Motivasi Tenaga Kesehatan di Rumah Sakit

fp motivasi kerja tenaga kesehatan di rumah sakit

Tenaga kesehatan merupakan aset paling strategis dalam sistem pelayanan kesehatan di rumah sakit. Kualitas pelayanan yang diberikan kepada pasien tidak hanya ditentukan oleh kompetensi teknis semata, tetapi juga oleh seberapa besar motivasi yang dimiliki oleh setiap individu dalam menjalankan tugasnya. Tanpa motivasi yang memadai, bahkan tenaga kesehatan yang paling kompeten pun dapat mengalami penurunan kinerja yang berdampak langsung pada keselamatan dan kepuasan pasien.

apa yang menjadi faktor motivasi tenaga kesehatan di rumah sakit?
apa yang menjadi faktor motivasi tenaga kesehatan di rumah sakit?

Dalam praktik sehari-hari di rumah sakit, saya menyaksikan sendiri bagaimana semangat kerja tenaga kesehatan menjadi faktor penentu kualitas pelayanan. Ada perbedaan yang nyata antara tenaga kesehatan yang hadir dengan penuh gairah dan komitmen dibandingkan mereka yang datang hanya untuk menggugurkan kewajiban. Perbedaan itu dirasakan langsung oleh pasien, oleh keluarga mereka, dan oleh seluruh ekosistem pelayanan di rumah sakit.

Motivasi kerja dalam konteks rumah sakit bukan sekadar soal gaji atau tunjangan. Ia menyentuh dimensi yang lebih dalam, yaitu rasa bermakna, pengakuan profesional, lingkungan kerja yang kondusif, dan keyakinan bahwa pekerjaan yang dilakukan benar-benar membuat perbedaan bagi kehidupan orang lain. Memahami motivasi secara komprehensif adalah langkah pertama bagi manajemen rumah sakit untuk membangun sumber daya manusia yang tangguh dan produktif.

 

Apa Itu Motivasi Kerja?

Motivasi kerja dapat didefinisikan sebagai dorongan internal maupun eksternal yang menggerakkan seseorang untuk melakukan pekerjaan dengan sungguh-sungguh, terarah, dan berkelanjutan guna mencapai tujuan tertentu. Dalam konteks organisasi rumah sakit, motivasi kerja mencakup keinginan tenaga kesehatan untuk memberikan pelayanan terbaik, berinovasi, dan berkontribusi secara aktif terhadap visi misi institusi.

ilustrasi motivasi kerja
ilustrasi motivasi kerja

Beberapa ahli manajemen memberikan pandangan yang saling melengkapi tentang konsep ini:

  • Robbins dan Judge (2019) menyatakan bahwa motivasi adalah proses yang menjelaskan intensitas, arah, dan ketekunan seseorang dalam upaya mencapai tujuan.
  • Hasibuan (2017) mendefinisikan motivasi sebagai pemberian daya penggerak yang menciptakan kegairahan kerja seseorang agar mereka mau bekerja sama, bekerja efektif, dan terintegrasi dengan segala upayanya untuk mencapai kepuasan.
  • Mangkunegara (2017) menekankan bahwa motivasi terbentuk dari sikap karyawan dalam menghadapi situasi kerja di organisasinya.

 

Dari ketiga perspektif tersebut, jelas bahwa motivasi bukan kondisi statis. Ia dinamis, dapat naik dan turun, dan sangat dipengaruhi oleh bagaimana organisasi memperlakukan individu di dalamnya.

 

Teori-Teori Motivasi yang Relevan

Teori Hierarki Kebutuhan Maslow

Abraham Maslow mengelompokkan kebutuhan manusia dalam lima tingkatan: fisiologis, keamanan, sosial, penghargaan, dan aktualisasi diri. Dalam konteks tenaga kesehatan, kelima tingkatan ini memiliki perwujudan yang sangat konkret:

  • Kebutuhan fisiologis: Gaji yang layak, tunjangan makan, dan fasilitas istirahat yang memadai
  • Kebutuhan keamanan: Jaminan keselamatan kerja melalui APD yang cukup, kepastian status kepegawaian, dan perlindungan hukum dalam praktik klinis
  • Kebutuhan sosial: Hubungan interprofesional yang harmonis, kerja tim yang solid, dan dukungan dari sesama kolega
  • Kebutuhan penghargaan: Pengakuan atas prestasi, promosi jabatan, dan apresiasi dari atasan secara konsisten
  • Aktualisasi diri: Kesempatan pengembangan karir, pendidikan lanjutan, dan keterlibatan dalam penelitian ilmiah
Piramida Kebutuhan Maslow

