Siapakah Pembully Berseragam?

Saat seseorang mendengar kata “bullying”, yang terbayang biasanya adalah tindakan mengejek, mengucilkan, atau kekerasan fisik di sekolah dasar dan menengah. Jarang sekali orang langsung memikirkan ruang guru, ruang rapat, puskesmas, loket pelayanan publik, atau bahkan ruang jaga rumah sakit. Padahal, di sanalah satu bentuk lain yang jauh lebih halus dan berbahaya sering bersembunyi: bullying.

Ilustrasi bullying profesional
Ilustrasi bullying profesional

Pembully Berseragam

Bullying profesional bukan sekadar bentakan atau makian terang-terangan. Ia jauh lebih rapi, lebih sopan, lebih “bisa dibenarkan”. Di sekolah, bentuknya bisa berupa guru senior yang meremehkan ide guru muda di depan murid, kepala sekolah yang mengabaikan prestasi guru tertentu karena dianggap tidak “satu kubu”, atau budaya menyindir kolega di grup WhatsApp sekolah.

Ilustrasi Pembully berseragam
Ilustrasi Pembully berseragam

Di pelayanan publik, bentuknya bisa berupa atasan yang terus-menerus mempermalukan staf di depan pasien, rekan kerja yang sengaja menghambat akses informasi, atau membiarkan gosip menjadi senjata untuk menjatuhkan seseorang.

 

Korban mungkin tidak dipukul, tetapi wibawanya dihancurkan pelan-pelan. Nama baiknya dicemari, kepercayaan dirinya dikikis, dan pada akhirnya ia hadir bekerja dengan tubuh yang utuh namun jiwa yang luka.

Di lingkungan pendidikan, ini sangat berbahaya. Bagaimana mungkin kita berharap siswa belajar saling menghargai, jika guru di antara sesama guru tidak saling menghormati? Bagaimana mungkin murid diajak bicara tentang empati, sementara di ruang guru, cemoohan dianggap humor, dan mengucilkan kolega dianggap “bumbu dinamika organisasi”?

Ketika Kekuasaan Menjadi Senjata

Bullying profesional hampir selalu punya satu bahan bakar utama: ketimpangan kekuasaan. Di sekolah, ini bisa berupa hubungan kepala sekolah–guru, guru senior–guru junior, bahkan wali kelas–guru honorer.

Di pelayanan publik lain, relasinya bisa antara pejabat struktural–staf pelaksana, dokter senior–dokter muda, atau pegawai tetap–tenaga kontrak.

Ada beberapa pola yang sering muncul:
1. Mempermalukan di depan publik
Teguran bisa dilakukan empat mata. Namun, pelaku bullying sengaja memilih forum besar: rapat, grup WhatsApp, bahkan media sosial. Tujuannya bukan memperbaiki kinerja, tapi menunjukkan siapa yang berkuasa dan siapa yang “boleh dipermalukan”.

2. Mengabaikan kontribusi dan menutup akses
Ide-ide tidak didengar, usulan dipotong sebelum selesai, prestasi tidak diakui. Pelaku mungkin berkata, “Ini hanya soal prioritas,” tapi pola berulangnya jelas: orang yang sama selalu “tidak dilihat”.

3. Pendelegasian kerja yang tidak adil
Korban dibebani tugas yang tidak wajar, tanpa dukungan yang cukup, lalu disalahkan ketika hasilnya tidak sempurna. Sementara itu, kolega lain dilindungi dari beban yang sama.

4. Stigmatisasi dan pelabelan
Korban diberi label: “susah diatur”, “kurang loyal”, “tidak pandai bergaul”, “terlalu idealis”. Lama-lama, orang mempercayai label lebih dari fakta. Label menjadi pembenar untuk memperlakukan seseorang secara tidak adil.

Yang mengerikan, semua ini sering dibungkus kalimat manis: “Ini demi kebaikan bersama”, “Ini pembinaan”, “Ini bagian dari proses”. Padahal, yang sedang terjadi bukan pembinaan, melainkan pembunuhan karakter yang sistematis.

Dampaknya: Lebih dari Sekadar Sakit Hati

Sebagai tenaga kesehatan, sering terlihat bagaimana stres kronis dan tekanan psikologis itu menempel di tubuh. Sakit kepala yang tidak jelas sebabnya, maag yang kambuh terus-menerus, nyeri otot yang tak kunjung reda, gangguan tidur, mudah lelah, sampai penurunan konsentrasi.

Semua ini bukan barang baru. Bullying profesional oleh Pembully berseragam ini menambah satu lapisan beban yang tidak terlihat. Guru atau petugas layanan publik mungkin tetap datang tepat waktu, tetap mengajar, tetap melayani, tetapi:
• Ia mulai kehilangan semangat memperbaiki diri.
• Ia menghindari inovasi karena takut salah sedikit saja akan dijadikan bahan serangan.
• Ia mulai menarik diri, hanya melakukan hal yang “wajib minimum” agar selamat secara administratif.

Pada titik tertentu, mereka tidak lagi bekerja dari panggilan hati, tetapi dari mekanisme bertahan hidup. Di sekolah, ini artinya murid kehilangan figur guru yang bisa menjadi teladan kejujuran, keberanian, dan kasih sayang. Di pelayanan publik, masyarakat kehilangan petugas yang bisa melayani dengan empati.

Lebih jauh, bullying profesional juga memperkuat budaya diam. Rekan kerja yang sebenarnya tahu ada yang salah memilih berbisik di belakang, bukan bersuara di depan. Mereka takut suatu hari nasib yang sama menimpa mereka. Maka, pelaku terus mendapatkan ruang, korban terus terpojok, dan organisasi perlahan membusuk dari dalam.

