Apakah Jus Jambu Biji Merah Terbukti Menaikkan Trombosit Saat DBD?

jus jambu biji trombosit

Setiap kali musim hujan tiba, ancaman penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) selalu mengintai masyarakat di wilayah tropis dan subtropis. Salah satu kekhawatiran terbesar dalam penanganan DBD adalah turunnya kadar trombosit (keping darah) secara drastis—kondisi medis yang dikenal sebagai trombositopenia. Penurunan trombosit ini sangat diwaspadai karena meningkatkan risiko perdarahan internal yang membahayakan nyawa.

Di tengah absennya obat antivirus spesifik untuk melumpuhkan virus dengue, pengobatan suportif berupa terapi cairan dan istirahat menjadi tumpuan utama. Pada saat yang sama, pengobatan rumahan tradisional sangat populer di tengah masyarakat. Di Indonesia, salah satu pengobatan alternatif yang paling sering diandalkan adalah mengonsumsi jus jambu biji merah.

kurva dbd
kurva dbd

Banyak orang tua, kerabat, bahkan beberapa praktisi kesehatan menyarankan pasien DBD untuk meminum jus jambu biji merah dalam jumlah besar demi mendongkrak trombosit yang merosot. Namun, bagaimana sesungguhnya kebenaran klaim ini di bawah lensa penelitian medis berbasis bukti? Apakah khasiat jus jambu biji menaikkan trombosit memang didukung oleh sains, ataukah ini hanya sekadar mitos medis yang telanjur dipercaya luas?

 

1. Memahami Bahaya Trombositopenia Saat Demam Berdarah

Trombositopenia, atau penurunan jumlah trombosit di bawah batas normal 150.000 sel per mikroliter darah, merupakan salah satu manifestasi klinis utama dari infeksi virus dengue. Penurunan trombosit ini terjadi melalui berbagai mekanisme yang sangat kompleks dan saling memengaruhi:

  • Penekanan Sumsum Tulang Belakang: Virus dengue secara langsung menyerang sel-sel progenitor di sumsum tulang, tempat di mana trombosit dan sel darah lainnya diproduksi. Hal ini mengganggu proses pembentukan trombosit.
  • Gangguan Sel Induk (Megakariosit): Virus dengue mengganggu proses pematangan megakariosit (sel raksasa di sumsum tulang yang bertugas melepaskan trombosit ke sirkulasi darah).
  • Destruksi Imunologis: Tubuh menghasilkan antibodi untuk melawan virus dengue, namun antibodi ini secara tidak sengaja menyerang dan menghancurkan trombosit sehat pasien sendiri karena adanya reaksi silang.
  • Toksisitas Virus Langsung: Protein non-struktural virus dengue, khususnya protein NS1, memicu aktivasi reseptor tertentu pada trombosit, menyebabkan trombosit saling menempel (agregasi) dan dihancurkan oleh sel imun.

Dalam kondisi normal, pembentukan trombosit diatur secara ketat oleh hormon Trombopoietin (TPO). Hormon ini berikatan dengan reseptor khusus untuk merangsang sel megakariosit agar matang dan menghasilkan keping darah baru. Selama infeksi dengue, meskipun kadar TPO dalam tubuh biasanya meningkat sebagai respons terhadap penurunan trombosit, kerusakan sumsum tulang yang parah membuat tubuh tetap kesulitan memproduksi trombosit baru dengan cepat.

Kadar trombosit yang terus merosot di bawah 40.000 sel per mikroliter darah sangat berkorelasi dengan hasil klinis yang buruk. Kondisi ini dapat memicu sindrom kebocoran kapiler, yang ditandai dengan penumpukan cairan di rongga perut (asites), penumpukan cairan di paru-paru (efusi pleura), perdarahan gusi, mimisan, hingga syok fatal.

2. Mitos vs Fakta: Perbedaan Besar Buah vs Daun Jambu Biji

Ketika mendengar tentang khasiat jambu biji merah untuk mengatasi demam berdarah, sebagian besar masyarakat langsung berpikir tentang daging buahnya yang manis dan jusnya yang berwarna merah segar. Di sinilah letak kesalahpahaman medis terbesar yang perlu diluruskan.