Satu hal yang perlu dipahami adalah bahwa kebutuhan di tingkat lebih rendah harus terpenuhi terlebih dahulu sebelum seseorang dapat termotivasi oleh kebutuhan di tingkat yang lebih tinggi. Tenaga kesehatan yang khawatir dengan status kepegawaiannya tidak akan mampu berkonsentrasi penuh pada aktualisasi diri melalui penelitian atau inovasi pelayanan.

 

Teori Dua Faktor Herzberg

Frederick Herzberg membedakan faktor motivasi menjadi dua kelompok besar yang sering disalahpahami oleh manajemen:

  • Faktor Hygiene (ekstrinsik): Meliputi kebijakan organisasi, gaji, kondisi kerja, hubungan antar pribadi, dan supervisi. Faktor ini tidak langsung memotivasi, namun ketidakhadirannya menciptakan ketidakpuasan yang serius.
  • Faktor Motivator (intrinsik): Meliputi pencapaian, pengakuan, tanggung jawab, kemajuan, dan pertumbuhan pribadi. Faktor inilah yang secara aktif mendorong produktivitas dan semangat kerja.
Teori Motivasi Dua Faktor Herzberg
Teori Motivasi Dua Faktor Herzberg

Implikasinya sangat jelas bagi manajemen rumah sakit. Memenuhi faktor hygiene adalah prasyarat, bukan tujuan akhir. Manajemen perlu memastikan faktor hygiene terpenuhi terlebih dahulu sebelum mengoptimalkan faktor motivator intrinsik.

 

Teori McClelland

McClelland mengidentifikasi tiga kebutuhan utama yang memotivasi perilaku individu dalam organisasi:

  • Need for Achievement (nAch): Dorongan untuk unggul dan berprestasi sesuai standar yang tinggi. Ini sangat relevan untuk tenaga medis yang motivasinya bersumber dari keberhasilan menyembuhkan pasien.
  • Need for Affiliation (nAff): Keinginan untuk membangun hubungan interpersonal yang bermakna. Ini penting dalam tim multidisiplin di rumah sakit yang menuntut kolaborasi antar profesi.
  • Need for Power (nPow): Keinginan untuk memengaruhi dan memimpin orang lain. Ini relevan bagi tenaga kesehatan yang menduduki posisi manajerial atau koordinator unit.

 

Teori Harapan Vroom

Victor Vroom menyatakan bahwa motivasi dipengaruhi oleh tiga komponen yang saling berkaitan:

Motivasi = Ekspektasi x Instrumentalitas X Valensi

  • Ekspektasi adalah keyakinan bahwa usaha yang dilakukan akan menghasilkan kinerja yang baik.
  • Instrumentalitas adalah keyakinan bahwa kinerja baik akan mendatangkan reward atau penghargaan.
  • Valensi adalah nilai yang diberikan individu terhadap reward tersebut.
Teori Harapan Vroom (U3081677, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Teori ini menekankan pentingnya sistem reward yang transparan dan adil. Ketika tenaga kesehatan tidak yakin bahwa kerja kerasnya akan diakui dan dihargai secara proporsional, motivasi mereka akan terkikis meskipun kemampuan teknis mereka sangat baik.

 

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Kerja Tenaga Kesehatan

Faktor Internal (Individu)

  1. Kepribadian dan nilai diri: Tenaga kesehatan dengan orientasi altruistik cenderung memiliki motivasi intrinsik yang kuat dan lebih tahan terhadap tekanan kerja.
  2. Kompetensi dan kepercayaan diri: Rasa mampu menyelesaikan tantangan klinis meningkatkan dorongan untuk terus bekerja dengan optimal.
  3. Tujuan karir: Kejelasan arah pengembangan profesional mendorong komitmen jangka panjang terhadap institusi.
  4. Kesehatan mental: Kondisi psikologis yang sehat menjadi fondasi motivasi yang stabil dan berkelanjutan.
ilustasi motivasi tenaga kesehatan di rumah sakit
ilustasi motivasi tenaga kesehatan di rumah sakit

