Pernahkah Anda mendengar kalimat, “Kamu depresi itu karena kurang salat dan kurang iman”? Anggapan ini sangat melekat di masyarakat kita. Sayangnya, stigma ini kerap memperburuk kondisi mereka yang sedang berjuang dengan masalah psikologis. Isu ini dibahas dengan sangat menarik dalam sebuah video di kanal YouTube Pandji Pragiwaksono, di mana ia berdiskusi hangat dengan seorang ustaz mengenai pandangan Islam terhadap mental health.

Sebagai seorang dokter, melihat titik temu antara ilmu kedokteran modern, khususnya psikiatri dan psikologi, dengan ajaran agama selalu menjadi hal yang memikat. Melalui artikel di drrifan.id kali ini, kita akan mengupas tuntas bagaimana sebenarnya Islam memandang kesehatan mental, jauh melampaui sekadar ritual ibadah semata.
Banyak orang secara keliru memisahkan ranah penyakit: sakit fisik adalah urusan dokter, sementara sakit mental murni urusan spiritual (ulama). Padahal, dalam diskusi tersebut, terdapat satu pernyataan yang sangat membuka mata:
Jika ada seseorang yang curhat sedang mengalami kelelahan mental (mental fatigue) atau depresi, lalu orang di sekitarnya hanya menyuruhnya perbanyak salat tanpa melihat akar masalah medisnya, maka orang yang menyuruh itulah yang sebenarnya kurang memahami kesehatan mental.
Agama Islam tidak pernah menyepelekan masalah psikologis. Nabi Muhammad SAW sendiri memberikan contoh nyata tentang bagaimana menangani kesedihan, yakni melalui pendampingan emosional (presence), bukan sekadar memberikan ceramah agama.
Dalam sejarah Islam, dikisahkan ada seorang anak kecil bernama Abu Umair yang terus-menerus murung karena burung peliharaannya mati. Rasulullah SAW tidak datang lalu menghakiminya dengan berkata, “Begitu saja sedih, perbanyak ibadah biar tidak memikirkan dunia.”
Sebaliknya, beliau datang, duduk di sebelahnya, dan menanyakan kabarnya: “Wahai Abu Umair, apa yang sedang dilakukan burungmu?” Beliau memvalidasi kesedihan anak tersebut dan mengajaknya bercerita. Ini adalah teknik dasar counseling: menyediakan telinga untuk mendengar dan menemani, tanpa buru-buru menjejali dengan nasihat teologis yang belum tentu bisa dicerna oleh pikiran yang sedang kalut.
Jauh sebelum panduan diagnosis psikiatri modern diterbitkan di era 1800-an, seorang ilmuwan muslim bernama Abu Zaid Al-Balkhi pada tahun 800–900 Masehi telah memelopori ilmu kesehatan mental. Beliau membagi sumber masalah psikologis menjadi tiga kategori yang secara menakjubkan sejalan dengan ilmu kedokteran masa kini:
Biologis (Hormonal & Fisik): Masalah mental akibat ketidakseimbangan zat di dalam tubuh (seperti postpartum depression). Jika ini penyebabnya, pasien tidak bisa disembuhkan hanya dengan diajak mengobrol. Mereka butuh intervensi fisik dan obat-obatan.
Psikologis (Cara Pandang): Masalah yang bersumber dari kognitif atau cara seseorang merespons suatu tragedi (misalnya duka akibat kehilangan). Penanganannya adalah dengan talk therapy (konseling).
Sosial (Lingkungan): Luka mental yang disebabkan oleh lingkungan yang toxic atau omongan menyakitkan dari orang lain.
Pembagian ini membuktikan bahwa pergi ke psikiater untuk mendapatkan obat atau ke psikolog untuk sesi konseling merupakan langkah yang sangat sejalan dengan sejarah dan keilmuan Islam.
Peradaban Islam juga mencatat penggunaan rumah sakit jiwa yang sangat modern pada masanya (sekitar abad ke-16 di Turki). Alih-alih merukiyah pasien secara membabi buta, mereka menggunakan metode terapi yang kini justru sangat populer di dunia medis modern:
Terapi Suara & Musik: Menggunakan suara gemercik air atau frekuensi musik tertentu yang disesuaikan dengan kondisi mental pasien.
Aromaterapi: Memanfaatkan minyak atsiri (essential oil) murni, seperti lavender untuk pasien yang sulit tidur, atau bergamot untuk meredakan kecemasan dan kemarahan.
Nutrisi: Istri Rasulullah, Aisyah RA, sering meracik Talbina (sejenis bubur gandum) untuk Rasulullah dan para sahabat yang sedang berduka. Secara medis, makanan kaya nutrisi ini memang terbukti dapat meringankan beban mental dan memicu hormon kebahagiaan.
Rasulullah SAW pernah didatangi oleh seorang sahabat yang bertanya, “Ya Rasulullah, apakah kalau kami sakit, kami harus berobat ke dokter?” Beliau menjawab dengan tegas, “Tadawu (berobatlah). Karena Allah tidak menurunkan penyakit kecuali menurunkan pula obatnya.”
Hal ini berlaku untuk semua jenis penyakit. Misalnya, jika ada pasien yang tiba-tiba berteriak-teriak, meronta, atau linglung, pendekatan medis modern (seperti dokter spesialis bedah saraf) mungkin akan memindai otaknya dan menemukan adanya tumor. Jika pasien tersebut hanya dirukiyah berkali-kali tanpa penegakan diagnosis medis yang tepat, tentu akibatnya bisa sangat fatal.
Kesehatan mental bukanlah tanda lemahnya iman seseorang. Mengakui bahwa kita membutuhkan bantuan psikolog atau psikiater adalah bentuk ikhtiar ilmiah yang sangat dianjurkan. Mari bersama-sama menghentikan stigma bahwa depresi dan gangguan kecemasan cukup diselesaikan di atas sajadah, karena Tuhan juga menciptakan ilmu kedokteran untuk menolong hamba-Nya.
Semoga ulasan ini bermanfaat untuk Anda. Jangan pernah ragu untuk mencari pertolongan medis dan profesional jika Anda merasa membutuhkannya.