Banyak orang dengan nyeri punggung atau leher kronis mempertimbangkan terapi chiropractic sebagai alternatif pengobatan, tetapi tidak sedikit pula yang ragu karena pernah mendengar kabar tentang risiko stroke akibat manipulasi tulang leher. Pertanyaan ini wajar, karena chiropractic melibatkan tindakan fisik langsung pada tulang belakang yang sensitif.

Sebagai dokter, saya sering ditanya pasien apakah chiropractic aman dicoba untuk mengatasi nyeri punggung bawah atau leher yang tidak kunjung membaik. Artikel ini akan membahas secara mendalam apa itu terapi chiropractic, seberapa efektif berdasarkan penelitian, apa saja risikonya, dan bagaimana sebaiknya masyarakat menyikapi pengobatan ini secara bijak.
Chiropractic adalah bentuk pengobatan yang berfokus pada manipulasi manual tulang belakang dan sendi tubuh lainnya, yang diyakini dapat mengurangi nyeri dan memperbaiki fungsi tubuh. Praktisi chiropractic, yang disebut chiropractor, menggunakan teknik dorongan cepat dan terkontrol (spinal manipulation) pada ruas tulang belakang, termasuk area leher (cervical), punggung tengah (thoracic), dan punggung bawah (lumbar).
Terapi ini paling sering digunakan untuk mengatasi nyeri punggung bawah, nyeri leher, dan sakit kepala yang berasal dari otot atau sendi. Beberapa chiropractor juga menggabungkan manipulasi tulang belakang dengan terapi lain seperti latihan fisik, pijat jaringan lunak, atau edukasi postur tubuh.
Bukti ilmiah tentang efektivitas chiropractic untuk nyeri punggung menunjukkan hasil yang beragam, tergantung jenis nyeri dan durasinya.
Sebuah tinjauan Cochrane yang menganalisis kombinasi intervensi chiropractic menemukan bahwa terapi ini memberikan sedikit perbaikan pada nyeri dan disabilitas dalam jangka pendek dan menengah untuk nyeri punggung bawah akut atau subakut, dibandingkan terapi lain. Namun, tinjauan ini juga menegaskan tidak ada bukti kuat yang menunjukkan perbedaan bermakna secara klinis dibandingkan terapi lain, dan kualitas studi yang mendasarinya berisiko bias tinggi.
Untuk nyeri punggung kronis, hasilnya lebih beragam. Sebuah tinjauan sistematis awal terhadap delapan uji klinis acak menyimpulkan tidak ada bukti yang meyakinkan tentang efektivitas chiropractic untuk nyeri punggung akut maupun kronis, karena hampir semua penelitian yang ada memiliki kelemahan desain yang serius. Sebaliknya, penelitian yang lebih baru menemukan bahwa chiropractic dan terapi fisik standar memberikan hasil yang setara dalam mengurangi nyeri dan memperbaiki fungsi pada pasien nyeri punggung bawah kronis, dengan efek samping yang jarang dilaporkan pada kedua kelompok.
Sebuah uji klinis acak berskala besar yang membandingkan perawatan chiropractic dengan perawatan medis konvensional untuk nyeri punggung menemukan bahwa perbedaan hasil di antara keduanya tidak bermakna secara klinis, meskipun pasien pada kelompok chiropractic dan terapi fisik cenderung melaporkan persepsi perbaikan yang lebih tinggi. Menariknya, kurang dari 20 persen pasien benar-benar bebas dari nyeri setelah 18 bulan pemantauan, terlepas dari jenis perawatan yang mereka terima.
Sebuah tinjauan sistematis yang mengevaluasi efektivitas dan aspek ekonomi chiropractic menemukan bukti moderat bahwa perawatan chiropractic untuk nyeri punggung bawah setara efektifnya dengan terapi fisik. Tinjauan ini juga tidak menemukan laporan efek samping serius pada studi-studi yang dianalisis, meski buktinya masih terbatas untuk menyimpulkan mana yang lebih unggul secara pasti.
Ini adalah pertanyaan paling penting dan paling sering dikhawatirkan masyarakat tentang chiropractic, terutama terkait manipulasi pada tulang leher (cervical spine).