Faktor Eksternal (Organisasi dan Lingkungan)

  1. Kompensasi dan kesejahteraan: Remunerasi yang adil dan sesuai beban kerja merupakan motivator dasar yang tidak bisa diabaikan oleh manajemen mana pun.
  2. Kepemimpinan: Gaya kepemimpinan atasan langsung sangat berpengaruh; pemimpin yang suportif dan komunikatif secara nyata meningkatkan motivasi tim.
  3. Beban kerja: Overload kerja tanpa dukungan yang memadai menjadi salah satu pemicu burnout dan penurunan motivasi yang paling sering saya temui di lapangan.
  4. Pengembangan karir: Adanya peluang pendidikan berkelanjutan, pelatihan, dan promosi jabatan yang terbuka bagi semua pihak.
  5. Budaya organisasi: Budaya kerja yang positif, menghargai kontribusi, dan mendorong inovasi menciptakan iklim motivasi yang sehat.
  6. Keselamatan kerja: Tersedianya APD yang memadai, prosedur K3 yang jelas, dan perlindungan dari risiko kerja merupakan hak dasar tenaga kesehatan.
  7. Pengakuan dan apresiasi: Bentuk penghargaan, baik yang bersifat verbal maupun formal, yang diberikan secara konsisten dan tepat sasaran.

 

Dampak Motivasi Kerja terhadap Kinerja Rumah Sakit

Terhadap Kualitas Pelayanan

Tenaga kesehatan yang termotivasi cenderung memberikan pelayanan yang lebih teliti, empatik, dan responsif. Mereka lebih patuh terhadap standar prosedur operasional (SPO), lebih kecil kemungkinannya melakukan kesalahan medis, dan lebih proaktif dalam berkomunikasi dengan pasien maupun keluarganya. Kualitas bukan hanya soal skill teknis, tetapi soal sikap dan kehadiran penuh dalam setiap interaksi dengan pasien.

Terhadap Kepuasan Pasien

Penelitian secara konsisten menunjukkan korelasi positif antara motivasi tenaga kesehatan dan skor kepuasan pasien. Pasien merasakan sendiri perbedaannya ketika dilayani oleh tenaga kesehatan yang antusias dan penuh semangat dibandingkan dengan yang mengalami kelelahan atau demotivasi. Kepuasan pasien bukan sesuatu yang dapat direkayasa dari luar; ia adalah cerminan langsung dari kondisi batin tenaga kesehatan yang melayani.

Terhadap Produktivitas

Motivasi mendorong efisiensi kerja secara nyata. Tenaga kesehatan yang termotivasi mampu menyelesaikan tugas lebih tepat waktu, mengurangi waktu tunggu pasien, dan meningkatkan throughput pelayanan tanpa mengorbankan kualitas. Produktivitas yang tinggi bukan hasil paksaan atau pengawasan ketat, melainkan buah dari motivasi yang tumbuh dari dalam diri.

Terhadap Retensi SDM

Motivasi yang rendah menjadi salah satu prediktor utama tingginya turnover tenaga kesehatan. Tingginya pergantian staf bukan hanya berdampak pada biaya rekrutmen dan pelatihan yang besar, tetapi juga mengganggu kontinuitas pelayanan dan melemahkan budaya organisasi yang telah dibangun dengan susah payah.

Terhadap Inovasi dan Pengembangan

Tenaga kesehatan yang termotivasi lebih aktif berkontribusi dalam pengembangan sistem pelayanan, berani menyampaikan ide perbaikan, dan dengan sukarela terlibat dalam kegiatan penelitian serta pendidikan. Inovasi tidak akan tumbuh di lingkungan yang demotivasi.

 

Tantangan Motivasi Kerja di Rumah Sakit Indonesia

Sebagai dokter yang bekerja di rumah sakit daerah, saya merasakan langsung berbagai tantangan yang secara khusus memengaruhi motivasi tenaga kesehatan di Indonesia:

  1. Disparitas remunerasi: Perbedaan signifikan antara gaji ASN dan tenaga BLUD atau honorer sering kali menciptakan ketidakpuasan dan disfungsi motivasi yang merusak kohesi tim.
  2. Beban kerja tidak proporsional: Kekurangan tenaga di berbagai rumah sakit daerah menyebabkan satu orang menanggung beban yang seharusnya dipikul bersama oleh beberapa orang.
  3. Minimnya kesempatan pengembangan: Akses pelatihan dan pendidikan lanjutan masih sangat terbatas, terutama di daerah yang jauh dari pusat kota.
  4. Budaya hierarki yang kaku: Pola komunikasi top-down yang tidak memberi ruang bagi masukan staf dapat menekan motivasi intrinsik secara perlahan namun pasti.
  5. Risiko hukum yang meningkat: Meningkatnya kesadaran hukum masyarakat tanpa diimbangi perlindungan hukum yang memadai bagi tenaga medis menciptakan kecemasan yang berdampak serius pada motivasi kerja.
  6. Burnout pasca pandemi: Dampak psikologis dari pandemi COVID-19 masih dirasakan banyak tenaga kesehatan dalam bentuk kelelahan emosional yang belum sepenuhnya pulih.

 

Strategi Peningkatan Motivasi Kerja Tenaga Kesehatan

Strategi Berbasis Kompensasi dan Kesejahteraan

  • Menerapkan sistem remunerasi berbasis kinerja yang transparan, adil, dan dapat dipahami oleh seluruh staf
  • Memastikan pembayaran jasa pelayanan tepat waktu dan proporsional sesuai beban kerja nyata
  • Memberikan tunjangan risiko, tunjangan shift malam, dan insentif lembur yang adil
  • Menyediakan fasilitas kesejahteraan seperti ruang istirahat yang layak, kantin bersubsidi, dan akses ke layanan kesehatan bagi staf

Strategi Berbasis Pengembangan Karir

  • Menyusun jalur karir yang jelas dan transparan untuk setiap profesi di rumah sakit
  • Memberikan akses terhadap pendidikan berkelanjutan, seminar, pelatihan, dan program beasiswa
  • Mendorong keterlibatan aktif staf dalam penelitian dan publikasi ilmiah
  • Membangun program mentoring yang terstruktur antara tenaga senior dan junior

Strategi Berbasis Kepemimpinan dan Budaya Organisasi

  • Melatih manajer lini seperti kepala ruangan dan kepala instalasi dalam kepemimpinan transformasional dan servant leadership
  • Membangun budaya komunikasi terbuka di mana staf merasa aman dan nyaman menyampaikan pendapat serta keluhan
  • Mengadakan pertemuan rutin antara manajemen dan staf untuk membahas kendala dan solusi secara bersama-sama
  • Menciptakan program penghargaan yang konsisten dan bermakna, seperti employee of the month atau recognition board

Strategi Berbasis Kesehatan dan Kesejahteraan Psikologis

  • Menyediakan layanan konseling atau dukungan psikologis khusus bagi tenaga kesehatan
  • Menerapkan manajemen jadwal shift yang memperhatikan kebutuhan istirahat dan keseimbangan antara kerja dan kehidupan pribadi
  • Membangun program wellness yang menyenangkan seperti olahraga bersama, kegiatan sosial, atau kegiatan relaksasi
  • Memastikan beban kerja dibagi secara merata dan proporsional berdasarkan kompetensi dan kapasitas masing-masing staf

Strategi Berbasis Partisipasi dan Pemberdayaan

  • Melibatkan tenaga kesehatan dalam pengambilan keputusan yang menyangkut langsung pekerjaan mereka
  • Memberikan otonomi yang memadai dalam pengelolaan unit kerja masing-masing
  • Mendorong budaya inovasi dengan memberikan penghargaan nyata terhadap ide-ide perbaikan yang berhasil diimplementasikan
  • Membangun tim multidisiplin yang solid dengan peran dan tanggung jawab yang jelas serta dihormati oleh semua pihak

 

Pengukuran Motivasi Kerja

Untuk dapat mengelola motivasi secara efektif, manajemen rumah sakit perlu mengukurnya secara berkala dengan menggunakan pendekatan yang tepat:

  1. Survei motivasi kerja: Menggunakan instrumen terstandarisasi seperti Work Motivation Inventory atau kuesioner berbasis teori Herzberg yang telah divalidasi secara ilmiah
  2. Exit interview: Wawancara mendalam saat tenaga kesehatan mengundurkan diri untuk memahami faktor-faktor demotivasi yang perlu diperbaiki
  3. Penilaian kinerja berkala: Mengintegrasikan indikator motivasi dalam sistem penilaian kinerja tahunan secara sistematis
  4. Focus Group Discussion (FGD): Diskusi kelompok terarah untuk menggali persepsi dan kebutuhan staf secara kualitatif dan mendalam
  5. Indeks kepuasan karyawan: Survei rutin yang mengukur tingkat kepuasan sebagai indikator proksi dari motivasi kerja

