Kamu membuka mata setelah tidur selama beberapa jam. Kamu bisa merasakan pikiranmu melayang-layang antara sadar dan tidak sadar. Sambil berusaha mengumpulkan kesadaranmu, kamu mencoba untuk bangun. Namun, ada sesuatu yang tidak beres. Tubuhmu tidak bisa bergerak, nafasmu sesak, seakan-akan ada makhluk tidak terlihat yang menginjak dadamu. Tertindih setan, begitulah masyarakat mengenal kondisi ini. Kamu membuka mulutmu dan hendak berteriak, tidak ada suara yang keluar. Seseorang sedang mencekik leherku, pikirmu. Ada sesuatu yang tidak beres. Dalam dunia kedokteran dan kesehatan kondisi tersebut disebut sebagai Sleep Paralysis.


Ketika kita tidur, 80 menit pertama, kita memasuki kondisi Non Rem, lalu diikuti 10 menit REM. Siklus 90 menit ini berulang sekitar 3 sampai 6 kali semalam. Selama Non REM, tubuh kita menghasilkan beberapa gerakan minor dan mata kita bergerak-gerak kecil. Oleh sebab itu, potensi seseorang mengalami tertindih setan sangat mungkin terjadi.
Dengan kata lain, langkah sederhana menghindari kondisi ini adalah dengan menerapkan gaya hidup sehat. Namun, bagian terpenting dari semuanya adalah: jika kita terlanjur mengalami kondisi tertindih setan, tidak perlu takut, karena fenomena ini hanya berlangsung sesaat dan akan segera berlalu.
Kemudian bila seseorang terlalu sering mengalami kondisi ini, apakah kondisi ini dapat diobati?
Tidak perlu pergi ke dukun untuk mengatasi masalah ini bila kita terlalu sering mengalaminya. Sebab hingga saat ini belum ada pengobatan spesifik untuk kondisi ini.
Meskipun, ilmu pengetahuan terkait tidur telah menemukan bukti penyebab kondisi tertindih setan ini, tetapi pengobatan ketika seseorang secara aktif mengalami kelumpuhan pasca bangun tidur belum tersedia.
Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah kondisi ini adalah mengelola faktor psikologis dan fisik yang mendasari yang memicu episode ketindihan.
Karena ada korelasi kuat antara kelumpuhan tidur dan masalah tidur lainnya, meningkatkan kualitas tidur adalah fokus utama untuk membantu mencegah kelumpuhan tidur.
Kualitas dan kebersihan tidur mengacu pada kebiasaan dan rutinitas sehari-hari seseorang yang mempengaruhi kualitas tidur.
Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas dan kebersihan tidur antara lain:
Tidak ada penelitian yang menunjukkan konsekuensi jangka panjang pada kesehatan seseorang yang mengalami kelumpuhan tidur.
Sementara faktor risiko yang mendasari dapat berkontribusi pada masalah yang berhubungan dengan kesehatan di kemudian hari, misalnya, kecemasan menimbulkan risiko hipertensi; tidak ada asosiasi independen yang dilaporkan.
Episode kelumpuhan tidur dilaporkan datang dalam ‘gelombang’, dan prognosisnya baik jika pemicunya dikelola secara efektif dalam banyak kasus.