Apa yang pertama kali terpikirkan ketika kita mendengar kata “Jam”?. Banyak dari kita pasti akan
membayangkan bentuknya. Pernahkah kita bertanya bagaimana jam dapat bekerja mengukur waktu dengan tepat?. Atau bahkan pernahkah kita mengetahui ternyata terdapat jam yang lebih canggih dari pada jam apapun pada masa kini?. Jam tersebut adalah irama sirkardian.
Sadar atau tidak tubuh kita tunduk terhadap perubahan-perubahan fungsi organ (fisiologis) seiring dengan perubahan waktu. Penelitian-penelitian yang telah dilakukan merangkum perubahan-perubahan tersebut sebagai berikut:

Bahkan terdapat perubahan lengkap fisiologis tubuh seperti yang diperlihatkan pada gambar berikut:
Kemudian timbul pertanyaan, bagaimana tubuh kita mengetahui bahwa waktu yang dijalaninya siang atau malam?
Hipotamalamus merupakan salah satu bagian pada otak tengah kita. Organ ini bekerja seolah-olah dirinya merupakan jam biologis yang mengatur ritme kerja organ-organ tubuh lainnya.

Hipotalamus sangat sensitif terhadap rangsangan cahaya. Cahaya matahari yang masuk melalui mata pada siang hari akan diteruskan oleh saraf mata hingga ke hipotalamus. Ketika hal tersebut berlangsung hipotalamus akan menekan fungsi hipotalamus dan memaksa kelenjar pineal untuk mengurangi laju produksi hormon melatonin. Jika kadar hormon melatonin sedikit maka kita akan tetap terjaga, tidak akan muncul rasa kantuk.

Begitu pula sebaliknya, ketika malam hari tiba, intensitas cahaya yang masuk ke mata akan berkurang. Hal ini akan meningkatkan produksi melatonin. Ketika melatonin dalam tubuh meningkat maka akan muncul rasa kantuk. Tubuh kita akan memberikan dorongan yang kuat untuk segera mengakhiri aktivitas dan beranjak tidur (istirahat). Begitulah jam biologis kita memonitor dan mendeteksi pergantian waktu dengan bantuan dari hipotalamus.
Orang-orang yang begadang hingga pagi hari dan tidur hingga waktu Ashar akan mengakibatkan perubahan pada jam biologis mereka sebesar 180 derajat. Ketika irama sirkardian ini kacau maka ritme tidur kita juga akan kacau dan bahkan dapat terganggu secara keseluruhan. Pada sebagian orang hal ini akan menyebabkan insomnia. Insomnia terjadi karena adanya cacat atau gangguan pada jam biologis.
Gangguan irama sirkardian ini juga terjadi pada orang-orang yang melakukan perjalanan panjang. Perjalanan dari satu negara menuju negara lain dengan perbedaan waktu yang besar, misalnya dari Jakarta menuju New York. Akibatnya, mereka akan merasakan insomnia, keletihan dan gangguan siklus tidur. Hal ini disebut sebagai Jet Lag.

Rasulullah SAW bersabda, “Tidurlah sesaat (pada siang hari), karena setan tidak akan pernah tidur.”
Ilmu pengetahuan modern telah membuktikan bahwa tidur sesaat pada siang hari sangat bermanfaat untuk menambah produktivitas dan stamina seseorang. Penelitian Psikologi pada tahun 2002 menyatakan bahwa tidur siang hari selama 10-40 menit dapat mengistirahatkan tubuh dan mengurangi stress. Selain itu, juga dapat menambah konsentrasi dan kemampuan berpikir. Akan tetapi, tidur pada siang hari lebih dari 40 menit akan meningkat peluang terjadinya insomnia pada seseorang.
Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Escalante ini menyimpulkan bahwa tidur berlebihan pada siang hari tidak dianjurkan karena dapat mempengaruhi pola tidur normal.
Allah SWT berfirman, “dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat,dan Kami jadikan malam sebagai pakaian,dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan…” (Q.S An-Naba’:9-11).
Sumber: