Hampir setiap orang di Indonesia pernah menerima pesan berantai di WhatsApp tentang khasiat ajaib suatu ramuan, atau peringatan berlebihan tentang bahaya tertentu yang ternyata tidak berdasar. Fenomena hoaks kesehatan di Indonesia bukan hal baru, namun jumlahnya terus bertambah setiap tahun, dan dampaknya jauh lebih serius daripada sekadar informasi yang salah.

Sebagai dokter, saya cukup sering menemukan pasien yang datang membawa keyakinan keliru akibat hoaks kesehatan yang mereka baca di media sosial. Artikel ini disusun untuk membantu Anda memahami skala masalah ini, mengenali pola hoaks yang paling umum beredar, serta cara bersikap yang tepat saat menemuinya.
Data yang dihimpun Kementerian Komunikasi dan Informatika menunjukkan bahwa dari total ribuan hoaks yang berhasil diidentifikasi dalam beberapa tahun terakhir, kategori kesehatan secara konsisten menjadi salah satu yang paling banyak ditemukan, bahkan sering mengungguli kategori hoaks politik maupun penipuan lainnya.
Lonjakan hoaks kesehatan juga tercatat meningkat tajam sejak masa pandemi, dengan proporsi hoaks kesehatan yang sempat menempati posisi teratas dibanding kategori hoaks lainnya pada periode tersebut. Pola ini menunjukkan bahwa isu kesehatan menjadi topik yang sangat rentan disalahgunakan untuk menyebarkan informasi keliru, kemungkinan karena menyentuh langsung rasa takut dan harapan orang terhadap kesehatan diri maupun keluarganya.
Ada beberapa faktor yang membuat hoaks kesehatan di Indonesia begitu mudah menyebar luas:
Budaya berbagi pesan berantai. Aplikasi percakapan seperti WhatsApp memudahkan siapa saja meneruskan pesan ke banyak orang sekaligus, sering kali tanpa niat buruk, hanya karena merasa informasi tersebut “penting untuk dibagikan” kepada keluarga atau teman.
Rendahnya literasi kesehatan. Tidak semua orang memiliki latar belakang untuk menilai apakah sebuah klaim kesehatan masuk akal secara medis atau tidak, sehingga klaim yang disampaikan dengan percaya diri sering langsung dipercaya begitu saja.
Framing yang memicu rasa takut atau harapan berlebihan. Banyak hoaks kesehatan sengaja dibungkus dengan narasi menakutkan (misalnya penyakit baru yang lebih berbahaya dari yang pernah ada) atau harapan instan (misalnya ramuan yang bisa menyembuhkan penyakit berat tanpa efek samping).
Algoritma media sosial. Konten yang memicu emosi kuat, baik rasa takut maupun harapan, cenderung lebih banyak dibagikan dan disebarkan algoritma ke lebih banyak pengguna, terlepas dari kebenaran isinya.
Beberapa pola hoaks kesehatan berikut ini terus berulang dari waktu ke waktu, meski dengan variasi cerita yang berbeda:
Klaim pengobatan herbal ajaib
Salah satu pola paling umum adalah klaim bahwa bahan alami tertentu, misalnya air rebusan pare, dapat membunuh sel kanker atau menyembuhkan penyakit berat lainnya, tanpa disertai bukti penelitian yang memadai.
Klaim penyakit baru yang lebih mengerikan dari yang sudah dikenal
Pola ini sering muncul dalam bentuk video atau tulisan yang mengklaim adanya varian penyakit baru yang jauh lebih berbahaya dari penyakit yang sudah dikenal masyarakat, biasanya tanpa sumber resmi yang bisa diverifikasi.
Hoaks yang mencatut nama lembaga resmi
Beberapa hoaks bahkan mencatut nama rumah sakit atau lembaga pemerintah tertentu agar terlihat lebih meyakinkan, padahal lembaga yang disebut tidak pernah mengeluarkan pernyataan tersebut.
Penipuan berkedok layanan kesehatan pemerintah
Pola lain yang belakangan marak adalah hoaks yang mengatasnamakan program jaminan kesehatan pemerintah, lengkap dengan tautan pendaftaran palsu yang sebenarnya bertujuan mencuri data pribadi korban.
Hoaks kesehatan bukan sekadar informasi yang salah dan berhenti di situ. Dampaknya bisa sangat konkret:
Cara Mengenali Hoaks Kesehatan
Ada beberapa tanda yang bisa membantu Anda mencurigai sebuah informasi kesehatan sebagai hoaks, di antaranya klaim yang terdengar terlalu bagus untuk menjadi kenyataan, tidak menyebutkan sumber penelitian yang jelas, mengandalkan testimoni pribadi sebagai bukti utama, atau menciptakan urgensi berlebihan agar cepat dibagikan tanpa dipikir ulang.
Untuk membantu Anda menilai klaim kesehatan secara lebih terstruktur, saya sudah menyediakan alat deteksi klaim kesehatan interaktif yang bisa digunakan kapan pun Anda menemukan informasi kesehatan yang meragukan.
Cek alat bantu fakta klaim manfaat kesehatan di tautan berikut:
Klik di Sini!
Melawan hoaks kesehatan sebenarnya bisa dimulai dari kebiasaan sederhana:
Sebagai tenaga kesehatan, kita punya tanggung jawab lebih dari sekadar menangani pasien di ruang praktik. Edukasi publik tentang cara berpikir kritis terhadap informasi kesehatan adalah bagian penting dari pelayanan kesehatan itu sendiri, terutama di era ketika informasi menyesatkan bisa menyebar jauh lebih cepat dibanding klarifikasi resminya.
Setiap kali seorang dokter atau tenaga kesehatan meluangkan waktu menjelaskan fakta di balik sebuah hoaks, secara tidak langsung ia turut membangun ketahanan masyarakat terhadap misinformasi di masa depan.
Hoaks kesehatan di Indonesia kemungkinan tidak akan hilang sepenuhnya, karena selama ada rasa takut dan harapan terhadap kesehatan, akan selalu ada pihak yang mencoba memanfaatkannya. Namun dengan literasi kesehatan yang lebih baik dan kebiasaan memverifikasi sebelum membagikan, kita bisa memperlambat penyebarannya secara signifikan.
Mulailah dari diri sendiri: sebelum membagikan informasi kesehatan apa pun, luangkan waktu sejenak untuk bertanya, “apa buktinya, dan dari mana sumbernya?”