Ada satu hal yang jarang dibahas di ruang kuliah kedokteran dan tenaga kesehatan lainnya atau pelatihan tenaga kesehatan: bukan hanya kompetensi klinis yang menentukan keselamatan pasien, tapi juga seberapa baik komunikasi tenaga kesehatan itu sendiri, antar sesama petugas, maupun kepada pasien.

Sebagai dokter yang juga mengelola pelayanan di RSUD, saya sering melihat langsung bagaimana satu informasi yang tidak tersampaikan dengan jelas bisa berujung pada keterlambatan penanganan. Bukan karena kurang ilmu, tapi karena komunikasi yang terputus di tengah jalan.
Menurut Joint Commission on Accreditation of Healthcare Organizations, kesalahan medis termasuk salah satu penyebab kematian tertinggi di fasilitas kesehatan, dan akar masalahnya sering kali bukan soal keterampilan klinis, melainkan lemahnya kolaborasi dan komunikasi antar tenaga kesehatan.

Penelitian lain bahkan menunjukkan bahwa buruknya komunikasi antar petugas dapat meningkatkan risiko kematian pasien hingga hampir dua kali lipat, sekaligus memperpanjang masa rawat inap. Angka-angka ini bukan untuk menakuti, tapi untuk menegaskan satu hal: komunikasi bukan soal “soft skill” pelengkap. Ini bagian inti dari keselamatan pasien.
Dari pengalaman saya di lapangan, beberapa pola miskomunikasi ini paling sering muncul:
Komunikasi yang baik antar tenaga kesehatan juga berdampak langsung pada iklim kerja. Tim yang terbiasa berkomunikasi terbuka cenderung lebih cepat mendeteksi kesalahan sebelum berdampak ke pasien, dan lebih nyaman saling mengingatkan tanpa rasa takut disalahkan.

Sebaliknya, budaya komunikasi yang kaku atau hierarkis justru sering membuat tenaga kesehatan junior enggan menyampaikan kekhawatiran ke seniornya. Padahal informasi itu bisa jadi krusial.
Pertanyaannya kemudian: bagaimana cara mengetahui apakah gaya komunikasi kita sendiri, sebagai dokter, perawat, bidan, atau tenaga kesehatan lain. Sudah cukup efektif atau justru berisiko menimbulkan miskomunikasi?
Kebanyakan dari kita tidak pernah benar-benar mengevaluasi ini. Kita berasumsi cara kita berkomunikasi sudah baik, karena tidak ada komplain yang terdengar. Padahal komplain yang tidak terdengar bukan berarti tidak ada masalah.
Karena itu, saya menyusun sebuah tes gaya komunikasi Anda singkat yang bisa diisi dalam beberapa menit. Alat ini akan membantu memetakan pola komunikasi Anda saat ini, sekaligus memberi gambaran area mana yang bisa diperkuat.
Klik Tautan di Bawah ini untuk Menguji Gaya Komunikasi Anda
https://drrifan.id/komunikasi-nakes/
Beberapa langkah yang bisa mulai diterapkan sehari-hari, baik untuk individu maupun tim pelayanan:
Langkah-langkah ini terdengar sederhana, tapi konsistensi menerapkannya yang sering jadi tantangan sesungguhnya. Terutama di fasilitas kesehatan dengan beban kerja tinggi.
Komunikasi tenaga kesehatan yang baik bukan bakat bawaan. Ini keterampilan yang bisa dipelajari dan dilatih, sama seperti keterampilan klinis lainnya. Justru karena itu, evaluasi rutin terhadap pola komunikasi tim menjadi bagian penting dari upaya menjaga mutu pelayanan.
Silakan sharing hasil tes komunikasi Anda di kolom komentar.