Kasus-Kasus yang Dilaporkan
Sejumlah laporan kasus dalam jurnal ilmiah menunjukkan adanya hubungan antara manipulasi leher dan kejadian stroke. Sebuah laporan kasus dari Cina mendokumentasikan dua pasien paruh baya yang mengalami diseksi arteri karotis dan stroke iskemik setelah menerima manipulasi chiropractic pada leher. Studi lain yang menganalisis sepuluh pasien berusia 27 hingga 46 tahun menemukan stroke iskemik akibat diseksi arteri vertebral atau karotis interna, seluruhnya terjadi setelah manipulasi tulang belakang leher.
Laporan yang lebih lama dari jurnal Stroke juga mendeskripsikan pasien yang mengalami infark pada distribusi vertebrobasilar setelah manipulasi leher, dengan dua dari tiga kasus berasal dari prosedur chiropractic. Meski kasus-kasus ini nyata dan serius, penting dicatat bahwa laporan kasus semacam ini tidak dapat menggambarkan seberapa sering kejadian tersebut terjadi dibandingkan total jumlah terapi chiropractic yang dilakukan di seluruh dunia.
Seberapa Sering Kejadian Serius Ini Terjadi?
Sebuah tinjauan sistematis yang menganalisis 46 artikel tentang efek samping chiropractic menemukan bahwa frekuensi efek samping serius berkisar antara 5 kasus stroke per 100.000 manipulasi hingga 1,46 efek samping serius per 10 juta manipulasi, dengan angka kematian sekitar 2,68 per 10 juta manipulasi. Rentang angka yang sangat lebar ini menunjukkan bahwa data mengenai insiden pasti efek samping serius akibat chiropractic masih belum kuat dan memerlukan penelitian lebih lanjut.

Tinjauan sistematis lain yang berfokus khusus pada keamanan manipulasi tulang belakang menemukan bahwa sekitar separuh pasien mengalami efek samping setelah terapi chiropractic, tetapi kejadian ini pada umumnya ringan dan bersifat sementara, sementara data yang dapat dipercaya tentang insiden efek samping serius masih sangat terbatas. Sebuah tinjauan sistematis lain yang berfokus pada efek samping sejak 2001 juga menyimpulkan hal serupa, yaitu efek samping ringan cukup umum terjadi, sementara laporan kejadian serius seperti diseksi arteri dan cedera saraf memang ada, tetapi jarang.
Mengapa Manipulasi Leher Lebih Berisiko?
Risiko utama pada manipulasi leher berkaitan dengan posisi arteri vertebral dan karotis yang melewati struktur tulang leher. Sebuah laporan kasus menjelaskan bahwa penggunaan gaya fisik berlebihan selama manipulasi chiropractic dapat menjadi faktor risiko diseksi arteri, yang kemudian dapat memicu pembentukan gumpalan darah dan berujung pada stroke iskemik. Karena struktur pembuluh darah di leher relatif rapuh terhadap gerakan rotasi dan ekstensi cepat, manipulasi pada area ini dianggap memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan manipulasi pada punggung bawah.
Selain risiko serius yang jarang terjadi, chiropractic juga memiliki efek samping ringan yang lebih sering dilaporkan. Efek samping yang paling umum meliputi nyeri otot sementara, kekakuan, dan rasa tidak nyaman di area yang dimanipulasi, yang biasanya mereda dalam satu hingga dua hari setelah terapi.
Studi-studi keamanan menunjukkan bahwa mayoritas efek samping yang terjadi setelah chiropractic bersifat jinak dan sementara, meski terdapat pula laporan komplikasi yang mengancam jiwa seperti diseksi arteri, myelopathy, herniasi diskus, dan hematoma epidural pada kasus yang jauh lebih jarang. Perbandingan ini menggambarkan bahwa meskipun mayoritas pasien hanya mengalami efek ringan, ada kemungkinan kecil terjadinya komplikasi serius yang perlu diwaspadai.
Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis terbaru yang mengevaluasi keamanan dan efikasi terapi manipulasi tulang belakang untuk nyeri leher akut menjadi rujukan penting dalam menilai rasio manfaat dan risiko pada area tubuh yang paling rentan ini. Selain itu, tinjauan sistematis dan meta-analisis terhadap uji klinis acak juga secara khusus mengevaluasi kejadian efek samping setelah manipulasi tulang belakang leher, memberikan gambaran lebih terkini tentang risiko yang dihadapi pasien yang menjalani prosedur ini.