 

Pesan dr. Rifan

Motivasi kerja tenaga kesehatan adalah variabel kunci yang menentukan kualitas pelayanan, produktivitas, dan keberlanjutan sistem kesehatan di rumah sakit. Ia bersifat multidimensional karena dipengaruhi oleh faktor internal individu maupun eksternal organisasi, sehingga pendekatannya pun harus komprehensif dan berbasis bukti ilmiah.

Sebagai seorang dokter dan pengelola pelayanan di rumah sakit daerah, saya percaya bahwa investasi dalam motivasi tenaga kesehatan bukan sekadar pengeluaran sumber daya manusia yang bisa ditunda. Ia adalah investasi strategis dalam mutu pelayanan dan kepercayaan masyarakat terhadap institusi rumah sakit kita.

Manajemen yang berhasil membangun ekosistem motivasi yang kuat akan menuai manfaat berupa staf yang loyal, pasien yang puas, dan organisasi yang terus berkembang. Dalam era Jaminan Kesehatan Nasional yang menuntut efisiensi sekaligus kualitas, rumah sakit yang mampu menjaga dan meningkatkan motivasi tenaga kesehatannya akan memiliki keunggulan yang tidak mudah ditiru oleh kompetitor mana pun.

Motivasi bukan kemewahan. Ia adalah kebutuhan dasar setiap tenaga kesehatan yang berdedikasi untuk memberikan yang terbaik bagi pasiennya.

 

Referensi

Motivasi Kerja Tenaga Kesehatan: Studi Empiris

  1. D’Alleva A, Coco A, Pelusi G, Gatti C, Bussotti P, Lazzari D, Bracci M, Minelli A, Gasperini B, Prospero E. Impact of work motivation on occupational health in healthcare workers. Healthcare (Basel). 2023;11(23):3056. doi:10.3390/healthcare11233056

  2. Karaferis D, Aletras V, Raikou M, Niakas D. Factors influencing motivation and work engagement of healthcare professionals. Mater Sociomed. 2022;34(3):216-224. doi:10.5455/msm.2022.34.216-224

  3. Yosef T, Nigussie T, Alemayehu A, Ayele G. Health workers’ motivation was significantly higher in private than public hospitals: a comparative cross-sectional study. Front Public Health. 2025;13:1452229. doi:10.3389/fpubh.2025.1452229

  4. Tsegay GH, Gebre-Egziabher BB, Tesfahun AT, et al. Job motivation and associated factors among healthcare professionals serving in primary hospitals in the Central Gondar Zone, Northwest Ethiopia: a mixed-methods approach. Front Public Health. 2025;13:1494447. doi:10.3389/fpubh.2025.1494447

Teori Dua Faktor Herzberg dalam Konteks Kesehatan

  1. Govender S, Gumede MV, Mutsvunguma LZ. The application of Herzberg’s two-factor theory of motivation to job satisfaction of healthcare workers. Afr J Prim Health Care Fam Med. 2020;12(1):a2235. doi:10.4102/phcfm.v12i1.2235

  2. Groene O. Two-factor theory at the intersection of health care management and patient care quality. Int J Health Care Qual Assur. 2012;25(7):554-564. doi:10.1108/09526861211270069

  3. Afzal A, Ahmad N, Jan F, Waqas M, Akhtar A. Assessing the impact of Herzberg’s two-factor motivation theory on job satisfaction: a study of employees in the Punjab Healthcare Commission. Soc Bus Sci Econ Educ Rev. 2024;2(9):431-434. doi:10.61631/sbsee.v2i9.3148

Teori Hierarki Kebutuhan Maslow dalam Konteks Tenaga Kesehatan

  1. Martin A, Downes S, Moore M, O’Brien T. Physician wellbeing in a national rehabilitation hospital: a qualitative study utilizing Maslow’s hierarchy of needs as a framework for analysis. BMC Health Serv Res. 2025;25(1):152. doi:10.1186/s12913-025-12255-9

