Pertanyaan tentang akupunktur untuk kesehatan sering muncul ketika seseorang mengalami nyeri kronis yang tidak kunjung sembuh dengan pengobatan konvensional. Sebagian orang menganggap akupunktur hanya sugesti belaka, sementara yang lain meyakininya sebagai solusi ampuh untuk berbagai keluhan. Lalu, apa sebenarnya kata jurnal ilmiah tentang praktik pengobatan yang sudah berusia ribuan tahun ini?

Sebagai dokter, saya sering ditanya pasien apakah akupunktur layak dicoba, terutama untuk nyeri punggung, migrain, atau nyeri lutut. Artikel ini akan mengulas secara mendalam apa itu akupunktur, bagaimana cara kerjanya menurut sains modern, kondisi apa yang benar-benar terbukti merespons terapi ini, seberapa aman prosedurnya, serta bagaimana sebaiknya masyarakat menyikapi klaim-klaim yang beredar.
Akupunktur adalah praktik pengobatan tradisional Cina yang menggunakan jarum tipis, kira-kira setipis rambut, yang ditusukkan pada titik-titik tertentu di tubuh yang disebut titik akupunktur atau acupoint. Menurut teori tradisional, tusukan jarum ini bertujuan memperbaiki aliran energi vital yang disebut “qi” agar tubuh kembali seimbang.

Dalam praktik medis modern, akupunktur telah diadaptasi menjadi terapi pelengkap yang digunakan bersama pengobatan konvensional, terutama untuk mengatasi nyeri kronis. Rasa sakit saat penusukan jarum umumnya minimal karena jarum yang digunakan sangat halus, jauh berbeda dengan jarum suntik biasa.
Sains modern menjelaskan mekanisme akupunktur secara berbeda dari teori energi tradisional. Salah satu penelitian menggunakan pencitraan otak menemukan bahwa akupunktur asli memicu peningkatan aktivitas reseptor mu-opioid di area otak tertentu, seperti korteks singulat dan amigdala, sementara akupunktur palsu (sham) tidak menimbulkan efek yang sama. Reseptor opioid ini berkaitan dengan sistem penghilang rasa sakit alami tubuh.
Temuan ini penting karena menunjukkan bahwa efek akupunktur tidak semata-mata bersifat plasebo. Penelitian lain juga menemukan adanya perbedaan biologis antara respons plasebo murni dan respons analgesik selama terapi akupunktur, meskipun keduanya memang memiliki ukuran efek yang mirip pada sejumlah kondisi. Artinya, ada komponen neurobiologis nyata di balik efek akupunktur, meski komponen plasebo dan sugesti psikologis juga turut berkontribusi terhadap hasil yang dirasakan pasien.
Ini adalah pertanyaan paling penting: apakah akupunktur benar-benar efektif secara klinis, atau hanya efek plasebo yang dibungkus ritual rumit?
Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis terhadap 32 studi menemukan bahwa akupunktur memberikan penurunan nyeri yang bermakna secara klinis dibandingkan akupunktur palsu, serta memperbaiki fungsi tubuh dibandingkan tanpa pengobatan sama sekali. Namun, ketika dibandingkan dengan obat-obatan seperti NSAID atau pelemas otot, perbedaannya secara statistik signifikan tetapi terlalu kecil untuk dianggap bermakna secara klinis.
Sebuah tinjauan sistematis yang menggabungkan data dari delapan meta-analisis menemukan bahwa untuk hasil jangka pendek, akupunktur menunjukkan keunggulan signifikan dibandingkan akupunktur palsu untuk nyeri punggung, nyeri lutut, dan sakit kepala. Untuk hasil jangka panjang (6 hingga 12 bulan), akupunktur tetap lebih efektif untuk nyeri lutut dan sakit kepala tipe tegang, meskipun hasil untuk nyeri punggung masih belum konsisten.
Sebuah tinjauan komprehensif berbasis bukti pada lima kondisi nyeri, yaitu nyeri punggung bawah, migrain, fibromialgia, nyeri leher, dan nyeri perut, menemukan bahwa migrain dan fibromialgia adalah dua kondisi dengan hasil paling menjanjikan setelah terapi akupunktur. Sementara itu, nyeri perut memiliki bukti pendukung paling lemah di antara kelima kondisi tersebut.
Sebuah studi acak terkontrol ganda buta yang meneliti akupunktur tradisional untuk berbagai jenis nyeri menemukan perbaikan skor nyeri yang signifikan pada kelompok akupunktur dibandingkan kelompok kontrol, tanpa perbedaan bermakna dalam efek samping. Studi ini menyimpulkan bahwa akupunktur tradisional efektif dan aman digunakan dalam manajemen nyeri klinis.
Meski begitu, tidak semua penelitian mendukung klaim ini secara mutlak. Salah satu tinjauan sistematis awal menyimpulkan bahwa bukti mengenai efektivitas akupunktur untuk nyeri kronis masih terbatas dibandingkan tanpa pengobatan, dan belum konklusif jika dibandingkan dengan plasebo, akupunktur palsu, atau perawatan standar. Sebuah tinjauan menyeluruh terhadap ribuan studi juga menyatakan bahwa hasil dari berbagai tinjauan sistematis akupunktur masih belum konklusif, terutama ketika kriteria inklusi penelitian diperketat menjadi studi acak buta ganda.