Sains medis membuat perbedaan yang sangat tegas antara daun jambu biji (Psidii Folium) dan buah jambu biji.

Hampir seluruh penelitian ilmiah pra-klinis maupun klinis yang mengeksplorasi khasiat jambu biji dalam menaikkan kadar trombosit menggunakan sediaan ekstrak daun jambu biji, bukan jus buah jambu biji merah. Mengapa demikian? Karena senyawa bioaktif aktif yang memiliki potensi farmakologis untuk memengaruhi sumsum tulang terpusat di bagian daunnya, bukan di dalam daging buahnya.

Buah jambu biji merah memang buah yang sangat kaya akan nutrisi. Buah ini mengandung vitamin C dalam konsentrasi luar biasa—bahkan hingga lima kali lebih tinggi dibandingkan dengan buah jeruk. Vitamin C yang melimpah ini berfungsi sebagai antioksidan kuat untuk menetralkan radikal bebas dan menyokong daya tahan tubuh secara umum. Namun, vitamin C tidak memiliki mekanisme farmakologis untuk memicu sumsum tulang agar mempercepat produksi trombosit baru atau menghentikan destruksi trombosit oleh sistem imun.

Klaim populer yang menyarankan konsumsi 3 hingga 4 buah jambu biji atau meminum jusnya setiap hari untuk menyembuhkan demam berdarah murni didasarkan pada keyakinan tradisional dan testimoni individual, serta tidak didukung oleh uji klinis acak terkontrol.

3. Apa Kata Penelitian Mengenai Daun Jambu Biji?

Jika jus buah jambu biji tidak terbukti, bagaimana dengan daunnya? Penelitian mengenai potensi daun jambu biji untuk membantu menaikkan trombosit memang ada, tetapi hasilnya masih sangat awal dan terbatas:

Bukti Pra-Klinis pada Hewan Coba

Studi eksperimental yang dilakukan oleh Atik dan rekan-rekan peneliti (2018) menguji efek jus daun jambu biji pada 24 mencit laboratorium yang mengalami trombositopenia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian jus daun jambu biji dengan dosis standar (56 mg/kg berat badan) dapat meningkatkan jumlah megakariosit di sumsum tulang mencit secara signifikan dibandingkan kelompok kontrol.

Namun, penelitian ini juga mencatat keterbatasan penting. Ketika jus daun jambu biji diberikan bersama obat kina (yang memicu trombositopenia), perbedaannya dengan kelompok yang hanya diberi kina tidak signifikan secara statistik. Selain itu, para peneliti mengakui bahwa mekanisme persis bagaimana peningkatan megakariosit ini dapat diterjemahkan menjadi peningkatan kadar trombosit aktif di dalam sirkulasi darah manusia masih belum dipahami sepenuhnya.

Dugaan Mekanisme Farmakologis

Potensi daun jambu biji diyakini berasal dari kandungan flavonoidnya yang tinggi, terutama senyawa bernama kuersetin (quercetin). Kuersetin dilaporkan memiliki kemampuan untuk merangsang produksi zat kimia tubuh seperti Granulocyte-Macrophage Colony-Stimulating Factor(GM-CSF) dan Interleukin-3 (IL-3). Kedua zat ini bertindak sebagai stimulan untuk mempercepat pembelahan dan diferensiasi megakariosit di sumsum tulang.

Selain itu, beberapa penelitian menunjukkan bahwa daun jambu biji kaya akan asam amino penting seperti serin dan treonin, yang digunakan tubuh sebagai bahan baku untuk membentuk hormon Trombopoietin (TPO) alami, yang sangat krusial dalam proses pematangan trombosit.

