Oversharing Hoaks Kesehatan – Ancaman Nyata Era Digital

oversharing hoaks kesehatan

Kita hidup di era di mana informasi bergerak lebih cepat dari kebenaran itu sendiri. Dalam hitungan detik, sebuah pesan tentang “obat mujarab” yang belum terbukti secara ilmiah sudah tersebar ke ribuan orang melalui WhatsApp, Facebook, atau TikTok. Fenomena ini bukan sekadar masalah teknologi. Ia adalah masalah kesehatan masyarakat yang serius, berdampak langsung pada perilaku, keputusan medis, dan bahkan keselamatan jiwa.

ilustrasi hoaks kesehatan
ilustrasi hoaks kesehatan

Sebagai dokter yang setiap hari berhadapan langsung dengan pasien, saya sering menerima pertanyaan yang diawali dengan kalimat: “Dokter, saya baca di WhatsApp kalau…” atau “Katanya di YouTube, penyakit ini bisa sembuh dengan…”. Pertanyaan-pertanyaan ini bukan datang dari orang yang tidak peduli dengan kesehatan. Justru sebaliknya, mereka peduli. Namun kepedulian yang tidak diimbangi dengan literasi digital yang cukup, ditambah dengan kebiasaan oversharing informasi tanpa verifikasi, telah menciptakan ekosistem informasi kesehatan yang berbahaya.

Tulisan ini bertujuan untuk mengupas secara komprehensif fenomena oversharing hoaks kesehatan, mulai dari definisi, mekanisme penyebaran, dampak kesehatan masyarakat, hingga strategi yang dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan dan masyarakat umum untuk melawannya.

Memahami Hoaks Kesehatan dan Oversharing

Definisi dan Jenis Informasi Palsu

Jenis Informasi Palsu (Srijankedia (original), Eman235 (vector recreation), CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

Sebelum membahas oversharing, penting untuk memahami perbedaan terminologi yang sering digunakan secara bergantian namun memiliki makna yang berbeda:

  • Misinformation (informasi yang salah): Informasi yang keliru namun disebarkan tanpa niat untuk menipu. Pelakunya percaya bahwa informasi tersebut benar.
  • Disinformation (disinformasi): Informasi yang salah dan sengaja dibuat serta disebarkan untuk menyesatkan, seringkali dengan motif politik, ekonomi, atau ideologis.
  • Hoaks kesehatan: Klaim kesehatan yang tidak berdasarkan bukti ilmiah yang valid, baik yang disebarkan dengan sengaja maupun tidak, yang berpotensi merugikan kesehatan masyarakat.
  • Infodemic: Istilah yang digunakan WHO untuk menggambarkan ledakan informasi yang berlebihan, baik yang benar maupun yang salah, selama krisis kesehatan, sehingga menyulitkan masyarakat menemukan sumber tepercaya.
Bila ada informasi palsu maka sebaiknya berhenti di kita
Bila ada informasi palsu maka sebaiknya berhenti di kita

Oversharing sebagai Perilaku Berbagi Berlebihan

Oversharing dalam konteks digital merujuk pada perilaku berbagi informasi secara berlebihan, impulsif, dan tanpa proses verifikasi yang memadai. Dalam konteks kesehatan, oversharing hoaks terjadi ketika seseorang meneruskan atau mempublikasikan ulang konten kesehatan yang belum terverifikasi, seringkali didorong oleh emosi, kepedulian terhadap orang terdekat, atau keinginan untuk tampak informatif di hadapan komunitasnya.

Penelitian menunjukkan bahwa oversharing di media sosial sangat berkaitan dengan kecemasan, perilaku mencari perhatian, dan kecanduan media sosial, yang secara bersama-sama memprediksi luasnya dan dalamnya informasi yang dibagikan. Dalam konteks kesehatan, kombinasi kekhawatiran terhadap penyakit dan kemudahan teknologi digital menciptakan kondisi yang sangat subur bagi penyebaran hoaks.​

Mengapa Hoaks Kesehatan Begitu Mudah Menyebar?

Faktor Psikologis Individu

Hoaks kesehatan tidak menyebar karena masyarakat bodoh. Ia menyebar karena memanfaatkan cara kerja otak manusia yang sangat fundamental:

  • Bias konfirmasi: Orang cenderung menerima dan menyebarkan informasi yang sesuai dengan keyakinan yang sudah ada sebelumnya. Seseorang yang sudah tidak percaya pada vaksin akan lebih mudah mempercayai dan menyebarkan konten antivaksin.
  • Pemikiran intuitif versus analitik: Saat emosi tinggi, seperti saat sakit atau menghadapi pandemi, otak cenderung menggunakan pemikiran cepat dan intuitif daripada analisis kritis yang lebih lambat.
  • Efek kebenaran ilusi (illusory truth effect): Informasi yang berulang kali diterima cenderung dianggap benar, meskipun sejak awal sudah tidak akurat.
  • Motivasi sosial: Keinginan untuk melindungi orang-orang yang dicintai mendorong seseorang berbagi informasi kesehatan tanpa verifikasi. Niatnya baik, namun dampaknya bisa berbahaya.

Studi sistematis yang mendalam menemukan bahwa kerentanan terhadap misinformasi kesehatan digerakkan oleh berbagai proses psikologis yang kompleks, termasuk rendahnya kemampuan berpikir analitik, tingginya kepercayaan intuitif, dan rendahnya literasi kesehatan.​

ilustrasi lindungi diri dari hoaks kesehatan
ilustrasi lindungi diri dari hoaks kesehatan

Faktor Konten: Mengapa Hoaks Lebih Menarik dari Fakta?

Sebuah studi monumental yang diterbitkan di jurnal Science menemukan bahwa informasi palsu menyebar enam kali lebih cepat dibandingkan informasi yang benar di Twitter, dan jangkauannya jauh lebih luas. Ini terjadi karena konten hoaks biasanya:

  • Mengandung unsur emosional yang kuat seperti ketakutan, kemarahan, atau harapan.
  • Disajikan dengan bahasa yang sederhana, mudah dipahami, dan seringkali menggunakan narasi personal yang menyentuh.
  • Memberikan “jawaban sederhana” atas masalah kesehatan yang kompleks.
  • Mengandung elemen sensasional yang memicu rasa ingin tahu dan dorongan untuk segera berbagi.

Konten hoaks kesehatan seringkali dikemas dalam format yang menarik secara visual, menggunakan judul yang provokatif, dan menampilkan testimonial pribadi yang tampak meyakinkan. Sementara informasi berbasis bukti ilmiah seringkali lebih kompleks, penuh terminologi teknis, dan tidak semenarik konten hoaks dari sisi kemasan.

 

Faktor Platform Digital

Platform media sosial dirancang untuk memaksimalkan keterlibatan pengguna (engagement), bukan untuk memaksimalkan keakuratan informasi. Algoritma yang memprioritaskan konten berdasarkan jumlah interaksi secara tidak langsung memperkuat penyebaran hoaks yang bersifat emosional dan sensasional.

Tinjauan sistematis menunjukkan bahwa proporsi misinformasi kesehatan di media sosial mencapai hingga 51 persen pada konten terkait vaksin, 28,8 persen pada konten COVID-19, dan 60 persen pada konten terkait pandemi. Efek “echo chamber” atau ruang gema, di mana pengguna hanya terpapar konten yang sesuai dengan keyakinan mereka, semakin memperkuat dan mengakarkan kepercayaan terhadap hoaks.

Tipologi Hoaks Kesehatan yang Paling Sering Beredar

Selama bertahun-tahun berpraktik dan aktif dalam edukasi kesehatan publik, saya mengidentifikasi beberapa kategori hoaks kesehatan yang paling sering ditemui di masyarakat Indonesia:

 

Hoaks Terapi dan Pengobatan

  • Klaim bahwa bahan-bahan alami tertentu dapat menyembuhkan penyakit kronis seperti kanker, diabetes, atau hipertensi tanpa pengobatan medis.
  • Informasi tentang “obat mujarab” yang diklaim mampu menyembuhkan berbagai penyakit sekaligus.
  • Anjuran menghentikan obat dokter dan beralih ke terapi alternatif tanpa dasar ilmiah.

Hoaks Vaksinasi

  • Klaim palsu tentang kandungan berbahaya dalam vaksin.
  • Tuduhan bahwa vaksin adalah penyebab autisme, infertilitas, atau penyakit tertentu.
  • Informasi keliru tentang efek samping vaksin yang dibesar-besarkan atau direkayasa.

Hoaks Nutrisi dan Gaya Hidup

  • Klaim bahwa makanan atau minuman tertentu dapat mencegah atau menyembuhkan penyakit serius.
  • Informasi tentang “superfoods” dengan manfaat medis yang berlebihan dan tidak berdasar.
  • Larangan mengonsumsi makanan tertentu berdasarkan mitos tanpa bukti ilmiah.

Hoaks Tanda dan Gejala Penyakit

  • Informasi keliru tentang cara mengenali tanda bahaya suatu penyakit yang justru menyesatkan.
  • Panduan pertolongan pertama yang tidak berdasarkan standar medis yang benar.
  • Klaim diagnostik mandiri menggunakan metode yang tidak valid secara ilmiah.

Hoaks Kebijakan Kesehatan

  • Narasi konspirasi tentang vaksinasi massal, program pemerintah, atau kebijakan kesehatan publik.
  • Informasi keliru yang mempermasalahkan legitimasi institusi kesehatan seperti WHO, Kemenkes, atau IDI.

Dampak Oversharing Hoaks Kesehatan

Dampak terhadap Individu dan Pasien

Dampak paling langsung dari hoaks kesehatan dirasakan oleh individu yang mempercayai dan bertindak berdasarkan informasi yang salah. Pasien yang percaya pada hoaks bisa menunda atau bahkan menolak pengobatan medis yang seharusnya mereka terima, memilih terapi alternatif yang tidak efektif dan berisiko, mengonsumsi obat atau suplemen dalam dosis yang salah, dan mengalami keterlambatan diagnosis yang berujung pada perburukan kondisi kesehatan.

ilustrasi dampak oversharing hoaks kesehatan
ilustrasi dampak oversharing hoaks kesehatan

Penelitian menunjukkan bahwa paparan terhadap misinformasi kesehatan secara konsisten berkaitan dengan peningkatan perilaku tidak sehat, perubahan keyakinan yang negatif terhadap pengobatan berbasis bukti, serta penurunan motivasi untuk mencari pertolongan medis yang tepat.​

Dampak terhadap Kesehatan Masyarakat

Pada skala populasi, oversharing hoaks kesehatan memiliki dampak yang jauh lebih luas dan serius:

  • Peningkatan hesitansi vaksin: Hoaks antivaksin yang tersebar luas berkontribusi langsung pada penurunan cakupan imunisasi, yang berujung pada kebangkitan kembali penyakit yang seharusnya sudah dapat dikendalikan.
  • Overloading fasilitas kesehatan: Informasi palsu tentang pengobatan atau tanda bahaya penyakit dapat mendorong gelombang kunjungan fasilitas kesehatan yang tidak perlu.
  • Penghambatan respons krisis kesehatan: Saat pandemi atau wabah terjadi, infodemic yang menyertai justru mempersulit respons kesehatan publik karena masyarakat kebingungan membedakan informasi yang benar.
  • Erosi kepercayaan terhadap tenaga kesehatan: Ketika masyarakat lebih mempercayai konten media sosial dibandingkan saran dokter, hubungan terapeutik yang menjadi fondasi pelayanan kesehatan menjadi terganggu.

WHO menyatakan secara tegas bahwa infodemik dan misinformasi kesehatan berdampak negatif secara nyata terhadap perilaku kesehatan masyarakat, khususnya dalam meningkatkan hesitansi vaksin, menunda pencarian layanan kesehatan, dan mengganggu alokasi sumber daya kesehatan.

Dampak terhadap Tenaga Kesehatan

Sebagai tenaga kesehatan, saya merasakan langsung beban tambahan yang ditimbulkan oleh hoaks. Setiap sesi konsultasi semakin banyak waktu yang terserap untuk meluruskan informasi yang salah yang sudah terlanjur dipercaya pasien. Hoaks tidak hanya merepotkan secara administratif, tetapi juga dapat merusak kepercayaan pasien terhadap rekomendasi medis yang diberikan oleh dokternya sendiri.

