingga kini.
2. Hoaks dan vaccine hesitancy (penolakan vaksin)
Informasi keliru tentang bahaya vaksin masih beredar luas di media sosial. Sebagian orang tua memilih tidak memvaksin anak berdasarkan informasi yang tidak ilmiah.
3. Keterbatasan akses di daerah terpencil
Tidak semua wilayah memiliki fasilitas rantai dingin (cold chain) yang memadai. Vaksin yang rusak akibat penyimpanan tidak tepat tidak akan memberikan perlindungan apa pun.
4. Kesenjangan antara kota dan desa
Cakupan imunisasi di perkotaan dan pedesaan, antara Jawa dan luar Jawa, masih sangat timpang. Kantong populasi yang tidak terlindungi inilah sumber penularan utama.
5. Kepadatan dan mobilitas penduduk
Semakin padatnya kawasan perkotaan dan tingginya mobilitas masyarakat membuat virus campak lebih mudah berpindah dari satu orang ke orang lain.
Saya ingin meluruskan satu kesalahpahaman yang sering saya temui: banyak yang masih menganggap campak sebagai “penyakit biasa yang pasti sembuh sendiri.”
Itu tidak benar.
Campak adalah salah satu penyakit paling menular di dunia. Satu penderita bisa menularkan ke 9 hingga 18 orang yang belum kebal di sekitarnya. Komplikasinya bisa sangat serius, antara lain radang paru (pneumonia), radang otak (ensefalitis), kebutaan, bahkan kematian. Risiko ini jauh lebih tinggi pada anak dengan gizi buruk dan bayi di bawah usia 1 tahun.
Kemenkes RI tidak tinggal diam. Mereka mempercepat imunisasi massal, memperketat surveilans KLB, dan meningkatkan kewaspadaan terhadap kasus lintas batas internasional. Namun upaya pemerintah tidak akan maksimal tanpa dukungan aktif dari seluruh lapisan masyarakat.
Cek buku KIA anak Anda. Pastikan vaksin MR sudah diberikan, yaitu dosis pertama di usia 9 bulan dan dosis kedua di usia 18 bulan.
Jika belum atau terlambat, segera ke Puskesmas atau Posyandu. Jangan tunda lagi.
Jangan percaya hoaks vaksin. Vaksin campak sudah digunakan lebih dari 50 tahun dan terbukti aman.
Kenali gejalanya. Demam tinggi, ruam merah dari wajah menyebar ke seluruh tubuh, mata merah (konjungtivitis), dan bercak putih di dalam mulut (Koplik spots) adalah tanda khas campak.
Segera bawa ke dokter jika anak menunjukkan gejala di atas, terutama jika belum pernah diimunisasi.
Campak seharusnya sudah menjadi sejarah di negeri ini. Fakta bahwa ia kembali melonjak adalah pengingat keras bagi kita semua, bahwa pencegahan jauh lebih mudah dan murah daripada pengobatan.
Lindungi anak Anda. Mulai dari satu langkah sederhana: imunisasi lengkap dan tepat waktu.