Perbedaan hasil ini menunjukkan bahwa efektivitas akupunktur sangat bergantung pada jenis kondisi yang diobati, kualitas metodologi penelitian, dan cara pembanding (kontrol) yang digunakan dalam studi tersebut.
Sebuah tinjauan sistematis terhadap 17 pedoman praktik klinis (clinical practice guidelines) dari berbagai negara tentang akupunktur untuk nyeri musculoskeletal kronis menemukan bahwa 60 persen dari 35 rekomendasi yang dianalisis mendukung penggunaan akupunktur, meski sebagian besar berupa rekomendasi lemah atau bersyarat, bukan rekomendasi kuat. Sekitar 23 persen rekomendasi tidak memberikan panduan yang jelas, dan 17 persen justru menyarankan untuk tidak menggunakan akupunktur.
Variasi rekomendasi ini menunjukkan bahwa penerimaan akupunktur sebagai terapi standar berbeda-beda di setiap negara, kemungkinan dipengaruhi oleh konteks budaya, ketersediaan bukti lokal, dan preferensi sistem kesehatan masing-masing wilayah. Artinya, akupunktur belum menjadi terapi lini pertama yang direkomendasikan secara universal, tetapi juga bukan sesuatu yang ditolak sepenuhnya oleh dunia medis modern.
Keamanan adalah pertimbangan penting sebelum mencoba terapi apa pun, termasuk akupunktur.
Sebuah tinjauan sistematis besar yang menganalisis 21 studi menemukan bahwa setidaknya satu efek samping terjadi pada 9,31 persen pasien yang menjalani serangkaian terapi akupunktur, dan sekitar setengah dari efek samping tersebut berupa perdarahan ringan, nyeri, atau kemerahan di titik penusukan jarum, yang sebenarnya dianggap sebagai reaksi normal dari terapi ini. Studi ini menyimpulkan bahwa akupunktur dapat dianggap sebagai salah satu terapi yang relatif lebih aman dalam dunia medis.
Penelitian lain yang meninjau sembilan survei prospektif menemukan efek samping paling umum adalah nyeri saat penusukan jarum (1 hingga 45 persen), rasa lelah (2 hingga 41 persen), dan perdarahan ringan (0,03 hingga 38 persen), sementara sekitar 86 persen pasien justru melaporkan perasaan relaksasi setelah terapi.
Sebuah tinjauan yang menganalisis berbagai laporan kasus menemukan bahwa efek samping serius akupunktur terjadi pada tingkat sekitar 0,04 hingga 0,08 per 10.000 sesi terapi, dengan jenis komplikasi paling sering berupa pneumotoraks (paru-paru kolaps akibat tusukan yang terlalu dalam), cedera saraf pusat dan tepi, cedera jantung, cedera organ perut, infeksi, dan jarum yang patah. Tinjauan lain yang menganalisis ribuan publikasi ilmiah menemukan risiko efek samping serius sekitar 1,01 per 10.000 pasien dan 7,98 per satu juta sesi terapi.
Sebagian besar infeksi akibat akupunktur bersifat bakterial dan disebabkan oleh kontak kulit yang tidak steril pada titik penusukan, bukan oleh penularan penyakit seperti hepatitis yang lebih sering ditemukan pada praktik lama dengan jarum yang dipakai berulang. Studi lain dari Cina yang meninjau data selama lebih dari lima dekade menemukan bahwa efek samping akupunktur sebagian besar disebabkan oleh ketegangan mental pasien, kesalahan teknik dokter, dan sterilisasi yang tidak memadai, yang sebagian besar sebenarnya dapat dicegah dengan standardisasi pelatihan dan praktik klinis.
Akupunktur juga telah diteliti keamanannya pada populasi rentan seperti pasien kanker. Sebuah meta-analisis terhadap 65 uji klinis acak menemukan bahwa akupunktur tidak meningkatkan risiko efek samping serius dibandingkan akupunktur palsu maupun perawatan standar pada pasien onkologi, sehingga dianggap sebagai terapi yang aman digunakan pada kelompok ini dengan pengawasan medis yang tepat.
Dari berbagai jurnal keamanan yang sudah dibahas, ada satu kesimpulan yang konsisten: risiko akupunktur sangat bergantung pada kompetensi dan standar praktik dari terapis yang melakukannya. Sebuah tinjauan terhadap 182 insiden komplikasi akupunktur di Cina selama 33 tahun menemukan bahwa cedera organ dalam, jaringan, atau saraf menjadi komplikasi utama, terutama pneumotoraks dan cedera sistem saraf pusat, yang seharusnya dapat dicegah dengan pelatihan yang terstandardisasi.

Ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat yang ingin mencoba akupunktur: pastikan terapi dilakukan oleh praktisi bersertifikat dan menggunakan jarum sekali pakai yang steril, bukan oleh orang yang belum terlatih secara memadai.
Berdasarkan tinjauan jurnal-jurnal di atas, berikut beberapa mitos umum tentang akupunktur beserta faktanya:
Mitos: Akupunktur sangat menyakitkan. Fakta: rasa sakit relatif minimal karena jarum yang digunakan sangat tipis, dan efek samping paling umum hanyalah nyeri ringan sesaat di titik penusukan.
Mitos: Akupunktur hanya efek plasebo tanpa dasar biologis. Fakta: penelitian pencitraan otak menunjukkan mekanisme biologis nyata melalui reseptor opioid yang berbeda dari efek plasebo murni, meski komponen psikologis tetap berperan.
Mitos: Akupunktur bisa menyembuhkan segala macam penyakit. Fakta: bukti ilmiah paling kuat hanya mendukung penggunaannya untuk kondisi nyeri tertentu seperti migrain, fibromialgia, nyeri punggung, dan nyeri lutut, bukan sebagai obat segala penyakit.
Mitos: Akupunktur selalu berbahaya karena menggunakan jarum yang menusuk tubuh. Fakta: efek samping serius sangat jarang terjadi, dengan risiko sekitar kurang dari satu kasus per 10.000 pasien, asalkan dilakukan oleh praktisi terlatih.
Mitos: Semua jenis nyeri merespons akupunktur secara sama. Fakta: efektivitas akupunktur berbeda-beda tergantung jenis kondisi, dengan migrain dan fibromialgia menunjukkan hasil lebih baik dibandingkan nyeri perut.
Berdasarkan bukti jurnal yang telah dibahas, akupunktur dapat dipertimbangkan sebagai terapi pelengkap, bukan pengganti pengobatan utama, untuk kondisi berikut:
Penting diingat bahwa akupunktur sebaiknya digunakan sebagai pelengkap, bukan pengganti pengobatan medis konvensional, terutama untuk kondisi serius yang membutuhkan penanganan segera.
Sebelum memutuskan mencoba akupunktur, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan:
Ada beberapa kondisi yang membutuhkan kehati-hatian ekstra atau bahkan sebaiknya menghindari akupunktur:
Berdasarkan telaah berbagai jurnal ilmiah, akupunktur untuk kesehatan bukan sekadar mitos, tetapi juga bukan solusi ajaib untuk segala penyakit. Bukti paling kuat mendukung penggunaannya sebagai terapi pelengkap untuk kondisi nyeri tertentu, seperti migrain, fibromialgia, nyeri punggung, dan nyeri lutut, dengan tingkat keamanan yang tergolong baik selama dilakukan oleh praktisi terlatih.
Sebagai dokter, saya menganjurkan pasien untuk memandang akupunktur secara realistis, yaitu sebagai pelengkap pengobatan konvensional dengan ekspektasi yang wajar, bukan pengganti terapi medis utama. Konsultasikan selalu dengan dokter sebelum mencoba akupunktur, terutama jika Anda memiliki kondisi medis tertentu, agar terapi ini dapat memberikan manfaat maksimal dengan risiko seminimal mungkin.
Referensi
Ernst E, White AR. Is acupuncture effective for the treatment of chronic pain? Br J Gen Pract. 2000. PMID: 10812251. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/10812251/
Chan MWC, et al. Safety of Acupuncture: Overview of Systematic Reviews. Sci Rep. 2017. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5469776/
Systematic review of clinical practice guidelines on acupuncture for chronic musculoskeletal pain. BMC Complement Med Ther. 2025. PMID: 40890678. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/40890678/
Yuan QL, et al. Effectiveness of acupuncture for nonspecific chronic low back pain. Spine. 2013. PMID: 24026151. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/24026151/
Berman BM, Langevin HM, Witt CM, Dubner R. Acupuncture: an evidence-based review of the clinical literature. PMID: 10774452. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/10774452/
Yang J, et al. The role of acupuncture in the treatment of chronic pain. Best Pract Res Clin Anaesthesiol. 2020. PMID: 33004170. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/33004170/
Efficacy and safety of acupuncture for pain relief. 2024. PMID: 39520569. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/39520569/
Huang CC, et al. Acupuncture: A Review of the Safety and Adverse Events. 2024. PMID: 39460372. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/39460372/
Ernst E, White AR. Prospective studies of the safety of acupuncture. Am J Med. 2001. PMID: 11331060. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/11331060/
Xu S, et al. Adverse events of acupuncture: a systematic review of case reports. Evid Based Complement Alternat Med. 2013. PMID: 23573135. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/23573135/
Bäumler P, et al. Acupuncture-related adverse events: systematic review. 2021. PMID: 34489268. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/34489268/
Adverse events following acupuncture: systematic review of Chinese literature 1956-2010. 2012. PMID: 22967282. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/22967282/
Safety of acupuncture in oncology: systematic review and meta-analysis. 2022. PMID: 35262912. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/35262912/
Harris RE, et al. Acupuncture, psyche and the placebo response. 2010. PMID: 20359961. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/20359961/
Harris RE, et al. Traditional Chinese acupuncture and placebo (sham) acupuncture differentiated by effects on mu-opioid receptors. 2009. PMID: 19501658. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/19501658/