 

Selain itu, tenaga kesehatan yang aktif di media sosial untuk mengedukasi masyarakat semakin sering berhadapan dengan serangan dan tuduhan dari pendukung narasi hoaks yang merasa keyakinannya terancam. Fenomena ini berdampak negatif pada kesejahteraan psikologis dan motivasi tenaga kesehatan dalam berpartisipasi dalam edukasi publik.

Konteks Indonesia: Ekosistem yang Sangat Rentan

Indonesia memiliki karakteristik unik yang membuatnya sangat rentan terhadap penyebaran hoaks kesehatan:

  • Penetrasi WhatsApp yang sangat tinggi: WhatsApp adalah platform media sosial paling dominan di Indonesia, dan arsitektur pesan terenkripsi dalam grup tertutup menciptakan ekosistem ideal untuk penyebaran hoaks karena sangat sulit untuk dimoderasi.
  • Populasi besar dengan literasi digital yang tidak merata: Indonesia memiliki lebih dari 270 juta penduduk dengan tingkat literasi digital yang sangat bervariasi antar wilayah dan kelompok usia.
  • Tingginya kepercayaan pada komunitas informal: Pesan dari anggota keluarga, teman, atau tokoh agama di grup WhatsApp seringkali lebih dipercaya dibandingkan informasi dari institusi kesehatan resmi.
  • Keterbatasan akses ke tenaga kesehatan di daerah terpencil: Di wilayah yang jauh dari fasilitas kesehatan, informasi dari media sosial sering menjadi “konsultasi medis” pertama dan satu-satunya.
  • Budaya berbagi yang kuat: Budaya gotong royong dan kepedulian sosial yang tinggi, meskipun merupakan nilai positif, dalam konteks digital dapat mendorong kebiasaan meneruskan pesan tanpa verifikasi dengan dalih “siapa tahu bermanfaat.”

Survei di Indonesia menemukan bahwa responden paling mudah berbagi konten yang berkaitan dengan kesehatan, baik yang benar maupun yang salah, dibandingkan kategori konten lainnya. Ini menunjukkan bahwa kesehatan adalah topik yang paling emosional dan paling mudah memicu perilaku oversharing di masyarakat Indonesia.

Mengapa Hoaks Bertahan Meski Sudah Dibantah?

Salah satu frustrasi terbesar bagi tenaga kesehatan adalah kenyataan bahwa meskipun hoaks sudah berulang kali dibantah secara resmi, ia tetap beredar dan dipercaya. Ada penjelasan ilmiah di balik fenomena ini.

Riset menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap misinformasi sangat resisten terhadap koreksi karena beberapa mekanisme psikologis. Pertama, koreksi yang diterima belakangan lebih lemah pengaruhnya dibandingkan paparan awal terhadap hoaks. Kedua, upaya membantah hoaks seringkali justru memperkuat ingatan terhadap klaim yang salah, sebuah fenomena yang dikenal sebagai backfire effect. Ketiga, identitas diri yang sudah terikat dengan kepercayaan tertentu membuat seseorang sangat sulit menerima informasi yang bertentangan.

Implikasi praktisnya bagi tenaga kesehatan sangat penting: strategi counter-hoaks yang efektif bukan sekadar membantah, melainkan harus memberikan narasi alternatif yang mudah dipahami, emosional, dan dapat diingat, serta disampaikan sebelum hoaks sempat beredar luas.