Penelitian pada Manusia yang Terbatas

Ada pula studi yang dilakukan oleh Yulaeka dan tim (2017) yang mengevaluasi konsumsi ekstrak daun jambu biji pada manusia. Meskipun penelitian kuasi-eksperimental ini melaporkan adanya pengaruh signifikan terhadap kadar profil darah, termasuk peningkatan trombosit, studi ini dilakukan pada sukarelawan remaja putri yang sehat, bukan pada pasien aktif yang sedang menderita Demam Berdarah Dengue. Akibatnya, temuan ini tidak dapat langsung diterapkan begitu saja untuk pengobatan klinis pasien DBD yang sedang mengalami badai peradangan imunologis.

4. Ekstrak Daun Pepaya: Memiliki Bukti Ilmiah yang Jauh Lebih Kuat

Bila dibandingkan dengan daun jambu biji yang buktinya masih sangat terbatas, tanaman herbal lain justru memiliki landasan ilmiah yang jauh lebih kokoh dan diakui secara medis dalam membantu menaikkan trombosit saat DBD. Tanaman tersebut adalah daun pepaya (Carica papaya).

Ekstrak daun pepaya (Carica papaya leaf extract atau CPLE) telah menjadi subjek dari berbagai uji klinis acak terkontrol (Randomized Controlled Trials / RCT) pada manusia dengan hasil yang konsisten:

  • Penelitian Subenthiran dkk. (2013): Melibatkan 228 pasien demam berdarah, di mana separuh kelompok menerima jus daun pepaya segar selama tiga hari berturut-turut. Kelompok yang menerima daun pepaya menunjukkan peningkatan jumlah trombosit yang jauh lebih cepat dan signifikan dibandingkan kelompok kontrol yang hanya menerima terapi standar.
  • Penelitian Yunita dkk.: Uji klinis pada 80 pasien demam berdarah membuktikan bahwa pemberian kapsul ekstrak daun pepaya membuat pemulihan kadar trombosit terjadi secara signifikan lebih cepat.
  • Penelitian Maideen dkk. (2025): Menunjukkan efektivitas sirup kombinasi daun pepaya dalam memperbaiki kadar trombosit pada pasien yang mengalami trombositopenia, mempertegas pengakuan institusional terhadap herba ini.

Mengapa Daun Pepaya Lebih Efektif?

Sains telah berhasil memetakan mekanisme molekuler daun pepaya yang jauh lebih jelas dan terarah dibandingkan jambu biji:

  1. Memicu Produksi Trombosit: Daun pepaya mengandung senyawa aktif utama bernama karpain (carpaine), yang terbukti merangsang aktivitas pembentukan darah di sumsum tulang.
  2. Meningkatkan Ekspresi Gen: Ekstrak daun pepaya meningkatkan ekspresi gen ALOX12 dan PTAFR, yaitu gen-gen kunci yang mengontrol produksi dan pematangan trombosit.
  3. Melawan Virus Dengue: Senyawa flavonoid dalam daun pepaya, seperti rutin dan mirisetin, terbukti secara molekuler mampu mengganggu dan menghambat interaksi antara protein virus dengue (NS1) dengan reseptor sel tubuh (TLR4), sehingga mencegah kerusakan sel lebih lanjut.
  4. Meredakan Badai Sitokin: Daun pepaya membantu menurunkan zat-zat pemicu peradangan yang merusak (seperti TNF-alpha dan IL-6) sekaligus meningkatkan sitokin pelindung tubuh.

Karena bukti ilmiahnya yang solid, Kementerian AYUSH (kementerian yang mengawasi pengobatan tradisional di India) secara resmi merekomendasikan pemberian 10 ml ekstrak daun pepaya dua kali sehari selama tujuh hari sebagai terapi penunjang klinis untuk pasien demam berdarah.

5. Hambatan Bioavailabilitas: Mengapa Jus Buah Tidak Bisa Disamakan dengan Ekstrak

Banyak orang bertanya, “Jika memang jambu biji atau tanaman herbal lainnya memiliki senyawa bermanfaat, mengapa kita tidak bisa meminum jus buahnya saja dalam jumlah banyak?”

Pertanyaan ini dijawab oleh konsep sains medis yang krusial: bioavailabilitas (ketersediaan hayati) dan dosis terapi.