Pada populasi lanjut usia, tinjauan sistematis terbaru yang memperbarui data tentang efek samping manipulasi tulang belakang chiropractic dan terapi terkait juga penting untuk dipertimbangkan, mengingat kerapuhan tulang dan pembuluh darah yang meningkat sejalan dengan usia.
Berdasarkan bukti-bukti di atas, beberapa kelompok berikut perlu ekstra waspada atau menghindari terapi chiropractic, terutama manipulasi leher:
Bagi kelompok-kelompok ini, konsultasi dengan dokter sebelum menjalani chiropractic sangat penting untuk menilai apakah manfaatnya melebihi risikonya.
Jika Anda memutuskan untuk mencoba chiropractic, beberapa langkah berikut dapat membantu mengurangi risiko:
Penting dipahami bahwa chiropractic sebaiknya dilihat sebagai salah satu pilihan terapi pelengkap untuk nyeri musculoskeletal tertentu, bukan pengganti pengobatan medis utama, terutama untuk kondisi yang serius atau berpotensi mengancam jiwa. Sebuah studi effectiveness menyebutkan bahwa keputusan untuk memilih chiropractic sebaiknya didasarkan pada preferensi dan nilai pasien, mengingat hasil efektivitasnya yang setara dengan terapi konvensional lain seperti fisioterapi.
Bagi pasien dengan nyeri punggung bawah ringan hingga sedang tanpa faktor risiko tambahan, chiropractic dapat menjadi pilihan yang wajar dipertimbangkan bersama dokter. Namun, untuk nyeri yang disertai gejala neurologis, riwayat trauma berat, atau kecurigaan kondisi serius lainnya, evaluasi medis menyeluruh harus dilakukan lebih dulu sebelum mempertimbangkan terapi manipulasi.
Berdasarkan telaah jurnal ilmiah, terapi chiropractic bukan sepenuhnya aman maupun sepenuhnya berbahaya, melainkan memiliki profil manfaat dan risiko yang bergantung pada area tubuh yang dimanipulasi, teknik yang digunakan, dan kondisi kesehatan pasien. Manipulasi pada punggung bawah relatif memiliki risiko lebih rendah dan menunjukkan efektivitas yang sebanding dengan terapi fisik untuk nyeri musculoskeletal ringan hingga sedang, sementara manipulasi pada leher membawa risiko serius meski jarang, termasuk diseksi arteri dan stroke.
Sebagai dokter, saya menganjurkan pasien untuk selalu berkonsultasi terlebih dahulu sebelum menjalani chiropractic, terutama jika mempertimbangkan manipulasi pada area leher, dan memastikan terapi dilakukan oleh praktisi yang berkompeten dan berlisensi resmi. Chiropractic dapat menjadi pilihan pelengkap yang bermanfaat bagi sebagian orang, tetapi keputusan untuk menjalaninya harus didasarkan pada pertimbangan risiko dan manfaat yang matang, bukan sekadar mengikuti tren pengobatan alternatif.
Referensi
Rubinstein SM. Safety of chiropractic interventions: a systematic review. J Manipulative Physiol Ther. 2009. PMID: 19444054. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/19444054/
Carotid Artery Dissection and Ischemic Stroke Following Cervical Chiropractic Manipulation: Two Case Reports. 2022. PMID: 34971321. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/34971321/
Stroke following chiropractic manipulation of the cervical spine. J Neurol. 1999. PMID: 10460445. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/10460445/
Prospective investigations into the safety of spinal manipulation. 2001. PMID: 11239743. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/11239743/
Cervical manipulation and stroke. Stroke. 1977. PMID: 906059. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/906059/
Assendelft WJ, et al. The effectiveness of chiropractic for treatment of low back pain. 1996. PMID: 8902660. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/8902660/
A Cochrane review of combined chiropractic interventions for low back pain. 2011. PMID: 21248591. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/21248591/
Adverse effects of spinal manipulation: a systematic review. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC1905885/
Blanchette MA, et al. Effectiveness and Economic Evaluation of Chiropractic Care for Low Back Pain. 2016. PMID: 27487116. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/27487116/
Hurwitz EL, et al. A randomized trial of chiropractic and medical care for patients with low back pain. 2006. PMID: 16540862. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/16540862/
Cervical manipulation and risk of stroke. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC81499/
What is the effectiveness of chiropractic manipulation for chronic low back pain compared to standard physical therapy? 2025. https://internationalmedicaljournal.org/index.php/ijmhsr/article/view/265