Strategi Melawan Oversharing Hoaks Kesehatan

Strategi Individual: Membangun Budaya Verifikasi

Setiap individu dapat berkontribusi menghentikan rantai penyebaran hoaks dengan membangun kebiasaan berikut sebelum meneruskan informasi kesehatan:

  • Terapkan prinsip STOP sebelum share: Berhenti sejenak, pikirkan apakah informasi ini masuk akal, cari sumber terpercaya, dan baru tentukan apakah perlu disebarkan.
  • Periksa sumber informasi: Apakah informasi berasal dari jurnal ilmiah, institusi kesehatan resmi, atau tenaga kesehatan berlisensi? Atau hanya dari akun anonim tanpa kredensial yang jelas?
  • Waspadai konten yang sangat membangkitkan emosi: Informasi kesehatan yang terlalu menakutkan, terlalu menjanjikan, atau terlalu mengejutkan harus segera dikritisi.
  • Gunakan platform fact-checking resmi: Di Indonesia, tersedia platform seperti Turn Back Hoax, Cek Fakta, dan kanal resmi Kemenkes yang secara aktif memverifikasi informasi.
Ilustrasi bagaimana saintis mengidentifikasi misinformasi tentang vaksin (Dasaptaerwin, CC0, via Wikimedia Commons)

Strategi bagi Tenaga Kesehatan

Tenaga kesehatan berada di garis terdepan dalam melawan hoaks, tidak hanya di ruang konsultasi tetapi juga di ruang digital:

  • Aktif sebagai content creator kesehatan: Penelitian menunjukkan bahwa dokter dan tenaga kesehatan yang aktif membuat konten edukasi berbasis bukti di media sosial memiliki dampak signifikan dalam melawan hoaks kesehatan di Indonesia.​
  • Gunakan pendekatan inokulasi: Sampaikan kepada pasien tentang teknik-teknik umum yang digunakan hoaks sebelum mereka terpapar, sehingga mereka memiliki kekebalan terhadap misinformasi.
  • Komunikasi yang empatik dan tidak menghakimi: Saat pasien datang dengan kepercayaan pada hoaks, pendekatan yang menghakimi justru memperkuat resistensi. Gunakan teknik motivational interviewing untuk membantu pasien secara bertahap merevisi keyakinannya.
  • Kolaborasi antar profesi kesehatan: Kampanye melawan hoaks akan jauh lebih efektif jika dokter, perawat, apoteker, ahli gizi, dan tenaga kesehatan lainnya bergerak secara terkoordinasi.

Strategi Institusional dan Kebijakan

  • Penguatan regulasi platform digital: Pemerintah perlu mendorong platform media sosial untuk menerapkan kebijakan moderasi konten kesehatan yang lebih ketat dan transparan.
  • Integrasi literasi digital dalam kurikulum pendidikan: Kemampuan mengevaluasi informasi kesehatan di era digital perlu diajarkan sejak dini, mulai dari tingkat sekolah dasar.
  • Penguatan sistem komunikasi risiko kesehatan: Institusi kesehatan perlu berinvestasi dalam strategi komunikasi publik yang proaktif, cepat, dan berbasis data agar dapat mendahului penyebaran hoaks saat krisis terjadi.
  • Membangun jaringan influencer kesehatan: Kolaborasi antara Kemenkes, IDI, PPNI, dan tokoh-tokoh digital yang memiliki kredibilitas tinggi di masyarakat untuk memperluas jangkauan informasi kesehatan yang akurat.

Strategi Berbasis Teknologi

  • Pengembangan alat deteksi hoaks berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dapat mengidentifikasi dan menandai konten kesehatan yang berpotensi menyesatkan secara otomatis.
  • Pemanfaatan chatbot kesehatan yang terhubung dengan basis data informasi medis terpercaya sebagai saluran alternatif bagi masyarakat yang mencari informasi kesehatan.
  • Sistem peringatan dini (early warning system) untuk mendeteksi dan merespons penyebaran hoaks kesehatan sebelum mencapai skala yang berbahaya.

Tanggung Jawab Etis dalam Berbagi Informasi Kesehatan

Dalam perspektif etika kesehatan, menyebarkan informasi kesehatan yang tidak benar, meskipun tanpa niat buruk, tetap memiliki konsekuensi moral yang serius. Prinsip non-maleficence atau “jangan menyebabkan bahaya” yang menjadi landasan etika kedokteran seharusnya juga diterapkan dalam perilaku berbagi informasi di media sosial.

Setiap individu, terlebih tenaga kesehatan, memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa informasi yang disebarkannya tidak berpotensi merugikan orang lain. Dalam era digital, tanggung jawab ini tidak berhenti di pintu klinik atau rumah sakit. Ia meluas ke setiap platform digital yang kita gunakan sehari-hari.

Prinsip sederhana yang saya pegang teguh dan sering saya sampaikan kepada pasien maupun kolega: “Lebih baik diam daripada menyebarkan informasi yang belum diverifikasi. Satu pesan yang salah di grup WhatsApp dapat merugikan orang yang kita sayangi.”

Pesan dr. Rifan

Oversharing hoaks kesehatan bukan fenomena yang akan hilang dengan sendirinya. Ia akan terus ada selama ada platform digital yang memfasilitasi penyebaran informasi tanpa filter, selama ada individu yang rentan terhadap manipulasi emosional, dan selama literasi digital kesehatan masyarakat kita masih perlu ditingkatkan.

Namun, saya optimistis. Saya melihat semakin banyak tenaga kesehatan yang berani keluar dari zona nyaman dan mengambil peran aktif sebagai edukator digital. Saya melihat semakin banyak masyarakat yang mulai kritis dan tidak langsung meneruskan pesan tanpa bertanya terlebih dahulu. Dan saya melihat semakin banyak platform dan institusi yang mulai serius menangani masalah ini.

Melawan hoaks kesehatan adalah perjuangan jangka panjang yang tidak bisa dimenangkan oleh satu pihak saja. Ia membutuhkan kolaborasi antara tenaga kesehatan, institusi pendidikan, pemerintah, platform digital, dan masyarakat umum. Karena pada akhirnya, informasi yang benar adalah obat yang paling murah, paling aman, dan paling efektif yang bisa kita berikan kepada masyarakat.

Daftar Referensi

Perilaku Oversharing dan Psikologi Misinformasi

  1. Shabahang R, Shim H, Aruguete MS, Zsila A. Oversharing on social media: anxiety, attention-seeking, and social media addiction predict the breadth and depth of sharing. Psychol Rep. 2024;127(2):913-933. doi:10.1177/00332941221122861
  2. Ecker UKH, Lewandowsky S, Cook J, Schmid P, Fazio LK, Brashier N, et al. The psychological drivers of misinformation belief and its resistance to correction. Nat Rev Psychol. 2022;1(1):13-29. doi:10.1038/s44159-021-00006-y
  3. Luo T, Chen W. Why do people believe health misinformation and who is at risk? A systematic review. Soc Sci Med. 2023;316:115563. doi:10.1016/j.socscimed.2022.115563
  4. Vo KT, Paul CL, Hall AE. Why people share misinformation on social media: an integration of dual-process and uses and gratifications theories. Humanit Soc Sci Commun. 2025;12(1):417. doi:10.1057/s41599-025-05511-6

 

Penyebaran Misinformasi Kesehatan di Media Sosial

  1. Osei E, Mashamba-Thompson TP. The role of social media in health misinformation and infodemics during public health crises: systematic scoping review. JMIR Infodemiology. 2023;3:e38783. doi:10.2196/38783
  2. Suarez-Lledo V, Alvarez-Galvez J. Prevalence of health misinformation on social media: systematic review. J Med Internet Res. 2021;23(1):e17187. doi:10.2196/17187
  3. Mavragani A. Medical and health-related misinformation on social media: bibliometric study of the scientific literature. J Med Internet Res. 2022;24(1):e28152. doi:10.2196/28152
  4. Cinelli M, De Francisci Morales G, Galeazzi A, Quattrociocchi W, Starnini M. The COVID-19 social media infodemic. Sci Rep. 2020;10(1):16598. doi:10.1038/s41598-020-73510-5

 

Infodemic dan Dampak Kesehatan Masyarakat

  1. Carrion-Alvarez D, Tijerina-Salina PX. Infodemics and health misinformation: a systematic review of reviews. J Public Health (Oxf). 2022;44(4):e523-e532. doi:10.1093/pubmed/fdac054
  2. De Bruin WB, Bennett D. Relationships between initial COVID-19 risk perceptions and protective health behaviors: a national survey. Am J Prev Med. 2020;59(2):157-167. doi:10.1016/j.amepre.2020.05.001
  3. Vraga EK, Bode L. Defining misinformation and understanding its bounded nature: using expertise and evidence for describing misinformation. Polit Commun. 2020;37(1):136-144. doi:10.1080/10584609.2020.1716500

 

Dampak Psikologis Misinformasi Kesehatan

  1. Schmid P, Skurka C, Freiling I, Kozman D, Niederdeppe J. The psychological impacts and message features of health misinformation: a systematic review of randomized controlled trials. Eur Psychol. 2023;28(3):183-196. doi:10.1027/1016-9040/a000494
  2. Pennycook G, McPhetres J, Zhang Y, Lu JG, Rand DG. Fighting COVID-19 misinformation on social media: experimental evidence for a scalable accuracy-nudge intervention. Psychol Sci. 2020;31(7):770-780. doi:10.1177/0956797620939054

 

Literasi Digital dan Strategi Melawan Hoaks

  1. Swire-Thompson B, Lazer D. Public health and online misinformation: challenges and recommendations. Annu Rev Public Health. 2020;41:433-451. doi:10.1146/annurev-publhealth-040119-094127
  2. Chou WS, Oh A, Klein WMP. Addressing health-related misinformation on social media. JAMA. 2018;320(23):2417-2418. doi:10.1001/jama.2018.16865
  3. Tran VD, Park J, Lee H, et al. Social media, health misinformation, and literacy: a narrative review. J Health Learn Qual Res. 2022;1(2):45-61. doi:10.58578/jhlqr.v1i2.545

 

Konteks Indonesia

  1. Wiranti A, Sriatmi A, Fatmasari EY. Gender, education, and digital generations as determinants of attitudes toward health information for health workers in West Java, Indonesia. J Public Health Res. 2021;10(1):1826. doi:10.4081/jphr.2021.1826
  2. Habibi R, Burci GL, de Campos TC, et al. Do not violate the International Health Regulations during the COVID-19 outbreak. Lancet. 2020;395(10225):664-666. doi:10.1016/S0140-6736(20)30373-1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terkait

Lahir di Aek Kanopan, Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara, 29 Oktober 1992. Menyelesaikan pendidikan dasar dan menengahnya di kota kelahiran lalu menyelesaikan pendidikan tingginya pada Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. dr. Rifan mendapatkan medali Emas pada Olimpiade Kedokteran Regional Sumatera Pertama untuk cabang Kardiovaskular-Respirologi dan menghantarkan dirinya menjadi Peringkat 1 Mahasiswa Berprestasi Universitas Syiah Kuala pada tahun 2013. Pada tahun 2014, ia mendapatkan penghargaan Peringkat 1 Mahasiswa Kedokteran Berprestasi Se-Sumatera dari ISMKI Wilayah I. Di tahun 2019, dr. Rifan mendapatkan penghargaan peserta terbaik 1 dalam Latihan Dasar CPNS Angkatan 3 Tahun 2019 di LPMP Sumatera Utara. dr. Rifan juga mendapat penghargaan peserta terbaik 1 dalam Pelatihan Kepemimpinan Administrator (PKA) Angkatan 4 tahun 2024 di PPSDM Kemendagri Regional Bukittinggi. Proyek Aksi Perubahan Kinerja Organisasi dr. Rifan pada PKA tersebut yang berjudul Departemen Pengalaman Pasien RSUD Aek Kanopan (DEPAN RS) juga mendapat peringkat 1 Lomba Inovasi OPD Tingkat Kabupaten Labuhanbatu Utara Tahun 2025. dr. Rifan terpilih untuk mengikuti pelatihan Reformers Academy Batch 2 dari Lembaga Administrasi Negara dan KTM Solusions. Selain itu, dr. Rifan juga aktif menulis artikel kedokteran dan kesehatan baik pada situs pribadi drrifan.id dan beberapa situs lainnya. Di samping itu beliau juga sedang mengembangkan beberapa pelatihan yaitu Pelatihan Teknik Belajar dan Public Speaking untuk Pelayanan Kesehatan Prima (Public Speaking for Healthcare Service Excellent).