Bioavailabilitas adalah persentase dan kecepatan senyawa aktif obat atau tanaman herbal untuk dapat diserap oleh sistem pencernaan, masuk ke dalam aliran darah, dan akhirnya mencapai organ target (dalam hal ini, sumsum tulang belakang) dalam kondisi utuh untuk memberikan efek terapi.

Senyawa flavonoid seperti kuersetin dalam tanaman memiliki tantangan bioavailabilitas yang sangat besar:

  • Konsentrasi Sangat Rendah: Kadar kuersetin yang larut secara alami ke dalam segelas jus jambu biji merah segar sangatlah kecil, jauh di bawah kadar terapeutik yang dibutuhkan tubuh.
  • Penyerapan yang Buruk: Struktur molekul flavonoid murni sangat sulit diserap oleh dinding usus manusia karena sifatnya yang hidrofobik (tidak menyukai air).
  • Metabolisme Cepat di Hati: Begitu diserap, sebagian besar senyawa ini langsung dihancurkan dan diubah menjadi bentuk yang tidak aktif oleh enzim-enzim di organ hati sebelum sempat mencapai sirkulasi darah sistemik.

Sebagai gambaran, uji klinis yang berhasil menunjukkan efek anti-inflamasi atau modifikasi seluler dari kuersetin biasanya menggunakan suplemen terkonsentrasi dengan dosis minimal 500 miligram hingga 1.000 miligram per hari selama beberapa minggu. Untuk mendapatkan dosis kuersetin setara 500 miligram dari jus jambu biji merah, seorang pasien DBD harus meminum berliter-liter jus setiap harinya.

Hal ini tentu sangat tidak realistis dan berbahaya, mengingat pasien DBD sering kali mengalami gejala mual hebat, muntah, dan nyeri ulu hati. Memaksa lambung menerima cairan manis asam dalam jumlah berlebihan justru dapat memicu muntah berulang yang memperburuk dehidrasi.

6. Efek Pemulihan Alami (Natural Recovery) yang Sering Salah Diartikan

Jika sains menunjukkan jus jambu biji merah tidak secara langsung meningkatkan trombosit, mengapa begitu banyak orang yang bersaksi bahwa trombosit mereka langsung melonjak naik setelah meminum jus tersebut?

Fenomena ini dijelaskan secara medis sebagai efek pemulihan alami (natural recovery) dari siklus penyakit demam berdarah itu sendiri.

Penyakit DBD memiliki perjalanan klinis yang sangat khas dan terbagi menjadi tiga fase utama:

  1. Fase Demam (Febrile Phase): Berlangsung selama 2 hingga 7 hari pertama, di mana pasien mengalami demam sangat tinggi, nyeri sendi, dan penurunan trombosit secara bertahap.
  2. Fase Kritis (Critical Phase): Terjadi sekitar hari ke-3 hingga ke-7, saat demam justru menurun (pasien tampak membaik padahal ini adalah fase paling berbahaya). Di fase ini, risiko kebocoran plasma darah dan penurunan trombosit mencapai titik terendahnya.
  3. Fase Pemulihan (Recovery Phase): Berlangsung setelah melewati fase kritis (biasanya setelah hari ke-7 atau ke-8). Di fase ini, cairan yang bocor akan diserap kembali ke dalam pembuluh darah, dan tubuh secara otomatis memulai pemulihan sumsum tulang.

Pada fase pemulihan, kadar trombosit pasien akan meningkat secara tajam dan alami dengan sendirinya seiring dengan hilangnya virus dari dalam tubuh. Sel darah putih (leukosit) juga akan kembali ke batas normal sebagai tanda sistem imun telah berhasil mengendalikan infeksi.

 

Masalahnya, fase pemulihan alami ini sering kali bertepatan dengan momen di mana keluarga pasien mulai rajin memberikan jus jambu biji merah (misalnya pada hari ke-5 atau ke-6 sakit). Ketika trombosit pasien melonjak naik keesokan harinya, keluarga dan pasien secara keliru menghubungkan kenaikan tersebut sebagai akibat langsung dari konsumsi jus jambu biji merah. Tanpa adanya kelompok pembanding yang tidak meminum jus dalam suatu uji klinis terkontrol, bias atribusi ini terus menyebar dari mulut ke mulut sebagai kebenaran medis semu.

7. Risiko Mengandalkan Pengobatan Rumahan Tanpa Pemantauan Medis

Mengonsumsi jus jambu biji merah sebagai minuman segar pendamping saat sakit sebenarnya sangat aman dan bebas dari efek samping berbahaya, asalkan tidak ditambahkan gula secara berlebihan. Namun, tindakan ini menjadi sangat berbahaya jika pasien atau keluarganya mulai mengandalkan jus jambu biji sebagai “obat utama” dan mengabaikan penanganan medis yang sesungguhnya.

Risiko terbesar dari keterlambatan penanganan DBD meliputi:

  • Keterlambatan Deteksi Fase Kritis: Pasien merasa aman karena sudah meminum jus jambu biji merah, sehingga tidak rutin memeriksakan darah ke laboratorium. Ketika trombosit merosot ke kadar kritis tanpa gejala luar yang jelas, risiko perdarahan hebat tidak terdeteksi.
  • Dehidrasi Berat dan Syok: Kunci utama menyelamatkan nyawa pasien DBD bukanlah menaikkan angka trombosit di atas kertas, melainkan menjaga kecukupan cairan di dalam pembuluh darah melalui terapi cairan (infus) yang terpantau ketat untuk mencegah Dengue Shock Syndrome(DSS). Kegagalan resusitasi cairan akibat terlalu fokus pada terapi jus oral adalah penyebab utama kematian pada kasus DBD berat.
  • Kerusakan Organ Dalam: Infeksi dengue berat yang tidak terpantau dapat menyebabkan gangguan fungsi hati (ditandai dengan lonjakan tajam kadar enzim aminotransferase) dan gangguan fungsi ginjal.

Oleh karena itu, pemeriksaan darah berkala (minimal hematokrit dan trombosit) serta konsultasi dengan dokter tetap menjadi pilar pertahanan utama yang tidak boleh ditawar atau digantikan oleh pengobatan alternatif apa pun.

Pesan dr. Rifan

Jus jambu biji merah adalah minuman bernutrisi tinggi yang sangat baik dikonsumsi selama masa sakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Kandungan Vitamin C yang melimpah dan sifat antioksidannya sangat bermanfaat untuk membantu menjaga daya tahan tubuh, sementara kandungan airnya membantu mencegah dehidrasi. Namun, penting bagi kita semua untuk memahami dengan bijak bahwa jus jambu biji merah bukanlah obat untuk meningkatkan trombosit secara langsung.

Jika Anda atau anggota keluarga Anda terdiagnosis DBD, berikut adalah beberapa langkah bijak yang harus Anda prioritaskan:

  1. Prioritaskan Hidrasi yang Tepat: Berikan cairan yang cukup berupa air putih, cairan elektrolit (oralit), susu, atau jus buah tanpa pemanis berlebih. Fokus utama adalah mencegah dehidrasi, bukan sekadar mengejar angka trombosit.
  2. Pantau Tanda Bahaya (Warning Signs): Segera bawa pasien ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) jika muncul tanda bahaya seperti nyeri perut yang hebat, muntah terus-menerus, perdarahan aktif (gusi, mimisan, muntah hitam, atau BAB hitam), sesak napas, atau pasien tampak sangat lemas dan gelisah.
  3. Lakukan Pemeriksaan Darah Berkala: Pemantauan kadar hematokrit (untuk mendeteksi pengentalan darah akibat kebocoran kapiler) dan kadar trombosit melalui laboratorium secara berkala adalah satu-satunya cara aman untuk memantau perjalanan penyakit.
  4. Gunakan Sediaan Herbal yang Terstandar: Jika Anda ingin menggunakan terapi herbal penunjang yang memiliki bukti ilmiah lebih kuat untuk menaikkan trombosit, Anda dapat mempertimbangkan penggunaan sediaan ekstrak daun pepaya yang telah distandardisasi, setelah berkonsultasi dengan dokter Anda.

