Pada artikel sebelumnya tentang komunikasi tenaga kesehatan, saya membahas bagaimana miskomunikasi bisa berakibat fatal bagi keselamatan pasien. Salah satu solusi paling praktis dan sudah terbukti di lapangan adalah kerangka SBAR, sebuah metode komunikasi terstruktur yang kini menjadi standar di banyak rumah sakit, termasuk sebagai bagian dari standar akreditasi rumah sakit di Indonesia.
Bagi Anda yang bekerja di dunia kesehatan, istilah ini mungkin sudah sering didengar saat serah terima pasien atau pelaporan kondisi kritis. Namun cukup banyak tenaga kesehatan yang tahu istilahnya, tapi belum benar-benar memahami cara menerapkannya dengan konsisten.

Kerangka SBAR adalah singkatan dari empat elemen komunikasi yang disusun secara berurutan:
Bagian ini menjawab pertanyaan: apa yang sedang terjadi pada pasien saat ini? Penyampai informasi menyebutkan identitas diri, asal unit, identitas pasien, serta kondisi yang membuat laporan ini perlu disampaikan.
Bagian ini memberi konteks: riwayat penyakit pasien saat ini, alasan pasien dirawat, serta tindakan atau pengobatan yang sudah diberikan sejauh ini.
Bagian ini berisi penilaian klinis dari penyampai informasi terhadap kondisi pasien berdasarkan data yang ada, bukan sekadar melaporkan angka tanpa interpretasi.
Bagian penutup ini menyampaikan apa yang diperlukan atau diharapkan selanjutnya, misalnya permintaan agar dokter segera memeriksa pasien, atau usulan tindakan tertentu.
Empat elemen ini dirancang agar informasi klinis tersampaikan secara ringkas, runtut, dan tidak menimbulkan multitafsir, baik dalam situasi rutin maupun darurat.
Ada beberapa alasan konkret kenapa kerangka SBAR layak menjadi kebiasaan, bukan sekadar formalitas administratif:
Pertama, SBAR terbukti menurunkan risiko kesalahan akibat miskomunikasi. Sebagian besar insiden keselamatan pasien di rumah sakit berakar dari informasi yang tidak tersampaikan secara lengkap atau tepat waktu, terutama saat serah terima antar shift atau saat melapor ke dokter jaga.
Kedua, SBAR membantu tenaga kesehatan berpikir lebih terstruktur, bukan hanya berbicara lebih rapi. Dengan mengikuti alur Situation, Background, Assessment, Recommendation, penyampai informasi dipaksa menyusun pemikirannya secara sistematis sebelum berbicara, bukan sekadar menyampaikan apa yang terlintas di pikiran.
Ketiga, SBAR mengurangi hambatan akibat perbedaan hierarki. Format yang baku dan setara ini memberi tenaga kesehatan junior kerangka yang jelas untuk melaporkan kondisi kritis kepada senior atau dokter, tanpa merasa canggung karena strukturnya sudah disepakati bersama.
Keempat, SBAR menjadi bagian dari standar akreditasi rumah sakit di Indonesia, sehingga penerapannya bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mutu pelayanan yang diukur secara resmi.
Untuk memperjelas, berikut gambaran sederhana penerapan SBAR saat seorang perawat melaporkan kondisi pasien ke dokter jaga melalui telepon:
Alur sederhana ini membuat percakapan yang tadinya bisa panjang dan bertele-tele menjadi ringkas, jelas, dan langsung pada inti masalah, dalam waktu kurang dari satu menit.
Dari pengalaman saya mengelola pelayanan di RSUD, beberapa kesalahan ini paling sering terjadi saat SBAR diterapkan:
Bila unit atau fasilitas Anda belum menerapkan SBAR secara konsisten, berikut langkah sederhana untuk memulainya:
Silakan Klik Tautan di Bawah ini untuk Memahami Seberapa Baik Anda Menggunakan Kerangka SBAR berikut:
https://drrifan.id/sbar
Kerangka SBAR bukan sekadar akronim yang dihafal saat pelatihan, tapi kebiasaan berpikir dan berbicara yang, bila diterapkan konsisten, benar-benar bisa menyelamatkan nyawa pasien. Ini juga selaras dengan apa yang saya bahas di artikel sebelumnya tentang komunikasi tenaga kesehatan: bahwa komunikasi yang baik adalah keterampilan yang bisa dipelajari, bukan bakat bawaan.
Kalau Anda penasaran seberapa terstruktur gaya komunikasi Anda sejauh ini, termasuk dalam hal melaporkan kondisi pasien, coba isi tes gaya komunikasi tenaga kesehatan yang sudah saya siapkan. Hasilnya bisa jadi titik awal untuk mulai membiasakan diri dengan kerangka seperti SBAR ini.