Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) merupakan suatu kondisi patologis yang terjadi akibat refluks kandungan lambung ke dalam esofagus, menimbulkan berbagai gejala yang melibatkan esofagus, faring, laring, dan saluran napas (Dwiatama & Darusman, 2022; Sakti & Mustika, 2022; Tarigan & Pratomo, 2019). GERD merupakan salah satu gangguan pencernaan yang paling sering terdiagnosis di dunia dengan prevalensi yang terus meningkat setiap tahunnya (Handayani et al., 2023). Prevalensi GERD di seluruh dunia bervariasi sekitar 13% (Suputra & Saputra, 2023), dengan estimasi mencapai 8–33% di berbagai negara (Buntara et al., 2020). Di Asia, prevalensi GERD menunjukkan peningkatan signifikan; misalnya di Malaysia dari 2,7% (1991–1992) menjadi 38,8% (2004), dan di Singapura mencapai 10,5% (Andayani et al., 2016). Di Indonesia, prevalensi GERD di RSUPN Dr. Ciptomangunkusumo meningkat dari 5,7% pada tahun 1997 menjadi 25,18% pada tahun 2002 (Susanto et al., 2023), dengan kasus esofagitis ditemukan sebanyak 22,8% (Tarigan & Pratomo, 2019).

Secara umum, GERD dapat dibedakan menjadi dua tipe, yaitu gejala refluks tanpa adanya inflamasi atau erosi pada mukosa esofagus (non-erosive reflux disease/NERD) dan gejala refluks disertai inflamasi atau erosi pada mukosa esofagus (erosive reflux disease/ERD) (Amukti et al., 2024). Penyakit ini bersifat kronis dan apabila tidak ditangani secara segera dapat mengakibatkan komplikasi yang berujung pada kematian (Dwiatama & Darusman, 2022).
Gejala khas GERD meliputi sensasi terbakar di daerah epigastrium (heartburn), regurgitasi asam (rasa pahit di mulut), mual, dan kesulitan menelan (disfagia) yang dapat merusak lapisan mukosa esofagus (Tayibu et al., 2024). Heartburnmerupakan keluhan yang paling dominan pada penderita GERD, ditandai dengan rasa terbakar di dada (Andayani et al., 2016; Suputra & Saputra, 2023). Regurgitasi merupakan akibat naiknya refluks asam lambung hingga terasa pahit di lidah (Andayani et al., 2016). Penelitian di Rumah Sakit Ibnu Sina Kota Makassar menunjukkan bahwa keluhan nyeri epigastrium (heartburn) merupakan gejala yang paling banyak dialami oleh pasien GERD (Tayibu et al., 2024).
GERD tidak hanya menimbulkan gejala pada esofagus, tetapi juga dapat melibatkan organ lain. Manifestasi ekstraesofagus meliputi gangguan pada orofaring, laring, dan paru-paru (Suputra & Saputra, 2023). Pada anak-anak dan remaja, komplikasi GERD dapat mencakup masalah pernapasan, kesulitan menambah berat badan, dan radang kerongkongan (Waluyo & Solikah, 2023). Gangguan respirasi menjadi salah satu sindrom ekstraesofagus yang paling menantang pada GERD (Surya, 2020). Selain itu, penurunan kualitas tidur dan gangguan tidur juga telah ditambahkan ke dalam daftar manifestasi ekstraesofagus GERD, di mana terdapat hubungan dua arah antara GERD dan kualitas tidur (Suputra & Saputra, 2023).
Heartburn pada malam hari dianggap sebagai mekanisme dasar terhadap penurunan kualitas tidur pada pasien GERD (Suputra & Saputra, 2023). Hubungan GERD dan kualitas tidur berkaitan dengan pengosongan lambung yang terjadi lebih lambat selama tidur, yang dapat menyebabkan refluks malam hari melalui peningkatan tekanan intragastrik dan distensi pada fundus lambung (Suputra & Saputra, 2023). Refluks cairan lambung di malam hari telah terbukti berkaitan dengan berbagai komplikasi seperti peradangan esofagus, striktur peptik, ulserasi esofagus, Barrett esofagus, dan bahkan adenokarsinoma esofagus (Suputra & Saputra, 2023).