Mari kita bangun literasi kesehatan yang cerdas di tengah keluarga kita. Tetaplah rasional, utamakan pemantauan medis profesional, dan jadikan pengobatan rumahan seperti jus jambu biji sebagai pelengkap kenyamanan, bukan pengganti terapi utama yang menyelamatkan nyawa.

Daftar Pustaka

  1. Abdelrahim, L. M., Zain, Z. N., Jalil, S. N. A., Seman, Z. A., Mansur, F. A., & Abdullah, N. S. (2020). The Potential Role of Thrombopoietin and Interleukin-6 in the Thrombocytosis Effect of Carica papaya Leaves. International Journal of Research in Pharmaceutical Sciences, 11(SPL4), 1928–1934. https://doi.org/10.26452/ijrps.v11ispl4.4399
  2. Atik, N., Amrullah, A. H., & Rahmadi, A. R. (2018). Guava leaf juice effect towards number of megakaryocytes in bone marrow of thrombocytopenic mice. Universa Medicina, 37(1), 19–24. https://doi.org/10.18051/univmed.2018.v37.19-24
  3. Dhruve, S. (2024). Formulation & Evaluation of herbal candy for treatment of dengue. International Journal of Scientific Research in Engineering and Management, 08(05), 1–5. https://doi.org/10.55041/ijsrem34920
  4. Fatima, H., Riaz, M., Mahmood, Z., Yousaf, F., & Shahid, M. (2018). Dengue viral infection deteriorates vitamin D 3 , K, thrombopoietin, and angiotensinogen levels in humans. European Journal of Inflammation, 16. https://doi.org/10.1177/2058739218791100
  5. Haward, R., Konjeti, S., Chacko, J., Nadella, J. S., Roja, S. L., & Rayapudi, J. J. (2024). Papaya Leaf Extract Elevates Platelet Levels in Individuals With Dengue Fever. Cureus. https://doi.org/10.7759/cureus.61090
  6. Kalluru, P. K. R., Mamilla, M., Valisekka, S. S., Mandyam, S., Martinez, E. C., Posani, S., Sharma, S., Gopavaram, R. R., Gargi, B., Gaddam, A., & Reddy, S. (2023). Aminotransferases in Relation to the Severity of Dengue: A Systematic Review. Cureus. https://doi.org/10.7759/cureus.39436
  7. Koehler, A., Rao, R., Rothman, Y., Gozal, Y. M., Struve, T., Alschuler, L., & Sengupta, S. (2022). A Case Study Using Papaya Leaf Extract to Reverse Chemotherapy-Induced Thrombocytopenia in a GBM Patient. Integrative Cancer Therapies, 21. https://doi.org/10.1177/15347354211068417
  8. Maideen, N. M. P., Balasubramanian, R., Shanmugam, A., Gobinath, M., & Hussain, M H. J. (2025). A Review of Potentials of Carica Papaya Leaves in Dengue Viral Infection – Insights of Clinical and Preclinical Studies. Drug Research, 75(02), 49–59. https://doi.org/10.1055/a-2509-8644
  9. Rasool, F. K., Rasool, A. K., Meraj, L., & Bashir, F. (2022). ULTRASOUND AS AN AID TO DIAGNOSIS IN DENGUE. Journal of Rawalpindi Medical College, 27(1). https://doi.org/10.37939/jrmc.v27i1.2148
  10. Sailor, G., Hirani, K., Parmar, G., Maheshwari, R., Singh, R., & Seth, A. K. (2021). Platelet Augmentation Potential of Polyherbal Formulation in Cyclophosphamide-Induced Thrombocytopenia in Wistar Rats. Folia Medica, 63(1), 67–73. https://doi.org/10.3897/folmed.63.e49167
  11. Setianingsih, S., Nurani, L. H., & Rohman, A. (2018). Effect of the ethanolic extract of red roselle calyx (Hibiscus sabdariffa L.) on hematocrit, platelets, and erythrocytes in healthy volunteers. Pharmaciana, 8(2), 266. https://doi.org/10.12928/pharmaciana.v8i2.8738
  12. Sharma, A., Sharma, R., Sharma, M., Kumar, M., Barbhai, M. D., Lorenzo, J. M., Sharma, S., Samota, M. K., Atanassova, M., Caruso, G., Naushad, Mo., Chandran, D., Prakash, P., Hasan, M., Rais, N., Dey, A., Mahato, D. K., Dhumal, S., Singh, S., … Mekhemar, M. (2022). Carica papaya L. Leaves: Deciphering Its Antioxidant Bioactives, Biological Activities, Innovative Products, and Safety Aspects. Oxidative Medicine and Cellular Longevity, 2022(1). https://doi.org/10.1155/2022/2451733
  13. Siddique, N. (2021). Prevention and treatment of thrombocytopenia in dengue patients: A narrative review. Istanbul Journal of Pharmacy, 51(3), 411–418. https://doi.org/10.26650/istanbuljpharm.2021.854023
  14. Srivastava, R., Jaiswal, N., Kharkwal, H., Dubey, N. K., & Srivastava, R. (2025). Phytomedical Properties of Carica papaya for Boosting Human Immunity Against Viral Infections. Viruses, 17(2), 271. https://doi.org/10.3390/v17020271
  15. Yulaeka, Y., Suwondo, A., Suherni, T., Hadisaputro, S., & Anwar, M. (2017). EFFECT OF CONSUMING GUAVA LEAVES (PSIDII FOLIUM) EXTRACT ON THE LEVEL OF BLOOD PROFILE IN TEENAGE GIRLS AT VOCATIONAL HIGH SCHOOL OF PALEBON SEMARANG, INDONESIA. Belitung Nursing Journal, 3(5), 548–554. https://doi.org/10.33546/bnj.200

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terkait

Lahir di Aek Kanopan, Labuhanbatu Utara, Sumatera Utara, 29 Oktober 1992. Menyelesaikan pendidikan dasar dan menengahnya di kota kelahiran lalu menyelesaikan pendidikan tingginya pada Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. dr. Rifan mendapatkan medali Emas pada Olimpiade Kedokteran Regional Sumatera Pertama untuk cabang Kardiovaskular-Respirologi dan menghantarkan dirinya menjadi Peringkat 1 Mahasiswa Berprestasi Universitas Syiah Kuala pada tahun 2013. Pada tahun 2014, ia mendapatkan penghargaan Peringkat 1 Mahasiswa Kedokteran Berprestasi Se-Sumatera dari ISMKI Wilayah I. Di tahun 2019, dr. Rifan mendapatkan penghargaan peserta terbaik 1 dalam Latihan Dasar CPNS Angkatan 3 Tahun 2019 di LPMP Sumatera Utara. dr. Rifan juga mendapat penghargaan peserta terbaik 1 dalam Pelatihan Kepemimpinan Administrator (PKA) Angkatan 4 tahun 2024 di PPSDM Kemendagri Regional Bukittinggi. Proyek Aksi Perubahan Kinerja Organisasi dr. Rifan pada PKA tersebut yang berjudul Departemen Pengalaman Pasien RSUD Aek Kanopan (DEPAN RS) juga mendapat peringkat 1 Lomba Inovasi OPD Tingkat Kabupaten Labuhanbatu Utara Tahun 2025. dr. Rifan terpilih untuk mengikuti pelatihan Reformers Academy Batch 2 dari Lembaga Administrasi Negara dan KTM Solusions. Selain itu, dr. Rifan juga aktif menulis artikel kedokteran dan kesehatan baik pada situs pribadi drrifan.id dan beberapa situs lainnya. Di samping itu beliau juga sedang mengembangkan beberapa pelatihan yaitu Pelatihan Teknik Belajar dan Public Speaking untuk Pelayanan Kesehatan Prima (Public Speaking for Healthcare Service Excellent).