  2. Moradi T, Maghaminejad F, Azizi-Fini I. Nursing and Maslow’s hierarchy: a health care pyramid for staying connected during COVID-19. Nurse Leader. 2021;19(5):525-529. doi:10.1016/j.mnl.2021.07.002

Teori McClelland dalam Keperawatan dan Tenaga Kesehatan

  1. Nkosi ZZ. The motivational needs of primary health care nurses to acquire power as leaders in a mine clinic setting. Health SA Gesondheid. 2017;22(1):108-116. doi:10.4102/hsag.v22i0.961

  2. Shahhosseini Z, Hamzehgardeshi Z. The relationship between clinical competence and motivation needs of nurses based on the McClelland theory. Mater Sociomed. 2015;27(4):257-261. doi:10.5455/msm.2015.27.257-261

Teori Harapan Vroom dan Motivasi Tenaga Medis

  1. Shrestha AK, Lama D, Bhattarai S. Expectancy value theory: motivating healthcare workers toward performance improvement. Saudi J Nurs Health Care. 2021;4(2):431-434. doi:10.36348/sjnhc.2021.v04i02.001

  2. Phalen AG. Expectancy theory: application to residency education and surgical training. J Surg Educ. 2015;72(3):430-436. doi:10.1016/j.jsurg.2014.11.001

Retensi, Turnover, dan Kinerja Tenaga Kesehatan

  1. Van den Berghe I, Willems R, Sermeus W, Van Bogaert P, Lindqvist R, Ryckwaert C, et al. The race to retain healthcare workers: a systematic review on factors that impact retention of nurses and physicians in hospitals. Healthcare (Basel). 2023;11(6):898. doi:10.3390/healthcare11060898

  2. Aidoo EO, Darko EO. Motivation and labour turnover in the health sector: evidence from Dunkwa-On-Offin Government Hospital, Ghana. Asian J Soc Sci Manag Stud. 2020;7(2):112-121. doi:10.20448/journal.500.2020.72.112.121

aPengukuran dan Pendekatan Metodologis Motivasi

  1. Bradley S, Kamwendo F, Masanja H, et al. How to do (or not to do)… measuring health worker motivation in surveys in low- and middle-income countries. Health Policy Plan. 2017;32(10):1337-1348. doi:10.1093/heapol/czx158

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terkait

Lahir di Aek Kanopan, Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara, 29 Oktober 1992. Menyelesaikan pendidikan dasar dan menengahnya di kota kelahiran lalu menyelesaikan pendidikan tingginya pada Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. dr. Rifan mendapatkan medali Emas pada Olimpiade Kedokteran Regional Sumatera Pertama untuk cabang Kardiovaskular-Respirologi dan menghantarkan dirinya menjadi Peringkat 1 Mahasiswa Berprestasi Universitas Syiah Kuala pada tahun 2013. Pada tahun 2014, ia mendapatkan penghargaan Peringkat 1 Mahasiswa Kedokteran Berprestasi Se-Sumatera dari ISMKI Wilayah I. Di tahun 2019, dr. Rifan mendapatkan penghargaan peserta terbaik 1 dalam Latihan Dasar CPNS Angkatan 3 Tahun 2019 di LPMP Sumatera Utara. dr. Rifan juga mendapat penghargaan peserta terbaik 1 dalam Pelatihan Kepemimpinan Administrator (PKA) Angkatan 4 tahun 2024 di PPSDM Kemendagri Regional Bukittinggi. Proyek Aksi Perubahan Kinerja Organisasi dr. Rifan pada PKA tersebut yang berjudul Departemen Pengalaman Pasien RSUD Aek Kanopan (DEPAN RS) juga mendapat peringkat 1 Lomba Inovasi OPD Tingkat Kabupaten Labuhanbatu Utara Tahun 2025. dr. Rifan terpilih untuk mengikuti pelatihan Reformers Academy Batch 2 dari Lembaga Administrasi Negara dan KTM Solusions. Selain itu, dr. Rifan juga aktif menulis artikel kedokteran dan kesehatan baik pada situs pribadi drrifan.id dan beberapa situs lainnya. Di samping itu beliau juga sedang mengembangkan beberapa pelatihan yaitu Pelatihan Teknik Belajar dan Public Speaking untuk Pelayanan Kesehatan Prima (Public Speaking for Healthcare Service Excellent).