GERD terjadi akibat ketidakseimbangan antara faktor agresif (asam lambung) dan faktor defensif, termasuk lower esophageal sphincter (LES) dan mekanisme bersihan esofagus (Dwiatama & Darusman, 2022). Kondisi patologis ini ditimbulkan oleh gangguan pada Gastroesophageal Junction (GEJ), mekanisme pembersihan asam esofagus, resistensi jaringan, serta gangguan pada isi lambung (Handayani et al., 2023). Pada kondisi normal, refluks dapat dicegah oleh barrier antirefluks yang dinamakan zona pendukung dari katup penutup gastroesofagus (Surya, 2020). Tingkat keparahan GERD ditentukan oleh durasi paparan esofagus oleh asam lambung serta tingkat keasaman dari isi lambung yang naik ke esofagus (Surya, 2020). Faktor fisiologis lain seperti hernia hiatus, gangguan pada proses pengosongan esofagus, serta penundaan dalam pengosongan isi lambung juga berperan (Surya, 2020).
Pola makan merupakan faktor risiko yang signifikan terhadap kejadian GERD. Penelitian pada mahasiswa kedokteran menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara pola makan dengan terjadinya GERD (p = 0,004), di mana subjek dengan pola makan buruk dan mengalami GERD sebanyak 34,2% (Ajjah et al., 2020). Beberapa makanan dapat menyebabkan atau memperburuk gejala GERD karena dapat menurunkan tekanan LES, meningkatkan sekresi asam lambung, dan memperlambat pengosongan lambung (Ajjah et al., 2020). Ketidakteraturan makan, melewatkan sarapan, dan kebiasaan tidur dalam satu jam setelah makan malam juga berhubungan signifikan dengan GERD (Ajjah et al., 2020). Konsumsi kopi yang mengandung kafein dapat menstimulasi peningkatan sekresi asam lambung dan pepsin serta menurunkan tekanan LES sehingga menginduksi gejala heartburn (Aqila et al., 2022). Kadar asam lambung yang tinggi akibat kafein dapat memicu gastritis yang jika berlangsung lama dapat mengakibatkan luka pada lambung (Umboro et al., 2022).
Kebiasaan terlambat makan dapat menginduksi asam klorida dalam lambung dan menyebabkan pemanjangan durasi sekresi asam klorida (Sakti & Mustika, 2022). Berbaring setelah makan juga berhubungan dengan kejadian GERD karena dapat menyebabkan peningkatan tekanan intraabdomen (Sakti & Mustika, 2022). Makan dalam porsi besar menyebabkan peregangan berlebihan pada dinding lambung sehingga fungsi tonus LES menjadi lemah (Ajjah et al., 2020).
Stres merupakan faktor utama penyebab terjadinya dan kekambuhan GERD (Agustiani et al., 2024). Stres dapat mempengaruhi perubahan fungsi fisiologis sistem pencernaan, di mana stres menurunkan nafsu makan, membuat lambung kosong, dan meningkatkan asam lambung sehingga menimbulkan rasa nyeri pada lambung yang menyebabkan GERD (Syadiyah et al., 2022). Penelitian di Puskesmas Pandan menunjukkan hubungan yang kuat antara tingkat stres dan kejadian GERD (p = 0,00; koefisien kontingensi C = 0,669), dengan 53,3% responden mengalami GERD (Syadiyah et al., 2022). Stres yang berkepanjangan merupakan salah satu pemicu gangguan pencernaan yang dapat mengakibatkan peningkatan produksi asam lambung dan bahkan memicu kebocoran lambung (Umboro et al., 2022).
Obesitas menjadi faktor risiko utama yang dapat memperburuk kondisi GERD, dan peningkatan berat badan dapat memperburuk gejala GERD (Surya, 2020). Gejala GERD lebih banyak dialami oleh orang dengan status gizi overweight(risiko 1,43 kali) dan obesitas (risiko 2 kali) (Sara et al., 2021). Obesitas abdominal dapat meningkatkan risiko gejala refluks yang disebabkan oleh perpindahan perut ke atas dan masuk ke dalam rongga dada atau perkembangan hernia hiatus (Sara et al., 2021).
