Akhirnya Lulus?: Sebuah Renungan Bagiku & Rekan Sejawat

Sekarang, kita harus melihat ke depan, menyosong semua keinginan dan ingatlah jalan kita masih panjang.

Sebagian besar dari kita akan menjalani program yang menurut saya pribadi adalah model modern untuk outsourcing atau bahkan yang lebih kasar lagi “perbudakan” dengan dalih pemerataan pelayanan kesehatan. Program Dokter Internship Indonesia sesungguhnya menahan surat izin praktik yang seharusnya sudah resmi kita dapatkan setelah mencapai kompetensi yang diharapkan (lulus UKMPPD) dan bahkan “tidak digaji”. Pemerintah hanya memberikan Bantuan Hidup Dasar yang hingga saat ini besarannya masih di bawah upah minimum regional dan tidak dapat mencukupi kebutuhan sandang, pangan dan papan setiap yang notabenya merupakan kebutuhan hidup dasar. Lalu, Apakah hal ini memudarkan empati kita ? Apakah hal ini merubah hati kita menjadi hati batu? Beranggapan bahwa setelah menyandang gelar profesi ini kita akan menjadi lebih banyak “uang” karena seharusnya profesi ini adalah “kerja hati” dan bukan “investasi”. Jangan biarkan diri kita menjadi orang yang takut bekerja keras untuk melayani pasien dengan sepenuh hati hanya karena tidak mendapatkan tunjangan. Jangan biarkan diri kita mengatakan bahwa “itulah kenyataanya” dan menghilangkan semangat keberanian kita ketika tidak mampu menolong seorang pasien tanpa usaha maksimal. Dalam program ini kita masih dapat menjadi agen perubahan, meninggalkan sesuatu yang tampak pada komunitas di mana kita Internship dan “Leaving a legacy”.

Kita juga tidak sepantasnya takut karena tidak memiliki kebijaksanaan untuk menyatukan teknik pengobatan modern dari barat dengan teknik pengobatan alternatif dari timur, sebuah keterampilan yang memang dibutuhkan di era keterbukaan informasi seperti saat ini. Kita juga tak sepantasnya takut tidak dapat memenuhi peran kita sebagai dokter bintang lima di komunitas. Karena setiap dari kita memiliki kebijaksanaan untuk mengikuti kata hati kita bahkan ketika mengalami ketakutan. Hadapi, biarkan semua ketakutan itu berubah menjadi senyuman karena kita sudah melangkah jauh. Kita sudah berani mengambil tanggung jawab yang sakral dan sulit untuk menjadi seorang dokter.

Pages: 1 2 3 4

0 thoughts on “Akhirnya Lulus?: Sebuah Renungan Bagiku & Rekan Sejawat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terkait

Lahir di Aek Kanopan, Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara, 29 Oktober 1992. Menyelesaikan pendidikan dasar dan menengahnya di kota kelahiran lalu menyelesaikan pendidikan tingginya pada Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. dr. Rifan mendapatkan medali Emas pada Olimpiade Kedokteran Regional Sumatera Pertama untuk cabang Kardiovaskular-Respirologi dan menghantarkan dirinya menjadi Peringkat 1 Mahasiswa Berprestasi Universitas Syiah Kuala pada tahun 2013. Pada tahun 2014, ia mendapatkan penghargaan Peringkat 1 Mahasiswa Kedokteran Berprestasi Se-Sumatera dari ISMKI Wilayah I. Di tahun 2019, dr. Rifan mendapatkan penghargaan peserta terbaik 1 dalam Latihan Dasar CPNS Angkatan 3 Tahun 2019 di LPMP Sumatera Utara. dr. Rifan juga mendapat penghargaan peserta terbaik 1 dalam Pelatihan Kepemimpinan Administrator (PKA) Angkatan 4 tahun 2024 di PPSDM Kemendagri Regional Bukittinggi. Proyek Aksi Perubahan Kinerja Organisasi dr. Rifan pada PKA tersebut yang berjudul Departemen Pengalaman Pasien RSUD Aek Kanopan (DEPAN RS) juga mendapat peringkat 1 Lomba Inovasi OPD Tingkat Kabupaten Labuhanbatu Utara Tahun 2025. dr. Rifan terpilih untuk mengikuti pelatihan Reformers Academy Batch 2 dari Lembaga Administrasi Negara dan KTM Solusions. Selain itu, dr. Rifan juga aktif menulis artikel kedokteran dan kesehatan baik pada situs pribadi drrifan.id dan beberapa situs lainnya. Di samping itu beliau juga sedang mengembangkan beberapa pelatihan yaitu Pelatihan Teknik Belajar dan Public Speaking untuk Pelayanan Kesehatan Prima (Public Speaking for Healthcare Service Excellent).