Ketika Kompeten Justru Menjadi Ancaman

Ada satu pola menarik: tidak jarang orang yang menjadi korban bullying profesional justru adalah mereka yang kompeten, berprestasi, atau berani bicara. Mereka mungkin punya cara baru yang berbeda dari kebiasaan lama. Mereka mungkin mengajukan pertanyaan kritis. Mereka mungkin menolak praktik yang tidak etis. Dalam sistem yang sehat, orang-orang seperti ini menjadi motor perubahan. Dalam sistem yang rapuh, mereka dianggap ancaman.

Alih-alih berdialog, sebagian orang memilih cara yang lebih mudah: mengkerdilkan orangnya, agar idenya ikut mati. Di sinilah bullying profesional oleh Pembully Berseragam menjadi alat politik kecil-kecilan di sekolah maupun instansi publik. Yang dipertahankan bukan lagi mutu pendidikan atau kualitas layanan, melainkan kenyamanan zona kekuasaan.

Jika dibiarkan, sekolah dan lembaga pelayanan publik berubah menjadi arena “survival of the loudest”. Siapa yang suaranya paling keras, jaringannya paling luas, dan akses ke kekuasaan paling kuat, dialah yang menang. Bukan siapa yang paling amanah dan paling kompeten.

Peran Pemimpin: Menentukan Iklim, Bukan Sekadar Program

Banyak institusi sibuk membuat program: seminar anti-bullying, pelatihan komunikasi, atau slogan-slogan indah di dinding. Semua itu baik. Tetapi, budaya tidak diubah oleh slogan, melainkan oleh keberpihakan nyata pemimpin.

Di sekolah, kepala sekolah bukan hanya penandatangan SK. Ia adalah penentu iklim. Ketika ada guru yang dipermalukan di depan umum, apakah ia diam saja?  Ketika ada gosip yang jelas merusak nama orang, apakah ia memilih netral atau meluruskan?

Demikian pula di pelayanan publik. Ketika atasan membiarkan bawahan saling menjatuhkan, ketika evaluasi kinerja lebih sarat like–dislike daripada indikator objektif, maka pesan yang dikirim ke seluruh organisasi sangat jelas: “Yang penting jangan bermasalah dengan orang berkuasa. Urusan etika dan martabat nomor sekian.”

 

Pemimpin yang ingin membasmi bullying profesional harus berani melakukan tiga hal sederhana namun sulit:
1. Menghentikan praktik mempermalukan di ruang publik
Teguran tetap boleh, bahkan wajib. Tetapi selalu bisa dilakukan empat mata, dengan fokus pada perilaku, bukan penghinaan martabat.

2. Meluruskan informasi yang tidak adil
Ketika gosip mulai dipakai untuk menghakimi, pemimpin harus jadi orang pertama yang bertanya: “Apa datanya? Sudah dikonfirmasi langsung belum?” Diam berarti memberi izin.

3. Memberi ruang aman untuk melapor
Korban bullying profesional sering tidak tahu ke mana harus bicara. Mekanisme pengaduan yang jelas, yang tidak berujung pada “balik disalahkan”, adalah syarat minimum organisasi sehat.

Dari Mana Harus Memulai?

Mungkin kita tidak bisa langsung mengubah satu sistem besar dalam semalam. Namun, ada beberapa langkah kecil yang bisa dimulai dari diri sendiri, baik sebagai guru, tenaga kesehatan, aparatur, maupun pemimpin:
• Menjaga cara menegur
Bedakan antara menegur demi perbaikan dan mempermalukan demi pelampiasan emosi. Kalimat yang sama, di ruang yang berbeda, bisa memiliki dampak yang sangat berbeda.

• Tidak ikut tertawa ketika ada orang dijadikan bahan olok-olok
Tawa kita adalah legitimasi. Diam kadang lebih bermartabat daripada ikut mengamini penghinaan yang dibungkus humor.

• Berani mengakui kontribusi orang lain
Mengucapkan “terima kasih” bukan membuat wibawa kita turun. Justru sebaliknya, menunjukkan bahwa kita cukup kuat untuk tidak merasa terancam oleh kebaikan dan kemampuan orang lain.

• Mengajak bicara korban secara manusiawi
Terkadang, yang dibutuhkan korban hanyalah ada satu orang yang berkata, “Aku tahu ini tidak adil, dan kamu tidak sendirian.” Kalimat itu mungkin tidak menyelesaikan sistem, tetapi bisa menyelamatkan seseorang dari keputusasaan.

Pesan dr. Rifan

Sering kali, kata “profesional” dipersempit menjadi: terampil, produktif, tepat waktu, kerja rapi. Padahal, profesional juga berarti mampu menjaga martabat orang lain, sekalipun kita tidak menyukai ide atau kepribadiannya.

Sekolah dan institusi pelayanan publik seharusnya menjadi ruang pembelajaran, baik bagi murid maupun bagi para dewasa yang bekerja di dalamnya. Jika di sana justru berkembang bullying profesional yang halus namun mematikan, maka kita sedang mengirim pesan berbahaya kepada generasi berikutnya: bahwa kekerasan bisa diterima selama dibungkus sopan santun dan jabatan.

Mungkin sudah saatnya kita mengubah standar. Bukan hanya bertanya, “Seberapa tinggi jabatanmu?” atau “Seberapa banyak prestasimu?”, tetapi juga, “Seberapa aman orang lain berada di sekitarmu?”
Sebab, ukuran tertinggi suatu profesi bukan hanya pada kemampuan bekerja di bawah tekanan, tetapi juga pada kemampuan tidak menambah luka pada orang yang bekerja bersama kita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tulisan Terkait