Beberapa faktor risiko lain yang berhubungan dengan GERD meliputi hipertensi, merokok, jumlah waktu kerja ≥40 jam/minggu, jaga malam, dan faktor psikososial-ekonomi (Sakti & Mustika, 2022). Penelitian pada mahasiswa PPDS menunjukkan bahwa faktor risiko yang paling berpengaruh adalah jumlah waktu kerja ≥40 jam/minggu dengan OR 436,42 (Sakti & Mustika, 2022). Shift malam juga berhubungan signifikan dengan GERD, di mana perawat yang menjalani shift malam memiliki risiko 3,61 kali lebih tinggi mengalami GERD (Handayani et al., 2023). Generasi yang lebih tua memiliki proses pembersihan asam esofagus yang lebih lemah dan mekanisme pertahanan yang berkurang pada mukosa esofagus (Tayibu et al., 2024).
Apabila GERD tidak ditangani dengan baik, dapat menimbulkan berbagai komplikasi serius. Komplikasi yang dapat terjadi meliputi esofagitis, disfagia, striktur peptik, ulserasi esofagus, Barrett esofagus, dan adenokarsinoma esofagus (Suputra & Saputra, 2023; Susanto et al., 2023). Komplikasi esofagitis dan disfagia terjadi pada 3,4–16,4% penduduk Asia Timur dan Tenggara (Susanto et al., 2023). Barrett esofagus merupakan komplikasi jangka panjang yang serius dari GERD kronis (Tayibu et al., 2024). Selain itu, GERD juga merupakan kondisi yang menurunkan kualitas hidup seseorang secara signifikan (Syadiyah et al., 2022).
Proton Pump Inhibitor (PPI)
PPI merupakan golongan obat yang paling umum digunakan untuk pengobatan GERD dan masih dianggap sebagai terapi empiris yang superior dibandingkan terapi lain (Mambo, 2023; Surya, 2020). PPI bekerja dengan menghambat produksi asam lambung (Dwiatama & Darusman, 2022). Jenis PPI yang umum digunakan meliputi lansoprazole, pantoprazole, omeprazole, dan esomeprazole (Prahastutik et al., 2021). Namun, penggunaan PPI jangka panjang berhubungan dengan peningkatan risiko kanker lambung, yang juga berhubungan dengan durasi penggunaan (Mambo, 2023).

Kanker lambung akibat penggunaan PPI jangka panjang juga dapat terjadi pada pasien setelah eradikasi H. pylori dan pada pasien dengan GERD, dengan OR 2,48 (Mambo, 2023). Penggunaan PPI jangka panjang juga meningkatkan risiko infark miokard, gagal ginjal, dan demensia (Prahastutik et al., 2021). Oleh karena itu, penggunaan PPI dianjurkan pada indikasi yang sesuai dengan menggunakan dosis efektif terendah untuk mencapai kontrol pH lambung dan kualitas hidup yang baik (Surya, 2020).
H2 Receptor Antagonist (H2RA)
Selain PPI, obat golongan H2RA juga digunakan dalam pengobatan GERD. H2RA bekerja dengan menghambat produksi asam lambung (Dwiatama & Darusman, 2022).
Antasida
Antasida memiliki mekanisme yang berbeda dari PPI dan H2RA, yaitu dengan menetralkan cairan lambung yang terlalu asam sehingga pH lambung meningkat (Dwiatama & Darusman, 2022). Komponen antasida terdiri dari aluminium hidroksida (Al(OH₃)) dan magnesium hidroksida (Mg(OH₂)) yang bersifat basa, sehingga apabila bertemu dengan kondisi asam, pH lambung akan naik menuju pH netral (Dwiatama & Darusman, 2022). Antasida juga dapat mempercepat pengosongan lambung dan meningkatkan tekanan LES pada penyakit GERD (Dwiatama & Darusman, 2022).
Pengobatan tradisional seperti akupunktur dan herbal Tiongkok secara empiris telah dilaporkan dapat mengobati GERD (Saidi et al., 2023). Kombinasi akupunktur dengan herbal Si Ni San lebih efektif dibandingkan akupunktur saja dalam menurunkan skor GERDQ dan mengurangi gejala GERD, dengan rentang rata-rata perubahan skor GERDQ sebanyak 6,08 (p = 0,001) (Saidi et al., 2023). Terapi akupunktur dapat menghambat sekresi asam lambung, meningkatkan kinetik gastro-enterik, dan bermanfaat pada perbaikan membran esofagus tanpa menimbulkan efek samping (Saidi et al., 2023).
Teknik relaksasi progresif juga terbukti berpengaruh dalam mengurangi nyeri pada pasien GERD. Penelitian di RS Bina Husada menunjukkan penurunan skala nyeri setelah intervensi teknik relaksasi progresif, dari mayoritas skala 4 menjadi skala 3 (Agustiani et al., 2024).
Salah satu pemeriksaan radiologi dalam deteksi GERD adalah Oesophagus Maag Duodenum (OMD) yang berguna untuk mendeteksi gangguan di dalam perut akibat GERD dengan bantuan peralatan radiografi (Susanto et al., 2023). Endoskopi juga digunakan untuk diagnosis lebih lanjut apabila pemberian obat PPI tidak memberikan efek (Jonis, 2021).
Pencegahan GERD dapat dilakukan melalui modifikasi pola makan yang meliputi menjaga keteraturan makan, menghindari melewatkan waktu makan, dan menghindari makan dalam porsi besar (Ajjah et al., 2020). Pengosongan makanan dari lambung memerlukan waktu antara 2–6 jam, sehingga jeda waktu makan yang baik berkisar 4–5 jam (Ajjah et al., 2020; Sakti & Mustika, 2022). Modifikasi diet berupa diet rendah asam (menghindari makanan dengan pH < 5), diet rendah lemak (mengonsumsi lemak 10–25% dari kebutuhan total per hari), dan mengonsumsi minuman alkali dengan pH 8 terbukti memiliki manfaat dalam perbaikan gejala refluks (Aqila et al., 2022). Menghindari konsumsi kopi berlebihan, minuman beralkohol, dan makanan yang meningkatkan produksi asam lambung juga sangat dianjurkan (Aqila et al., 2022; Umboro et al., 2022).
Penurunan berat badan terbukti sebagai salah satu modifikasi gaya hidup yang mampu memperbaiki keluhan GERD (Surya, 2020). Menghindari berbaring setelah makan juga penting karena dapat menyebabkan peningkatan tekanan intraabdomen yang meningkatkan kejadian GERD (Sakti & Mustika, 2022). Pemberian edukasi tentang pencegahan dan penanganan nyeri lambung pada GERD sangat penting, termasuk teknik relaksasi napas dalam yang dapat membantu mengurangi rasa sakit saat terjadi kekambuhan (Waluyo & Solikah, 2023). Penerapan gaya hidup yang sehat disertai pengelolaan stres yang baik dapat memperbaiki keluhan GERD (Suputra & Saputra, 2023; Syadiyah et al., 2022).
Mengingat stres merupakan faktor dominan penyebab kekambuhan GERD (Agustiani et al., 2024), manajemen stres menjadi komponen penting dalam pencegahan. Identifikasi serta analisis psikologis pasien GERD menunjukkan adanya kecemasan, panik saat mengalami gangguan pencernaan, serta depresi akibat penyakit yang diderita (Agustiani et al., 2024). Oleh karena itu, pengelolaan stres melalui teknik relaksasi dan dukungan psikologis sangat dianjurkan.
GERD merupakan penyakit kronis yang prevalensinya terus meningkat secara global dan di Indonesia. Penyakit ini terjadi akibat ketidakseimbangan antara faktor agresif dan defensif pada sistem pencernaan (Dwiatama & Darusman, 2022; Handayani et al., 2023).
Gejala utama berupa heartburn dan regurgitasi, dengan potensi komplikasi serius seperti Barrett esofagus dan adenokarsinoma esofagus (Suputra & Saputra, 2023; Tayibu et al., 2024). Faktor risiko utama meliputi pola makan yang buruk, stres, obesitas, dan gaya hidup tidak sehat (Ajjah et al., 2020; Sakti & Mustika, 2022; Sara et al., 2021; Syadiyah et al., 2022).
Pengobatan utama menggunakan PPI, H2RA, dan antasida, namun penggunaan PPI jangka panjang perlu diwaspadai karena risiko kanker lambung (Dwiatama & Darusman, 2022; Mambo, 2023). Pencegahan melalui modifikasi pola makan, gaya hidup sehat, penurunan berat badan, dan manajemen stres merupakan langkah penting dalam mengurangi kejadian dan kekambuhan GERD (Ajjah et al., 2020; Aqila et al., 2022; Surya, 2020).
References: